Tanggal 7 sampai dengan 9 Oktober kemarin, saya ke Jogja lagi. Sendirian, dalam rangka memenuhi undangan panitia PB Jogja. Yang diundang bukan saya, tapi komunitas Ngerumpi ‘cabang’ Jogja (dan sekitarnya). Saya ke sana karena memang harus datang ke sana. Setidaknya ‘anak-anak saya’ itu akan merasa ditemenin oleh induk mereka, sekaligus membawa satu misi lain: kopdar internal ngerumpi jogja. Plus, kalau bisa, mengajak mereka berkenalan dengan temen-temen komunitas online lain di kota itu.

sebagian yang sempet foto-foto di depan banner PBJogja
Kalau saja kami punya lebih banyak waktu untuk mempersiapkan acara ini, saya yakin, akan jauh lebih banyak lagi temen-temen yang dateng. Tapi sudahlah, dengan persiapan yang minim ini aja udah lumayan rame dan menyenangkan, kok. Setidaknya ada belasan temen ngerumpi yang sempat ketemuan. Beberapa bahkan bela-belain dateng dari luar kota.
Karena faktor dadakan itu juga, kami gak kebagian seat di acara Rally PB Jogja yang heboh. Jadwal dan nama-nama peserta rally sudah fix dari beberapa hari sebelumnya. Jadi dua hari yang seharusnya diisi dengan ikut rally dan workshop, kita manfaatkan untuk nyiapin printhilan buat gathering Sabtu malam.
Sejak awal, saya memang pengen ngasih temen-temen ngerumpi jogja kesempatan untuk nyiapin sendiri semuanya. And they did great. Hampir semuanya mereka lakukan sendiri, dari mencari ide bagus sampai proses eksekusi. Agak gak tega sebenarnya, tapi harus. Tiga hari itu, saya bisa pastikan, mereka sibuk. Sibuk banget, sampai kadang-kadang agak susah dihubungi. Dan di acara puncak, wajah-wajah mereka sudah terlihat capek. Hebatnya, mereka tetep semangat, tetep senyum ngladenin tamu-tamu yang dateng ke stand kecil ngerumpi. Bahkan malem setelah acara bubar, kami masih bisa rame-rame makan dan becandaan seru di Kedai Kopi, kemudian pindah ngobrol (sebagian ketiduran) di kamar hotel tempat saya nginep. Untuk ini, saya hanya bisa bilang makasih banyak buat temen-temen semua.
Lha terus, saya ngapain selama tiga hari di sana? Jalan-jalan, bersenang-senang?
Jawabannya ya dan tidak. Yang jelas, selain ikut panik, kuatir kalau-kalau waktunya gak cukup banyak dan semuanya berantakan, saya jalan juga ke sana kemari. Ngumpul bareng temen-temen Cah Andong (dan nemenin mereka meeting sampai pagi), ketemuan sama temen-temen blogger yang udah lama kenal tapi baru bisa ketemu sekarang, dan jalan sama mereka. Seru banget. Saking banyaknya temen yang hari-hari itu tumplek di Jogja, kadang bingung mutusin kapan jalan sama kelompok yang ini, jam berapa mau ketemu sama lingkaran temen yang satu lagi *halah*.
Pokoknya seru. Capek tapi seneng banget. Ketemu, jalan, dan ngobrol sampe pagi sama Jensen, temen blogger dari Papua, naik Trans Jogja (yang membuat saya mendadak ndeso dan cengengesan sepanjang jalan), ketemu Fadil dan Amed (keduanya juga temen blogger dari kapan tau, dan belum pernah ketemu). Ketemu Christin, Celo, dan ratusan –bener-bener ratusan– temen lain pas di gathering, acara puncak PB Jogja.

ada masova, kang lantip, mbakdos, dan banyak lagi…
Sabtu malam itu, saya juga ketemu kang Lantip, dalang twitter yang super lucu, yang kalo malem sampe pagi biasanya ngobrol di timeline. Semacam pertemuan dalang dan sindennya. Terus juga ketemu ini itu, ah gak bisa nyebutin satu-satu karena bener-bener ratusan. Belum lagi temen-temen dari Kopdar Jakarta juga pada dateng ke Jogja. Makin gaduhlah suasana.
Yang membuat saya makin terharu dan bangga dengan anak-anak Ngerumpi, si Chiilmil, menang di beberapa kontes yang diadain PB Jogja sekaligus. Dia dapet hadiah voucher karaoke, tiket pesawat Jogja – Jakarta PP, dan BlackBerry Gemini dari panitia. Congrats, Chil! Kamu membuat semua orang iri.
Tiga hari yang menyenangkan, meski sepulangnya dari sana saya tepar kelelahan.
Jogja, terima kasih. Saya akan datang lagi kapan-kapan.

Pernah denger Work At Jelly?
