2010: From a Rearview Mirror

rearview mirror: A mirror, such as one attached to a motor vehicle, that provides a view of what is behind.

Menulis artikel tutup tahun, buat sebagian besar dari kita, adalah kegiatan rutin nyaris basa basi. Semacam kegiatan massal yang seru, karena biasanya dilakukan serempak: di minggu terakhir bulan Desember.

Ah, Desember. Saya selalu merasakan nglangut dan mellow yang aneh setiap kali Desember tiba. Ada ‘rasa Natal’ yang damai sekaligus riuh berpita-pita. Ada sendu yang syahdu, seakan-akan kita sedang meninggalkan sesuatu, dan bergegas menuju ke sesuatu yang baru. Hujan juga selalu tumpah sedemikian rupa sepanjang bulan ini. Perempuan penuh drama dan pecinta hujan seperti saya, pasti suka dengan efek dramatis yang lebih mudah tercipta bersama turunnya hujan.

Saat menuliskan ini, saya merasa berada di belakang kemudi, di dalam sebuah mobil yang tengah melaju tenang. Dan dengan perasaan campur aduk, lewat kaca spion, saya pandangi rekaman momen-momen penting selama dua belas bulan yang sudah saya lalui. Semua peristiwa, tempat, wajah-wajah yang pernah singgah begitu dekat, untuk kemudian menghilang. Semuanya.

Begitu cepat sang waktu terbang. Terlalu cepat. Tak satu pun saya sesali, karena semua hal yang pernah menjadi begitu penting, semua ingatan dan jejak yang terekam, kini hanya tersisa serupa bayang-bayang samar. Pedih, indah, manis, luka. Semuanya akan tetap tersimpan di dalam kotak besar kenangan.

Ada beberapa hal penting tentang tahun 2010 yang ingin saya bagi di sini.

1. Menggunakan skala 0-10, saya berikan nilai 9+ untuk tahun ini. Kenapa? Karena yang saya alami, jauh melampaui apa yang berani saya bayangkan. Betul, beberapa mimpi belum bisa saya raih. Belum kesampaian punya novel sendiri. Belum disiplin nabung padahal punya financial planner yang rajin nguber-nguber saya untuk belajar investasi dan nabung. Belum ini, belum itu. Tapi overall, saya berani kasih angka 9+ untuk kenekatan memulai semuanya, dari titik nol. Untuk keberanian mengambil langkah besar yang kini mengubah hidup saya, seratus delapan puluh derajat.

Terlalu optimis dan sombong? Rasanya tidak. Kesombongan itu mutlak saya butuhkan, karena saya tak bisa hidup sebagai manusia yang pesimis, bingung, tidak tahu apa yang saya mau. Saya pernah merasakan yang terburuk, pernah mengalami yang paling pahit, dan tak ingin mengalaminya lagi.

2. Bicara tentang pencapaian, yang terbesar barangkali adalah ketika saya mendapat banyak pengalaman baru. Menulis di media-media lain selain blog sendiri, mengajar dan menjadi pembicara tentang blog dan social media di berbagai kesempatan, kenal dan bertemu dengan banyak orang. Bertemu Miss McHale, salah satu staff Hillary Clinton yang datang ke Indonesia untuk mengenal komunitas-komunitas online yang melakukan social movement di sini. Seminggu kemudian, bersama beberapa rekan blogger yang lain, diundang ke diskusi bersama Alex J Ross, Senior Advisor dari Hillary Clinton.

Oh, pada kesempatan diskusi informal dengan Miss McHale, saya mewakili komunitas Blogger Peduli. Komunitas lama yang sempat mati suri, tapi kemudian hidup lagi setelah bencana Merapi, Wasior, dan Mentawai. Dengan lima orang yang tersisa –dari awalnya ratusan– kami merasa berkewajiban melanjutkan kegiatan sosial ini. Bergantian, kami berlima (Mas Bagus Prakoso, Epat, Caplang, Nonadita, dan saya sendiri) semampunya melakukan apa pun yang kami bisa di sela-sela kesibukan pekerjaan kami masing-masing.

Pada saat undangan yang bikin grogi itu datang, kebetulan teman-teman yang lain sedang berhalangan. Maka jadilah saya, dengan modal nekat dan kemampuan bahasa Inggris yang pas-pasan, datang ke kediaman wakil Dubes Amerika Serikat untuk berbincang selama dua jam dengan mereka. Menunjukkan bahwa di Indonesia, seperti inilah kami memanfaatkan social media untuk membantu saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah. Praktis hanya berlima, tanpa digaji oleh siapa pun, hanya mengandalkan blog dan twitter, kami bekerja dua puluh empat jam sehari, bergantian. Reaksi mereka? Terkesima sekaligus bingung.

