
Tak ada yang mustahil jika keinginan kita memang sedemikian kuat. Saya yang selalu percaya akan kekuatan mimpi, suatu hari dipaksa tercenung mendengar kata-kata seorang kawan. Katanya, “bermimpilah, tapi jangan lupa memberikan kaki pada mimpimu.”
Saya mencoba mengerti arti kalimatnya. Sepenuhnya paham, bahwa maksudnya tentu saja baik. Agar ketika mimpi kita tetap tinggal sebagai mimpi, atau lebih buruk, mimpi yang telanjur digantungkan tinggi-tinggi harus terjun bebas dari langit dan patah berserakan karena kita lalai memberinya sepasang kaki, kita tetap mampu tersenyum.
Saya mengerti. Hanya menolak mengamini. Buat saya, mimpi inilah yang membuat saya tidak berhenti belajar dan melakukan yang terbaik yang saya bisa. Meraih yang terbaik yang sanggup saya raih. Tebak untuk apa, atau tepatnya untuk siapa?
Betul sekali: untuk anak-anak saya. Semua kerja keras, segala lelah, saya lakukan untuk mereka berdua, lelaki-lelaki kecil saya. Pujian singkat yang diucapkan sambil lalu seperti, “keren ih!” ketika mereka selesai membaca sesuatu –saya masih sering lupa bahwa mereka juga membaca blog dan tulisan-tulisan saya di tempat lain– selalu membuat saya beku selama beberapa detik, sebelum ‘kembali ke dunia nyata’ dan mengatakan terima kasih.
Ya. Memang hanya cinta seperti ini yang membuat seorang ibu bersedia melakukan apa saja. Untuk mereka, saya ingin memberikan apa pun yang layak mereka dapatkan. Nonton pertunjukan musik, nonton final AFF sebentar lagi, jalan-jalan ke tempat yang belum pernah mereka kunjungi.
Ah, lihat. Sekali lagi saya lupa memberikan kaki pada mimpi-mimpi saya. Saya tak ingin. Biar saja. Mereka akan tetap di sana, saya titipkan jauh di langit tertinggi. Dan saya akan meraihnya nanti suatu hari.
Pasti.
Selamat Hari Ibu untuk semua perempuan Indonesia.
**ilustrasi: precil-precil, salah satu dari mereka.
Kalo saya sering bilang ‘nyinden’, itu artinya bukan beneran nyinden. Artinya adalah ngajar, ngasi tutorial, atau apalah namanya yang sejenis itu.
Nah, minggu kemarin saya mendapat kehormatan untuk nyinden di kampus Politeknik Informatika Del, jauh di timur Sumatera sana. Tepatnya, kampus yang sangat keren itu berada di Laguboti, Toba Samosir, kurang lebih enam jam perjalanan dari Medan.
Heh? Enam jam, jalan darat? Iya, jalan darat. Sebenarnya ada pesawat kecil yang terbang ke sana, sehari satu kali. Tapi karena jadwalnya gak memungkinkan, maka jadilah saya, Putra (nyindennya tandem sama dia), dan beberapa tamu lain dari Batam, UI, Sampoerna Foundation, rame-rame naik mobil rock ‘n roll dari Medan ke Laguboti. Capek, seru, seneng. Dan begitu masuk area kampus Del, saya terkagum-kagum. Gak nyangka, di daerah yang jauh dari mana-mana gitu ada kampus sebagus dan sekeren itu. Semakin bertambah kekaguman saya saat Bu Inge, direktur Del yang ramah, menjelaskan dengan singkat profile kampusnya.

Proses kenalan dan ngobrol-ngobrol selesai, kami semua diantar ke kamar masing-masing. Saya mulai panik, karena –bodohnya– saya berangkat ke sana tanpa persiapan apa-apa. Belum bikin materi dan slide buat presentasi, dan saya menyalahkan si Putra untuk ini. Susah sekali ngatur waktu ketemu dan diskusi via messenger sama dia. Jadi kemudian kami berdua sepakat, ‘ah udahlah, gampang itu. Slide kita bikin di sana aja, malemnya. Gampang…’
Gampang yang ternyata gak gampang, karena selain badan udah capek dan bawaannya pengen cepet-cepet tidur, koneksi internet ternyata juga sedang bermasalah. Sampai jam 2 malem, saya cuma duduk dengan pikiran kosong di depan laptop tanpa menghasilkan apa-apa. Padahal udah jam segitu. Padahal besok seminarnya jam 10 pagi, dan tentu saja kami sudah harus siap sebelum sesi nyinden dimulai. Padahal…aduuuuhhh beneran panik, apalagi melihat Putra yang duduk di sebelah saya sepertinya lancar sekali bikin slide. Semakin terintimidasi dan pengen nangis rasanya.
Belum lagi waktu secara gak sengaja liat flyer yang ditempel di dekat situ. Judul acaranya “Seminar Nasional dan Workshop Informasi Teknologi”, dengan lima orang keynote speaker. Salah duanya, terselip nama Putra Nasution dan saya. Berasa alien dan salah tempat, karena pembicara-pembicara yang lain adalah para pakar dengan segala gelar yang nempel di nama-nama mereka. Sekali lagi, saya menyalahkan Putra, yang membuat saya datang dan terperangkap di tengah para geek kelas berat ini.
But the show must go on. Entah bagaimana caranya –barangkali ini yang disebut dengan ilmu kepepet– materi presentasi saya akhirnya jadi juga esok paginya. Dibela-belain tidur kurang dari dua jam. Karena kalau gak, matilah saya karena malu, ya kan?
Blablabla, sesi ngoceh tentang ‘Blog untuk Pendidikan’ akhirnya berjalan lancar. Satu pertanyaan dari salah satu peserta membuat saya gemas. Dan pertanyaan ini adalah yang paling sering saya dengar. “Gimana caranya supaya blog saya cepat mendatangkan uang?”
Jawaban saya selalu sama. “Maaf, saya tidak tahu, karena saya ngeblog ya untuk ngeblog. Kalau sekarang saya dapet kerjaan karena hobi nulis di blog, itu prosesnya alami aja. Saya ngeblog, berteman dengan banyak orang lewat blog dan social media, kemudian ketemu lingkaran pertemanan yang tepat. Gak pernah sengaja diniatin cari uang lewat blog.”
Bicara tentang blog dan uang, saya dapet pelajaran bagus dari Dita. “Sharing sesuatu itu passion. Aku gak mau jadiin blogku mesin uang. Ngajar dan ngajarin orang lain, itu juga passion.” Dan di perjalanan kembali ke Medan –masih jalur darat dengan sopir yang cara nyetirnya cadas membuat saya pusing terhempas-hempas–, saya ngobrol sama Putra. Topik yang udah pernah kami bahas beberapa kali sambil tertawa-tawa.