Idenya adalah, setiap bulan, orang-orang dari berbagai profesi akan bertemu, ngumpul, dan bekerja di satu tempat atau lokasi. Frekuensi ketemuannya juga terserah saja. Bisa satu atau dua kali dalam sebulan, atau terserah, tergantung kesepakatan para anggotanya. Lokasi yang dimaksud juga bisa di mana saja; di kantor salah satu peserta, di rumah, di kafe, atau di mana pun, selama persyaratan lainnya terpenuhi.
Kemarin sore, di Langsat, saya dan Ndorokakung iseng ngomongin tentang Work At Jelly, yang sebenarnya sudah dilakukan oleh banyak orang dan banyak komunitas di beberapa negara. Di Indonesia, acara ini pernah juga diadakan di Jakarta dan Bandung. Tapi sepertinya belum terlalu rame, dan masih sedikit sekali yang pernah mendengar tentang Work At Jelly, termasuk ndoro kita itu.
Kemudian terpikir, lucu juga kalau kita bikin acara semacam Work At Jelly di sini, ya? Kita pinjam ide dan konsepnya, tapi kita bikin independen. Sama sekali lepas dan tidak ada hubungannya dengan acara serupa di negara-negara lain.
Lantas apa tujuan dan keuntungan buat para pesertanya?
Bicara tujuan, saya dan ndorokakung sepakat, bahwa tujuan kami adalah bersenang-senang. Nothing serious. Gak ada agenda apa pun. Kita dateng, ngumpul, bekerja di laptop masing-masing, ngobrol. Silakan saja. Setidaknya, acara kumpul-kumpul semacam ini sangat bagus buat memperluas networking, menambah jaringan pertemanan, atau –siapa tahu– akan muncul ide-ide segar lain ketika kita bertemu dengan orang-orang dan suasana kerja yang tidak biasa. Reboot pikiran dan otak. Refreshing, atau apalah namanya, agar lepas sejenak dari rasa jenuh karena pekerjaan dan teman kerja yang itu-itu saja.
Nah, rencana awal, kita akan mengadakan acara ini di Rumah Langsat. Tanggalnya akan ditentukan kemudian, sambil memastikan koneksi internet dan ruangannya cukup nyaman untuk mengakomodasi kebutuhan semua peserta. Untuk kenyamanan semua orang juga, kami sepakati bahwa peserta akan dibatasi hingga –paling banyak– lima belas orang. Dengan catatan, angka ini bisa berubah sesuai minat, kebutuhan, dan ketersediaan tempat dan fasilitas pendukungnya.
Detail menyusul, ya? Tulisan ini saya buat untuk sounding, supaya temen-temen kenal dulu apa itu Work At Jelly. Dan pada saat semua sudah fix, buzz di twitter sudah jalan, temen-temen yang berminat bisa langsung mendaftar.
Oiya, namanya nanti bukan itu. Masukan dari Ndorokakung, kita akan beri nama acara ini Mbut Gae Bareng (bahasa Jawa: bekerja bersama-sama). Hashtagnya nanti kita pakai #MbutGaeBareng.
Tunggu kabar selanjutnya, okay? I’ll keep you posted.
Acara rutin Obsat tadi malam, barangkali adalah yang paling istimewa. Setidaknya buat saya. Akan saya ceritakan kenapa.
Hujan deras mengguyur Jakarta dan sekitarnya sejak sore. Sepanjang perjalanan dari rumah ke Jalan Langsat, jarak pandang yang sangat terbatas akibat hujan ini memaksa saya membawa si angkot dengan sangat hati-hati. Sempat disenggol motor, dua kali, tapi sudahlah, saya ikhlas saja.

Kurang lebih pukul delapan malam, sesi Obsat dengan tema Tarot, dimulai. Ada mas Incoharper, BudeNovi, dan mbak IndahAriani yang menjadi bintang tamu sekaligus narasumber, yang akan berbagi pengetahuan tentang tarot. Ketiganya adalah orang-orang yang selama ini hanya saya kenal di twitter, dan baru tadi malam, akhirnya kesampaian juga keinginan untuk bertemu dengan mereka. Bukan karena ingin diramal, tapi lebih karena rasa penasaran. Apa iya, tarot bisa membaca kita?
Saya, tentu saja, tidak dalam kapasitas menjelaskan panjang lebar tentang apa itu tarot, sejarahnya, atau bagaimana ia dipercaya orang sebagai lebih sekadar dari satu deck kartu, dengan bentuk dan gambar-gambar aneh. Yang ingin saya ceritakan adalah pengalaman yang saya dapat tadi malam, yang untuk pertama kali bersentuhan dengan kartu yang kadang masih dianggap sebagai klenik ini. Kalau boleh, saya ingin menyebutnya sebagai pengalaman spiritual. Meski mungkin terdengar berlebihan, tapi itulah yang sesungguhnya saya rasakan.
