Jadi perempuan memang susah. Pada saat-saat sulit, atau ketika sedang merasa kehilangan arah, kadang mereka (baca: saya) mati-matian mencari siapa yang salah dan wajib dituding sebagai pihak yang menyebabkan semua kekacauan. PMS, mood swings, teman, keadaan, dan ujung-ujungnya, tak jarang perempuan mengakhiri proses pencarian terdakwa ini dengan menyalahkan diri sendiri.

Hati memang tak bisa dibohongi. Saya sedang berduka, marah entah kepada siapa. Sepandai apapun menutupi perasaan, saya tau, saya harus melewati tahap yang sangat menyebalkan ini dengan mulus. Mengingkari kesedihan dan kemarahan, hanya akan membuat seseorang tampak bodoh. Dan saya menolak untuk terlihat bodoh. Ada begitu banyak hal yang menunggu untuk diselesaikan. Dan dunia toh tak akan berhenti berputar, atau berbaik hati mengembalikan kebahagiaan saya, jika saya tidak berusaha dengan sungguh-sungguh.

Saya butuh udara segar. Pergi jauh dari keramaian, ke suatu tempat yang jauh dari peradaban. Ingin sendirian menatap langit dan bintang-bintang, menyusun ulang semua rencana yang terpaksa berantakan. Barangkali sambil menulis tentang perjalanan ke negeri di atas awan yang dijanjikan seorang kawan. “Come here. You’re always welcome. I’ll take you somewhere far from town.” Janji yang manis dan membuat saya, mau tak mau, tersenyum lagi.

Wait for me. Within two weeks, I’ll fly all the way to your place, and start this sentimental journey, with you.