Balada Penulis Abal-abal

Jadi begini rasanya.

Beberapa minggu yang lalu, ketika tulisan tentang telepon umum dimuat di detikinet, dan beberapa pembaca berkomentar miring, saya sempet ngedrop dan kehilangan rasa percaya diri. Terbiasa mendengar dan menerima respon menyenangkan di blog sendiri –dan tentu saja di ngerumpi– membuat saya terkaget-kaget. Bayangkan rasanya membaca komentar gak enak seperti, ‘wah jangan-jangan mbak ini juga perokok ya? Ih amit-amit.’ Atau ‘ini maunya ngasi opini berbeda tapi jadinya kok kampungan gini ya? Baru punya hape ya mbak? Baru belajar ngrokok?’

OH ASTAGA BETAPA JAHATNYA…

Kemarin, sekali lagi saya gemas dan pengen ngomel-ngomel waktu artikel Paman Tyo juga direspon negatif. Dibilang ‘apaan sih ne artikel? kok judul ma isi ga nyambung, dst dst…’

Lah, gak nyambungnya di mana, saya juga gak paham. Dan maaf beribu maaf, itu Paman Tyo gitu loh. Lucu juga membayangkan, ini si penulis komentar pastilah gak tau siapa paman tyo, atau bagaimana semua orang hormat nyaris memuja beliau dan kepintarannya. 

Belakangan saya berusaha berpikir positif. Menulis di tempat yang dibaca oleh pembaca sebanyak itu, tentu kita tak bisa berharap akan bisa menyenangkan semua orang. Seorang kawan, penulis handal yang artikel-artikelnya dimuat rutin di sebuah media berbahasa Inggris di Jakarta, menjawab kegemasan saya. “Resiko, Ven. Tulisan yang dipublish dan dibaca oleh publik, pasti mengundang respon publik yang…well, publik.”

Yup. Makes a lot of sense. I think that was just my ego talking. Lain kali mungkin saya harus belajar menulikan telinga. Tetep nulis apa pun yang ingin ditulis, karena kalau sibuk mikirin apakah pembaca akan suka atau enggak, ya gak pinter-pinter kita.

Bali

Iya, akhirnya jadi juga saya ke Bali. Bukan sesuatu yang terlalu istimewa, karena saya pernah tinggal dan bekerja di sana, belasan tahun yang silam. Yang tertinggal di ingatan, saya tidak terlalu suka tinggal di pulau ini. Bali is apparently not for everybody. Not for me.

Bali.

Dua malam yang singkat, karena sesungguhnya saya ingin tinggal sedikit lebih lama. Rencana awal, saya ingin pergi ke tempat-tempat yang sepi, jauh dari peradaban. Menulis, atau sekadar menghabiskan waktu dengan bermalas-malasan. Bermalas-malasannya dapet, tapi karena beberapa hal, terpaksa saya menginap di sebuah hotel yang tidak terlalu jauh dari pusat keramaian.

Gak pa-pa. Perjalanan solo kali ini bisa dibilang menyenangkan. Masih sempat menulis, meski tidak seheboh yang saya bayangkan. Dan dua malam yang saya lewati di sana lumayan seru. Menikmati debur ombak malam-malam. Jalan kaki tanpa tujuan di seputar Kuta Square. Mampir ke sebuah bar & resto yang band-nya menyajikan musik-musik tahun 90-an.

Pertanyaan dari seorang kawan: have you found what you were looking for?

Sepertinya iya. Saya pergi untuk menyembuhkan diri sendiri. Semacam menata hati dan hidup dari titik nol, sekali lagi. Menuntaskan segala hutang dan beban yang menggelayuti pikiran. Menemukan, bahwa setiap orang memang berhak atas sesuatu bernama kebahagiaan.

I regret nothing. I just had to go to Bali, and I went.

Perjalanan Spiritual

Tadinya saya ragu-ragu menerima undangan istimewa ini. Tanggal 10 November pagi, seharusnya saya terbang ke Bali untuk sebuah perjalanan singkat. Saya menamainya perjalanan bagi jiwa, karena saya sedang ingin sejenak pergi, menikmati hening di suatu tempat yang sepi dan jauh dari riuh peradaban duniawi.

Tiket sudah di tangan, kamar hotel sudah lama dipesan, dan mendadak seorang kawan di US embassy menelepon, meminta kesediaan saya untuk datang dan hadir di public speech Obama tanggal 10 November, di kampus Universitas Indonesia di Depok.

