Leuwinanggung, Desember 2010.

Saya berhutang tulisan ini pada beberapa orang kawan. Salah satunya adalah kepada mbak Kresnowati, yang telah berbaik hati mengundang kami (baca: orang-orang Langsat) untuk nonton konser Perjalanan Religi Iwan Fals, di kediaman Iwan Fals, Leuwinanggung. Buat yang belum tahu, mbak Kresnowati ini dulunya adalah artist manager Iwan Fals. Sekarang, katanya, dia bantuin hanya kalo lagi bisa dan sempat.

Desember 2010, tanggal 17 sore, rame-rame kami berangkat dari Langsat. Langit yang tadinya ramah, tidak ada sedikit pun tanda-tanda akan turun hujan, mendadak gelap saat rombongan memasuki tol Jagorawi. Dan semakin mendekati lokasi, hujan makin gila. Wah, gak santai ini hujannya. Mobil harus berjalan ekstra hati-hati, karena jalanan sempit dan menjadi licin. Apalagi makin deket ke sana, makin banyak ketemu rombongan OI yang sedang berjalan kaki menuju tempat yang sama.

Dan benarlah apa yang saya kuatirkan. Bukannya reda, nyampe sana hujannya makin gede. Payung yang cuma satu pun dipake gantian sampai kami semua masuk ke area panggung. Saya gak keberatan hujan-hujanan demi nonton Iwan Fals. Cuma agak kuatir karena saya bawa precil-precil. Takutnya mereka kenapa-kenapa, karena beneran hujannya gak mau berhenti.

Berbasah-basahan meski udah payungan, bersama ratusan penonton lain, kami semua bagai terhipnotis menyaksikan sang maestro membawakan karya-karya legendarisnya di atas panggung. Sebagian besar lagu, entah kenapa, seperti memiliki sesuatu yang sangat kuat. Terlalu kuat, yang tanpa bisa ditolak, memaksa semua orang lebur dan seperti merasakan apa yang tertulis di setiap katanya. Berada di sana sore itu, saya bagaikan terseret ke dalam pusaran romantisme aneh yang sulit dijelaskan.

Kami sengaja pulang beberapa saat sebelum pertunjukan berakhir. Dan saya hanya bisa sakit hati membaca status update mbak Kresno di twitter, mengabarkan bahwa lagu terakhir yang dibawakan Iwan Fals adalah salah satu lagu yang melekat di benak hampir semua orang. Yang Terlupakan.

denting piano kala jemari menari
nada merambat pelan
di kesunyian malam saat datang rintik hujan
bersama sebuah bayang
yang pernah terlupakan…

Terima kasih undangannya, mbak Kresno. Sore yang basah di bulan Desember ini, akan jadi salah satu yang sampai kapan pun akan terekam lekat di ingatan.