Iya, akhirnya jadi juga saya ke Bali. Bukan sesuatu yang terlalu istimewa, karena saya pernah tinggal dan bekerja di sana, belasan tahun yang silam. Yang tertinggal di ingatan, saya tidak terlalu suka tinggal di pulau ini. Bali is apparently not for everybody. Not for me.

Bali.

Dua malam yang singkat, karena sesungguhnya saya ingin tinggal sedikit lebih lama. Rencana awal, saya ingin pergi ke tempat-tempat yang sepi, jauh dari peradaban. Menulis, atau sekadar menghabiskan waktu dengan bermalas-malasan. Bermalas-malasannya dapet, tapi karena beberapa hal, terpaksa saya menginap di sebuah hotel yang tidak terlalu jauh dari pusat keramaian.

Gak pa-pa. Perjalanan solo kali ini bisa dibilang menyenangkan. Masih sempat menulis, meski tidak seheboh yang saya bayangkan. Dan dua malam yang saya lewati di sana lumayan seru. Menikmati debur ombak malam-malam. Jalan kaki tanpa tujuan di seputar Kuta Square. Mampir ke sebuah bar & resto yang band-nya menyajikan musik-musik tahun 90-an.

Pertanyaan dari seorang kawan: have you found what you were looking for?

Sepertinya iya. Saya pergi untuk menyembuhkan diri sendiri. Semacam menata hati dan hidup dari titik nol, sekali lagi. Menuntaskan segala hutang dan beban yang menggelayuti pikiran. Menemukan, bahwa setiap orang memang berhak atas sesuatu bernama kebahagiaan.

I regret nothing. I just had to go to Bali, and I went.