Antara merasa sangat tersanjung dan ragu-ragu, saya minta waktu untuk berpikir dan menimbang-nimbang. Bukan apa-apa. Saya tau, Obama dipuja hampir seluruh umat manusia dan siapalah saya, mimpi pun tidak untuk berada di satu ruangan dengan beliau. Tapi perjalanan ke Bali ini pun buat saya penting sekali artinya. Hati saya sudah berada di sana jauh sebelum tanggal yang tertera di tiket pesawat.

Malam-malam, karena bingung harus minta pendapat siapa lagi setelah siangnya precil-precil saya nyengir lebar dengan ekspresi bangga dan girang mendengar tentang undangan ini, saya menyapa om Ayah Air di Yahoo Messenger. Saya tahu saya harus datang, cuma memang, ada saat-saat saya merasa perlu diyakinkan sekali lagi sebelum melakukan suatu hal penting. Om Ayah Air bilang, “dateng, mbok. liburan bisa digeser-geser dikit, uang bisa dicari lagi, tapi ketemu Obama adalah perjalanan spiritual yang mungkin tidak akan pernah terulang lagi.”

Dan Bali memang ternyata harus menunggu karena ia bisa menunggu. Saya bisa ke sana kapan saja. Obama tidak. Om Ayah Air benar. Dan demi Tuhan saya pasti menyesal kalau kemarin saya menolak datang. Beberapa kawan bahkan sampai memohon-mohon dan mati-matian berusaha mendapat tiket masuk ke Balairung UI, tempat acara ini diselenggarakan, betapa sombongnya kalau saya menolak kehormatan yang seperti jatuh dari langit tanpa diminta.

Dan kemarin, sebelum subuh saya bela-belain berangkat dari rumah supaya gak ketinggalan bus yang mengangkut para undangan ke lokasi acara. Sisa kantuk yang saya tahan-tahan karena memang belum tidur dari malam sebelumnya langsung hilang begitu nyampe sana.

Kampus UI pagi itu penuh wajah dingin manusia-manusia tinggi besar (saya duga mereka adalah Secret Service dan ternyata memang iya). Scanning dan pengamanan area bahkan sudah dimulai sebelum bus masuk ke gerbang kampus, dan masing-masing kami digeledah satu-satu, ah pokoknya serem, haha..

Setelah beberapa lama menunggu, sebuah suara terdengar memenuhi Balairung yang penuh orang.

“Ladies and gentlemen, The President of The United States of America: Barrack Obama!”

Ruangan berdengung dengan gemuruh histeris. Dengan sangat gaya, Obama menuju podium sambil melambai-lambaikan tangan. Sayangnya jaringan komunikasi putus total. Bocoran yang saya terima, “ini atas permintaan dari VVIP.” Ya sudahlah, saya menyerah dan berhenti melaporkan langsung lewat Twitter. Saya hanya berbalas bbm dan sms dengan beberapa teman yang minta saya livetweet dari sana.

“Ga bisa livetweet, XL di-jammed.”

“Yaaah pdhl dari tadi mantau. Posisinya enak ndak, mbok?”

“Di bangku VIP. The best seats. Even pak BJ Habibie dan politikus2 yg tiap hari kita liat di tivi, all those beautiful people, duduknya di belakang kita”

Dan histerislah si Titutismail, memborbardir saya dengan sms-sms panjang lebar.

Seorang teman baik hanya menjawab pendek dengan nada iri, “congrats” waktu saya dengan noraknya mengirim sms, “he’s here!! OMG he’s here!!”. “I shook his hand!! I shook Obama’s hand!! AAAAAAAAAAAA…”

Benarlah sudah, ini memang perjalanan spiritual yang jauh lebih penting artinya dari ratusan ribu rupiah yang harus saya bayar ke maskapai penerbangan gara-gara dua kali mengubah jadwal. Saya bukan pemuja atau pun pembenci Obama, tapi bagaimana mungkin saya melewatkan undangan seindah ini?

Dari mbak Desi Anwar yang kebetulan duduk di sebelah saya, saya tau bahwa ternyata lima baris kursi yang kami tempati, yang cuma berisi beberapa puluh orang, ini memang deretan yang paling istimewa. The hot seats. Isinya adalah undangan khusus yang katanya berasal dari tiga golongan; alumnas (alumni/mereka yang pernah kuliah di Amerika), friends of the US embassy, dan media. Entahlah, tapi rasanya sih, saya ada di dua kelompok terakhir.

Ah, ceritanya cukup segitu aja. Nanti dikira sombong. Terima kasih.