Menangkap Peluang

Setiap kali bertemu orang baru, atau bahkan kawan lama, saya bingung kalau ditanya “kerja di mana?”. Kadang pertanyaan itu saya jawab sekenanya. “Nulis, freelance, kerja di social media”. Dan benar sekali dugaan saya, sebagian besar penanya malah bingung, dan melontarkan pertanyaan-pertanyaan tambahan yang semakin sulit saya jawab.

Biasanya akan lebih mudah menjelaskan apa bidang pekerjaan yang saya tekuni Kepada orang-orang yang akrab dengan dunia digital. Hampir semua orang tahu facebook, twitter, plurk, dan berbagai situs jejaring sosial. Itu pun, belum semua penggunanya paham, bahwa ada begitu banyak peluang untuk mendapatkan –atau menciptakan– lapangan pekerjaan di sini.

Secara finansial, karena sangat mungkin trend social media yang sedang boomimg ini juga tidak akan bertahan lama, saya tidak bisa bicara terlalu banyak. Yang sedikit buat orang lain, mungkin sudah lebih dari cukup untuk ukuran saya. Begitu juga sebaliknya. Dan bukankah tidak selalu semuanya harus diukur dengan uang, atau berapa digit angka yang kita hasilkan?

Yang menarik adalah, dunia online membuka banyak sekali kesempatan kerja. Ini barangkali baru kita ketahui beberapa tahun terakhir. Setelah era blog, kemudian muncul facebook dan lain-lain, bumi seolah benar-benar datar. Hampir semua brand besar, kini dengan sadar masuk ke social media. Dengan caranya masing-masing, mereka seolah berlomba-lomba mengikat para konsumen dan calon konsumennya dengan aktif berinteraksi lewat Facebook dan Twitter.

Strategi yang cerdas. Dan untuk itu, tentu mereka tidak bisa bergerak sendiri. Diperlukan para penggiat social media untuk mewakili mereka. Entah itu sebagai brand ambassador, social media strategist, dan lain-lain.

Pada saat-saat tertentu, ketika mereka sedang atau akan meluncurkan produk baru, mereka perlu key online leaders yang akan membantu menyebarkan kabar tentang produk atau event baru mereka. Dan di situlah peran netizen sangat dibutuhkan. Bisa lewat tulisan di blog, situs-situs berbasis komunitas, atau sekadar membagi info lewat tweet dan link yang dicantumkan di twitter atau facebook.

Bukan hanya itu. Kalau mau jeli, lebih banyak lagi kesempatan untuk bekerja di dunia 2.0 ini. Anda bisa menjadi penerjemah, penulis, editor, pekerja kreatif, web designer, programmer, atau apa pun yang sesuai dengan passion anda. Info bisa didapat dari mana saja. Ada banyak situs yang menyediakan link sebagai rujukan, atau bahkan menjadi tempat ngumpulnya para pekerja freelance.

Kalau sudah begini, yang paling penting tentu pinter-pinternya kita saja menangkap peluang yang terbuka lebar. Pinter-pinternya kita membawa diri, menjadi brand buat diri sendiri. Cepat atau lambat, kita akan menemukan –dan masuk– ke lingkaran komunitas yang tepat. Selanjutnya, dari komunikasi yang kemudian terjalin, informasi tentang lowongan pekerjaan baru, biasanya akan lebih gampang kita peroleh dari lingkaran pertemanan yang sudah solid terbentuk.

Begitulah. Sekarang, belajar dari pengalaman, daripada susah-susah menjelaskan, kalau ada yang bertanya apa pekerjaan saya, saya jawab saja, “saya kerja dari rumah, keliling tiap malam di internet, membasmi kejahatan.”

catatan: artikel ini juga dipublish di sini

Why Only White?

Semua perempuan, saya percaya, dilahirkan dengan kecantikan dan keindahan masing-masing. Yang membuat kita sesat dan menilai diri sendiri kurang cantik –karena berkulit sawo matang atau bahkan gelap, misalnya– pastilah karena kesalahannya sendiri: terlalu banyak nonton televisi.

Katakan saya sinis, tapi iya, saya memang membenci tivi. Segala sinetron, acara musik, dan tayangan iklan yang menampilkan perempuan, hampir dapat dipastikan selalu dipenuhi sosok-sosok langsing, berhidung bangir, dengan rambut panjang, dan –tentu saja– kulit yang putih mulus. Yang gak putih, hanya boleh jadi figuran yang sesekali terlihat di layar kaca.

Dalam bentuk yang sedikit berbeda, sebenarnya ini mirip dengan standar kecantikan yang diajarkan ibu-ibu kita jaman dulu. Perempuan baru bisa dibilang cantik dan sempurna, jika ia jago dalam hal-hal tertentu: pinter masak, pinter mengurus rumah supaya selalu rapi, piawai ngurus anak dan suami. Di masyarakat yang lebih baru, perempuan yang bekerja di luar rumah memang sudah lumrah. Tapi tetap saja, syarat-syarat tradisional yang saya sebutkan tadi, masih dijadikan ukuran utama cantik tidaknya seorang perempuan. Perempuan boleh sukses dalam karir dan pekerjaan, tapi kalau suami dan anak gak keurus, nilainya pasti turun beberapa poin.

Sekarang kita masuk ke sesi curhat. Sebenarnya ini agak pribadi, karena ada hubungannya dengan kehidupan saya, dulu dan sekarang.

