Tadinya saya ragu-ragu menerima undangan istimewa ini. Tanggal 10 November pagi, seharusnya saya terbang ke Bali untuk sebuah perjalanan singkat. Saya menamainya perjalanan bagi jiwa, karena saya sedang ingin sejenak pergi, menikmati hening di suatu tempat yang sepi dan jauh dari riuh peradaban duniawi.
Tiket sudah di tangan, kamar hotel sudah lama dipesan, dan mendadak seorang kawan di US embassy menelepon, meminta kesediaan saya untuk datang dan hadir di public speech Obama tanggal 10 November, di kampus Universitas Indonesia di Depok.
Antara merasa sangat tersanjung dan ragu-ragu, saya minta waktu untuk berpikir dan menimbang-nimbang. Bukan apa-apa. Saya tau, Obama dipuja hampir seluruh umat manusia dan siapalah saya, mimpi pun tidak untuk berada di satu ruangan dengan beliau. Tapi perjalanan ke Bali ini pun buat saya penting sekali artinya. Hati saya sudah berada di sana jauh sebelum tanggal yang tertera di tiket pesawat.
Malam-malam, karena bingung harus minta pendapat siapa lagi setelah siangnya precil-precil saya nyengir lebar dengan ekspresi bangga dan girang mendengar tentang undangan ini, saya menyapa om Ayah Air di Yahoo Messenger. Saya tahu saya harus datang, cuma memang, ada saat-saat saya merasa perlu diyakinkan sekali lagi sebelum melakukan suatu hal penting. Om Ayah Air bilang, “dateng, mbok. liburan bisa digeser-geser dikit, uang bisa dicari lagi, tapi ketemu Obama adalah perjalanan spiritual yang mungkin tidak akan pernah terulang lagi.”
Dan Bali memang ternyata harus menunggu karena ia bisa menunggu. Saya bisa ke sana kapan saja. Obama tidak. Om Ayah Air benar. Dan demi Tuhan saya pasti menyesal kalau kemarin saya menolak datang. Beberapa kawan bahkan sampai memohon-mohon dan mati-matian berusaha mendapat tiket masuk ke Balairung UI, tempat acara ini diselenggarakan, betapa sombongnya kalau saya menolak kehormatan yang seperti jatuh dari langit tanpa diminta.
Dan kemarin, sebelum subuh saya bela-belain berangkat dari rumah supaya gak ketinggalan bus yang mengangkut para undangan ke lokasi acara. Sisa kantuk yang saya tahan-tahan karena memang belum tidur dari malam sebelumnya langsung hilang begitu nyampe sana.
Kampus UI pagi itu penuh wajah dingin manusia-manusia tinggi besar (saya duga mereka adalah Secret Service dan ternyata memang iya). Scanning dan pengamanan area bahkan sudah dimulai sebelum bus masuk ke gerbang kampus, dan masing-masing kami digeledah satu-satu, ah pokoknya serem, haha..
Setelah beberapa lama menunggu, sebuah suara terdengar memenuhi Balairung yang penuh orang.
“Ladies and gentlemen, The President of The United States of America: Barrack Obama!”
Ruangan berdengung dengan gemuruh histeris. Dengan sangat gaya, Obama menuju podium sambil melambai-lambaikan tangan. Sayangnya jaringan komunikasi putus total. Bocoran yang saya terima, “ini atas permintaan dari VVIP.” Ya sudahlah, saya menyerah dan berhenti melaporkan langsung lewat Twitter. Saya hanya berbalas bbm dan sms dengan beberapa teman yang minta saya livetweet dari sana.
“Ga bisa livetweet, XL di-jammed.”
“Yaaah pdhl dari tadi mantau. Posisinya enak ndak, mbok?”
“Di bangku VIP. The best seats. Even pak BJ Habibie dan politikus2 yg tiap hari kita liat di tivi, all those beautiful people, duduknya di belakang kita”
Dan histerislah si Titutismail, memborbardir saya dengan sms-sms panjang lebar.
Seorang teman baik hanya menjawab pendek dengan nada iri, “congrats” waktu saya dengan noraknya mengirim sms, “he’s here!! OMG he’s here!!”. “I shook his hand!! I shook Obama’s hand!! AAAAAAAAAAAA…”
Benarlah sudah, ini memang perjalanan spiritual yang jauh lebih penting artinya dari ratusan ribu rupiah yang harus saya bayar ke maskapai penerbangan gara-gara dua kali mengubah jadwal. Saya bukan pemuja atau pun pembenci Obama, tapi bagaimana mungkin saya melewatkan undangan seindah ini?
Dari mbak Desi Anwar yang kebetulan duduk di sebelah saya, saya tau bahwa ternyata lima baris kursi yang kami tempati, yang cuma berisi beberapa puluh orang, ini memang deretan yang paling istimewa. The hot seats. Isinya adalah undangan khusus yang katanya berasal dari tiga golongan; alumnas (alumni/mereka yang pernah kuliah di Amerika), friends of the US embassy, dan media. Entahlah, tapi rasanya sih, saya ada di dua kelompok terakhir.
Ah, ceritanya cukup segitu aja. Nanti dikira sombong. Terima kasih.



heee, terusin aja mbok critanyaa. sombong dikit gpp kok :lol:
wah, duduknya didepan vip >.< kerennnn!!!
btw pertamax gak ya
Whoa, simbok tempatnya lebih terhormat dari para politisi
Salut !
*sirik tapi ikut seneng*
simbok sombonggg!!
dan aku iri seiri2nya!
*jongkok di pojokan siapa tahu dapet undangan kayak simbok*
mbak2 selamat yah.. senang banget tentunya…
oh iya, yg hitam2 di depannya obama sebelah kanan dan kirinya apa ya?
lha? spriritualnya dimana? *garuk2*
e sbentar, kalo secret service-nya keliatan, lalu apanya yg secret? hehe
wiih..aura spiritualnya berasa dari ceritanya simbok..
selamat ya mbok..
Ga bisa ketemu doi! Huh!
Yowes, nanti diriku saja yang nyamperin ke White House sana
lanjut dwunk, Mbok….
huaaaaaaah, sirik2 bergembira nih mbok

Setidaknya dalam hidup tertoreh : saya pernah bertemu Obama
Menyenangkan ya… ngiri juga Mbok.. kalau di sini Obama ngga pernah kuliah umum..
simbok, ayo menyombong dikit lagi yaaaaaa
ikeplak:
wow…jadi waktu pegang tangan obama gimana rasanya mbok?

wuiiii senenge reeek….
Mbo tangane obama alus ga mbok?
Iya, mbok, aku nyesal se-nyesal-nyesalnya gak bisa datang, padahal tiket sudah diambilkan. Dan aku iri se-iri-irinya kepada kalian yang bisa ada disana
*ngejongkrok di pojokan sambil tersedu-sedan*
Pertama aku tangkap sangat menyeramkan, tapi ternyata ….
Bagus juga nih postingnya, sangat menarik.
Nice PostiNg…
congrats mbok…
*dengusan iri-dengki ke simbok*
hehehe….