3. Pelajaran terpenting tahun ini. Saya semakin sadar bahwa memang benar, semua hal di dunia ini ada masa kadaluarsanya. Jatuh cinta, patah hati, jatuh cinta lagi, tangis, tawa, sedih, bahagia. Mendapatkan sesuatu, kehilangan sesuatu. Tak ada satu pun yang abadi. Saya belajar menyikapi segala hal dengan seperlunya saja. Tak ada rasa sakit yang tak bisa kita atasi. Tak ada kebahagiaan yang selamanya akan kita nikmati.

4. Rencana dan tujuan untuk tahun depan. Hmm, apa ya? Standar saja lah. Saya akan tetap mengejar mimpi-mimpi, berharap semuanya menjadi lebih baik, mensyukuri semua yang bisa atau gagal saya raih. Standar.

Ada keinginan untuk memulai pekerjaan di tempat baru, belajar hal-hal baru, mungkin belajar bahasa Mandarin dan Itali. Tapi biarlah semua berjalan natural. Saya percaya, Tuhan punya skenario maha indah untuk semua makhlukNya, jika kita percaya. Hanya jika kita percaya.

Selamat tahun baru 2011. Mari kepakkan sayap, lalu terbang lebih tinggi.

Kita Sekali Lagi

Secangkir earl grey tea. Sahabat-sahabat terdekat. Percakapan konyol dan kacau balau. Asap rokok. Lalu lalang manusia-manusia yang tak kukenal. She’s mine yang puluhan kali kuputar ulang.

Lalu seperti janjimu, kamu datang.

Taukah kamu? Jakarta malam hari tak pernah seindah ini. Dan ciuman selamat malam yang kau lakukan di depan begitu banyak orang…

Bukan salahku jika lantas kugamit lenganmu, memeluk dan menciummu sekali lagi. Ciuman ringan, tak terburu-buru, yang membuat berpasang-pasang mata menatap kita tersenyum-senyum, sebagian memalingkan wajah, tersipu.

Biarkan saja. Biarkan mereka cemburu.

Iwan Fals di Tengah Hujan

Leuwinanggung, Desember 2010.

Saya berhutang tulisan ini pada beberapa orang kawan. Salah satunya adalah kepada mbak Kresnowati, yang telah berbaik hati mengundang kami (baca: orang-orang Langsat) untuk nonton konser Perjalanan Religi Iwan Fals, di kediaman Iwan Fals, Leuwinanggung. Buat yang belum tahu, mbak Kresnowati ini dulunya adalah artist manager Iwan Fals. Sekarang, katanya, dia bantuin hanya kalo lagi bisa dan sempat.

Desember 2010, tanggal 17 sore, rame-rame kami berangkat dari Langsat. Langit yang tadinya ramah, tidak ada sedikit pun tanda-tanda akan turun hujan, mendadak gelap saat rombongan memasuki tol Jagorawi. Dan semakin mendekati lokasi, hujan makin gila. Wah, gak santai ini hujannya. Mobil harus berjalan ekstra hati-hati, karena jalanan sempit dan menjadi licin. Apalagi makin deket ke sana, makin banyak ketemu rombongan OI yang sedang berjalan kaki menuju tempat yang sama.

Dan benarlah apa yang saya kuatirkan. Bukannya reda, nyampe sana hujannya makin gede. Payung yang cuma satu pun dipake gantian sampai kami semua masuk ke area panggung. Saya gak keberatan hujan-hujanan demi nonton Iwan Fals. Cuma agak kuatir karena saya bawa precil-precil. Takutnya mereka kenapa-kenapa, karena beneran hujannya gak mau berhenti.

Berbasah-basahan meski udah payungan, bersama ratusan penonton lain, kami semua bagai terhipnotis menyaksikan sang maestro membawakan karya-karya legendarisnya di atas panggung. Sebagian besar lagu, entah kenapa, seperti memiliki sesuatu yang sangat kuat. Terlalu kuat, yang tanpa bisa ditolak, memaksa semua orang lebur dan seperti merasakan apa yang tertulis di setiap katanya. Berada di sana sore itu, saya bagaikan terseret ke dalam pusaran romantisme aneh yang sulit dijelaskan.

Kami sengaja pulang beberapa saat sebelum pertunjukan berakhir. Dan saya hanya bisa sakit hati membaca status update mbak Kresno di twitter, mengabarkan bahwa lagu terakhir yang dibawakan Iwan Fals adalah salah satu lagu yang melekat di benak hampir semua orang. Yang Terlupakan.

denting piano kala jemari menari
nada merambat pelan
di kesunyian malam saat datang rintik hujan
bersama sebuah bayang
yang pernah terlupakan…

Terima kasih undangannya, mbak Kresno. Sore yang basah di bulan Desember ini, akan jadi salah satu yang sampai kapan pun akan terekam lekat di ingatan.