Gara-gara baca blogpost seseorang, saya jadi kepancing nulis menye-menye semacam curhatan juga. Padahal udah berusaha tutup mulut sekuatnya.
Kalau ada yang masih inget, kurang lebih dua minggu yang lalu, saya ngetwit tentang keinginan –dan kerinduan– untuk saling berkirim surat lagi. Surat beneran, yang ditulis tangan di atas selembar kertas, dengan perangko di bagian kanan atas amplopnya. Gak nyangka, beberapa temen twitter ngasih respon yang menyenangkan dengan berjanji akan mengirim surat ke alamat rumah saya.
Dan beberapa hari yang lalu, datang surat pertama. Dari seorang kawan yang saya kenal di Obrolan Langsat. Perempuan cantik, wartawan sebuah majalah wanita, yang juga punya kemampuan istimewa: membaca kartu tarot.
Surat yang saya terima dengan hati berbunga-bunga, dan gak bohong, rasanya deg-degan. Seperti ciuman pertama. Ahay!
Saya kutip sebagian isi surat mbak Indah yang cukup panjang ya..
Aku selalu percaya bahwa apa pun yang terjadi dalam hidup kita sudah dipetakan, termasuk pertemuan. Saat diundang ke Langsat, aku tau ada yang akan terjadi, entah apa. Aku juga percaya, tarotku memilih mereka yang ingin dibacanya. Mereka yang perlu menerima pesan.
Maka, ketika banyak yang minta dibaca, malam itu toh terseleksi juga siapa dari sekian banyak teman yang benar-benar membutuhkan jawaban.
Saat simbok jadi orang yang kubaca, aku sama sekali gak tau sedikit pun tentang mbok, karena kita baru ketemu saat itu. Dan seperti biasa, aku memang hanya jadi pembaca, pendengar. Kalau kemudian hal ajaib itu terjadi, aku sendiri, walau beberapa kali mengalami, agak kaget, karena baru kali itu begitu. Kenapa aku sampai sesesak itu, aku juga nggak ngerti. Tapi aku bahagia merasakan dan menerimanya. Awalnya sempat khawatir sendiri, tapi akhirnya kuterima saja sampai akhirnya bubrah di tengah-tengah kita baca kartu. Nggak tau, saat itu aku merasa dekat sekali sama simbok. Seperti satu, seperti menjadi, dan dadaku sakit sekali.
Sepanjang pengalamanku, itu yang paling aneh. Dan ketika kulihat simbok tetap tegak, diam, aku tahu, aku sedang ‘dipinjam’ untuk mengeluarkan beban batin yang simbok simpan dalam-dalam. Dan untuk itu, aku mau bilang terima kasih. Terima kasih karena percaya aku, dan mbok berkenan melepaskan semua beban itu. Sebab gelas yang penuh, nggak akan bisa menampung isi tanpa ada yang terbuang. Senang sekali dengan apa yang kita alami malam itu…
Membaca surat ini, saya berkali-kali nangis dan ketawa dan nangis lagi. Masih sangat lekat semua kejadian malam itu, perasaan ganjil seolah-olah sedang ditelanjangi habis-habisan. Masih terbayang jelas raut cantik mbak Indah, danau bening yang tumpah ketika kami berpelukan lama. Dia menangis, saya tidak. Saya bahkan masih ingat, tubuh saya bereaksi aneh, antara menolak kuat-kuat sekaligus ingin berpasrah, karena bagaimana pun saya tahu, mbak Indah telah masuk begitu jauh dan melihat apa yang saya ingin sembunyikan, nyaris utuh.
Hari berikutnya setelah surat itu datang, saya menulis surat balasan untuknya. Berlembar-lembar, tanpa bisa ditahan, saya ceritakan padanya tentang, antara lain, lelaki dari masa depan yang kami ‘lihat’ kedatangannya malam itu lewat setumpuk kartu. I am telling her my life. In black and white, in colors, every detail of it.
Satu saat, barangkali saya juga akan bercerita pada semua orang. Tidak sekarang.



kok saya jadi merinding bacanya yha mbok
Lagi2 speechless…. *peluk si Mbok nggak lepas2*
Gw ada disana, ketika keajaiban itu terjadi…speechless, mbrebes mili lagi baca ini..
*hugs*
Indah, nuna… I’m blessed to have you both as my friend
[...] This post was mentioned on Twitter by Indah Ariani, Venus. Venus said: new on vtm: http://venus-to-mars.com/2011/01/22/surat-yang-bercerita/ cc @indahariani [...]
*peluk simbok*
dan saya beruntung, pernah bertemu simbok, perempuan kuat ini. dan semoga kita masih bisa bertemu lagi, nanti
Ah… Jadi pengen surat2an juga. Sudah lamaaa sekali sepertinya saya tidak berkirim surat. Pengen kirim surat ke Simbok tapi aku gak tau alamatnya.
walopun belum pernah ketemu simbok dan baru2 ini baca blog nya, aku sudah nge fans dan kagum sama simbok. *menghamba* hehehehe,, pingin blajar banyak dari simbok
hihihi mbok saya terharu 2x bacanya
mbok, surat-suratan yuuuk
etapi kantor pos di sini, entah ada dimana -___-”
Menulis menya-menye, adalah fakta adanya ritme dalam kehidupan seseorang dimana ada bukit menanjak dan lembah yang menurun.. life is never flat (however, when you are in Kuwait.. indeed most of places here are flat!).
Touching base over traditional letters and stamps are indeed providing you a new heights of personal relations and surely, you’d be surprised when having the response back of the recipient…
Anyhow, hugs from Kuwait – more letters are coming to you now..
merinding juga bacanya…
Jadi serem ah kalau di ramal…..
Tapi tentu senang mendapatkan kiriman surat yang ditulis tangan…terharu baca suratnya, berarti penulisnya punya hubungan batin yang erat, padahal baru ketemu kan?