Dari penjelasan singkat ketiga tamu Obsat ini, saya menangkap bahwa tarot memang bukan klenik. Kartu-kartu ini tidak meramal masa depan, tidak meramalkan sesuatu. Ia hanya menyampaikan pesan dari semesta tentang kejadian-kejadian yang kita alami hari ini, melalui energi yang dialirkan oleh tarot reader, pasien, dan sederet kartu yang dikocok, ditata, kemudian dibuka dan dibaca dengan aturan-aturan tertentu. Saya tidak paham cara membaca kartu. Yang saya catat, ada empat jenis kartu: cups, swords, coins, wands. Ke-empat jenis kartu ini mewakili empat unsur –atau elemen– dari manusia: air, angin, tanah, dan api.
Singkatnya, setelah sesi pembuka tentang apa dan kenapa tarot, kami masuk ke saat yang paling ditunggu-tunggu: tarot reading. Saya tidak pernah suka diramal, tidak percaya ramalan, tapi dari awal memang ada keinginan kuat untuk dibaca. Sebatas ingin tahu seberapa canggih kartu-kartu ini bekerja.
Di atas meja, mbak Indah membentangkan setumpuk kartu yang sebelumnya sudah saya kocok. Ini, konon, untuk menyatukan energi saya dengan si kartu. Kemudian dimulailah perjalanan itu…
Awalnya, kami bicara tentang karir dan pekerjaan. Kartu-kartu itu ‘membaca’ bahwa saya sedang berada di titik jenuh, kehilangan semangat berkompetisi, dan merasa stuck dengan apa yang saya lakukan. Sebagian besar memang benar.
Mbak Indah bilang, “Jangan takut. Mbak Venus punya segalanya untuk mendapatkan lebih dari yang sudah mbak capai sekarang. Jangan underestimate kemampuan diri sendiri. Tau ‘The Secret’, kan? Semesta membaca pesan dari pikiran kita. Tuhan, dan semesta, akan memberi apa yang kita butuhkan pada saat kita butuhkan.” Hal-hal semacam itulah.
Berikutnya, kami masuk ke kehidupan pribadi; keluarga, dan lain-lain. Tak perlulah saya ceritakan dengan detail soal itu. Yang jelas, pada satu titik, saya merasa bahwa saya, mbak Indah, dan kartu-kartu itu, berada di satu garis yang sama. Di tempat yang sama, dengan frekuensi energi yang sama. Saya melihat apa yang dia lihat di mata saya. Saya tau, dia merasakan apa yang sedang saya rasakan. Di matanya, saya melihat apa yang kami lihat bersama: potongan-potongan gambar yang sama. Rekaman jelas tentang tempat-tempat, kejadian, wajah-wajah yang acak berseliweran. Saya telanjang di depannya.
Untuk beberapa menit yang mendebarkan, kami bertatapan. Kemudian, tiba-tiba sekali, saya merasakan tangan mbak Indah mencari-cari di bawah meja, lantas menggenggam tangan saya kuat-kuat. Saya merasa kosong dan tidak berpikir tentang apa pun. Emosi saya tersedot habis. Tapi mbak Indah, masih sambil memegang erat-erat tangan saya, mulai terisak. Saya diam. Mbak Indah berkali-kali meminta maaf karena tidak dapat menahan tangis, dan saya hanya bisa mengangguk, tidak sanggup berkata apa-apa. Saya tahu bahwa dia tahu. Kartu-kartu di depan kami membaca saya begitu lengkap. Agak susah dijelaskan, tapi rasanya, seolah-olah buku kehidupan saya dibacakan keras-keras, tanpa satu paragraf pun terlewat. Semua kesedihan, masalah, kelelahan, dibuka begitu saja.
Beberapa kartu terakhir membuat kami berdua nyengir. “Lihat kartu ini, mbak?”, mbak Indah menunjukkan gambar gunungan bertuliskan ‘surprise’ di salah satu tepinya, dan sebuah kartu berisi gambar pregiwa-pregiwati –pasangan dalam kisah wayang– dengan tulisan ‘moving on’. “Akan ada laki-laki yang datang tanpa diduga. Kemungkinan besar, dia berasal dari luar lingkaran pertemanan mbak Venus yang sekarang. Sepertinya lebih muda, dan dia akan membawa mbak ke sebuah pintu yang baru, hidup yang baru. A rebirth. A new you.”
Sesudah sesi yang melelahkan dan menguras emosi ini, kami berpelukan, erat dan lama. Saya masih merasakan sisa tangisnya.
Hampir tengah malam, saya pulang dengan hati ringan. Jalanan Jakarta yang masih sangat ramai, anehnya, tidak lagi terasa mengganggu, atau membuat saya menyumpah-nyumpah seperti biasa.
Saya semakin percaya, bahwa tak ada yang perlu saya takutkan lagi. Saya tau, Tuhan ada di sana, menjaga saya.
Dan kamu, lelaki dari masa depan, saya tidak akan menjelajah sudut-sudut dunia untuk menemukanmu. Kamulah yang –jika saatnya tiba nanti– datang dan mengatakan ‘aku datang untukmu’.