“Dengan jadwal seperti ini, sesibuk dan seribet ini sampe bingung sendiri bagi-bagi waktu, harusnya kita udah kaya, ya?”
“Betul, betul…”
Obrolan absurd yang kemudian membuat kami berdua mikir, membahas ini sampai makin absurd, dan akhirnya sampai di kesimpulan akhir yang manis.
“No. Ini bukan tentang uang. Gak selalu semuanya tentang uang. Lagian, tanpa menjadi kaya, toh kita dapet banyak banget privilege dari kegiatan ngeblog ini ya? Kenal dengan orang-orang hebat di bidangnya, diundang ke sana kemari dan dapet tempat VIP pula, dapet pengalaman, pekerjaan, dan kesempatan-kesempatan langka yang gak semua orang punya keberuntungan semacam itu…”
Ah, si kawan yang absurd..
Dan kawan itu saya omelin habis-habisan karena GAK NGASITAU bahwa danau cantik yang ada persis di depan pintu kamar saya di kampus Del adalah Danau Toba. Hiks..kirain itu danau kecil yang kebetulan ada di dalam area kampus.
Saya juga diomelin karena ketidaktahuan saya. “Emang mbok liat itu danau ada tepinya? Ada tepinya, gak? Gak ada, kan? Gede banget, kan?!! Ya itu danau Toba, mboooooook…”
Sebel.
Belakangan, hidup dan hari-hari saya terasa semakin penuh. Begitu banyak yang ingin saya ceritakan, sampai seringkali bingung mana yang harus ditulis lebih dulu. Terlalu banyak yang harus disyukuri, dicatat, dan diabadikan.
Ah, jadi inget. Saya belum bayar utang tulisan buat temen-temen di komunitas Blogger Peduli, belum sempat menulis tentang perjalanan ke Medan, tentang konser religi Iwan Fals minggu lalu di Leuwinanggung. Banyak sekali yang rasanya memang wajib dibagi. Bahkan kalau semua yang saya dapat dan saya alami ini, buat orang lain hanya cerita biasa, setidaknya biarlah ia menjadi catatan istimewa buat saya.
Saya mulai dari suatu malam *halah* tanggal 4 Desember saja…

Yang secara becandaan sering saya bilang ‘tiket jatah preman’, itu benar adanya. Serius. Berkeliaran dan bekerja di lingkungan saya sekarang –jangan bosen kalo saya keseringan bilang social media– memberi banyak sekali kesempatan untuk datang ke event-event keren. Ada saja cara mendapatkan tiket atau undangan gratis, bahkan sebelum kita minta. Kadang undangan VIP dari artist management yang nilai rupiahnya bikin cegukan karena mahal buat dompet saya, tiba-tiba datang dan terpaksa ditolak karena saya sudah ada janji di tempat lain. Aduh, masih nyesel kalo inget konser KLa Project kapan hari…
Dan ceritanya, saya juga dapet tiket gratis jatah preman ke acara Arthur’s Day yang disponsori Guinness tanggal 4 Desember 2010. Sudah terlanjur beli 2 tiket, dan ternyata pada hari H saya dapet beberapa tiket gratisan. Jadilah yang beberapa itu dibagi-bagi ke temen-temen yang bisa dateng.

Saya suka Lifehouse sejak lama. Menyimpan lengkap puluhan lagu mereka di iPod, setiap hari tanpa absen selalu mendengarkan banyak lagu yang wajib didengar (karena memang gak semua lagunya saya sukai). Tapi mimpi pun enggak, kalau suatu hari saya akan bisa nonton mereka perform, live, di atas panggung. Dan itulah yang terjadi malam itu; a dream comes true. Nonton bareng temen-temen, ngobrol seru sambil nunggu Lifehouse main jam 11 malem (soalnya gak begitu tertarik nonton band-band pembukanya), dan teriak-teriak bareng dua ribuan penonton lain sampai lewat tengah malam.
Belum habis senengnya, pagi-pagi saya disapa seorang kawan di Twitter. “Having fun last nite, mbok? How about this: Matthew has a signed t-shirt for you.” Oh my God! Beneran lhoh, saya dapet kaos yang ditandatangani Jason Wade dan kawan-kawan! Bayangin betapa terkaget-kagetnya saya…
Kaos warna hitam itu saya simpan baik-baik, terlipat rapi di lemari.