Lahir dan besar dalam keluarga dari etnis Jawa, sejak kecil, ukuran cantik yang saya tahu, memang tidak seekstrim itu. Di keluarga besar, hampir semua perempuan terbiasa bekerja di luar rumah. Entah jadi guru, pegawai negeri, atau orang kantoran biasa. Saya sempat beberapa tahun menjadi perempuan pekerja, sebelum akhirnya menikah. Dan semenjak itu, saya menekuni profesi saya yang baru: ibu rumah tangga. Profesi yang paling mulia di muka bumi, dengan beban tanggung jawab yang jauh lebih berat dibandingkan jenis-jenis pekerjaan yang lain.

Saya bahagia dengan pilihan saya itu. Tapi kemudian, saya menemukan bahwa bukan ini yang sesungguhnya saya inginkan. Kalau mau, seharusnya ada lebih banyak hal besar yang bisa saya lakukan. Bukan hanya untuk saya pribadi, tapi juga orang-orang di sekitar saya. Something good. Something big. Saya hanya belum tahu apa takdir saya, belum menemukan jalan nasib yang sudah digariskan.

Kemudian, ketika saatnya tiba, saya terpaksa harus memilih di antara dua pilihan berat. Dan saya mantapkan hati untuk menjadi orang tua tunggal bagi kedua anak saya yang mulai beranjak besar. Pilihan yang pahit, sesuatu yang harus dibayar mahal oleh semua yang terlibat di dalamnya. Tapi hidup sesungguhnya memang hanya soal pilihan, kan?

Di sinilah saya sekarang, menjalani apa pun yang telah saya pilih setelah melalui pemikiran panjang. Dan saya bahagia. Di luar segala kehilangan, saya bahagia dan merasa utuh sebagai manusia. Saya bekerja, saya membagi dan mengekspresikan apapun yang saya rasakan melalui tulisan di berbagai media. Dengan sepenuh kesadaran, saya juga membebaskan diri dari stereotype klasik (kalau tidak boleh disebut kadaluarsa) tentang perempuan dan keindahan. Yang paling ekstrim, barangkali adalah keputusan untuk membuat tattoo di beberapa bagian tubuh saya. Bukan dengan niat macam-macam. Saya melakukan itu karena memang ini salah satu keinginan sejak dulu.

Bicara tentang perempuan dan kebebasan berekspresi, tanpa sengaja saya terdampar di satu situs dengan warna-warna cantik yang mengajak kita menilai jenis kepribadian. Dari beberapa pertanyaan di dalamnya, menurut kuis ini, saya adalah tipe Confident Chic.

“Wow! Kamu memiliki semuanya untuk menjadi kuat. Selalu siap sedia, focus dan selalu percaya diri,
kamu kelihatan seperti perempuan yang terlihat rapi tanpa harus berusaha. Pandai berbicara dan
cerdas, kamu selalu memilki pandangan sendiri untuk setiap kejadian. Kamu juga orang yang
menginginkan segalanya!”

Oh, apa iya seperti itu? Saya juga tidak terlalu yakin, sih. Kuis-kuis semacam ini, hasilnya memang –biasanya– hanya membuat kita senang. Sama seperti ramalan bintang di majalah-majalah. Tapi soal ‘memiliki pandangan sendiri untuk setiap kejadian’, sepenuhnya saya setuju. Untuk menjadi pribadi yang luar biasa, perempuan memang harus berani berpikir beda dan di luar kebiasaan. Harus bersedia keluar dari zona nyaman, berpikir out of the box, berani beranjak dari pemikiran konvensional, serta meninggalkan kebiasaan lama, agar hidup menjadi lebih berwarna.

Why only white if you can be a colourful, fabulous and outstanding person?

What’s Behind the Rose?

Sebenarnya sudah agak lama saya mendengar nama Munir dan Toxic Tattoo di Jogja. Pertama kali tau nama ini dari Donny, kemudian secara kebetulan juga saya tau bahwa pacar si Okke Sepatu Merah ternyata adalah partner mas Munir di tattoo studio ini.

Jeleknya saya, waktu beberapa bulan kemaren si Okke ngomporin, “cobain di tempat laki gue aja,” yang terpikir adalah suatu saat saya memang harus ketemu mas Munir atau Rico. Gak harus bikin, tapi setidaknya saya pengen datang dan liat dulu gimana-gimananya. Selanjutnya, biarlah hati saya yang menentukan.

Dan Jogja, dengan orang-orangnya yang menyenangkan, membuat mood saya membaik dengan drastis hari itu. Sejak sehari sebelumnya, saya mulai browsing desain tattoo bertema floral, tapi tidak menemukan satu pun yang pas dengan yang saya bayangkan. Jadilah saya berangkat tanpa bekal apa-apa. Yang saya tau hanyalah, saya ingin sesuatu yang berwarna merah. Barangkali bunga mawar. Kecil dan berwarna merah.

Dibantu mbak Ajeng (istri mas Munir), saya menghabiskan hampir setengah jam untuk mencari desain yang saya mau. Dan mawar merah yang belum sepenuhnya mekar ini langsung nyangkut di hati. “There. That’s my baby,” spontan saya menunjuk foto bunga mawar di antara ratusan gambar lainnya. Rico kemudian menerjemahkan keinginan saya ke dalam gambar setengah jadi, dengan sulur panjang dan daun-daun kecil di bawahnya.

Ada yang menarik tentang ini. Mbak Ajeng bilang, tattoo yang bagus adalah yang memiliki arti atau filosofi tertentu di baliknya. Mawar, masih kata mbak Ajeng, biasanya ada hubungannya dengan romance. Tapi saya bilang, saya tidak perlu alasan atau filosofi apa-apa. Saya hanya tau, saya ingin kulit lengan saya dirajah dengan gambar ini. Dan selama dua setengah jam berikutnya, saya merelakan, dan terpesona memandangi berbagai ukuran jarum itu menusuk-nusuk permukaan kulit dan memberinya warna.

Thanks, Ric.