Acara rutin Obsat tadi malam, barangkali adalah yang paling istimewa. Setidaknya buat saya. Akan saya ceritakan kenapa.

Hujan deras mengguyur Jakarta dan sekitarnya sejak sore. Sepanjang perjalanan dari rumah ke Jalan Langsat, jarak pandang yang sangat terbatas akibat hujan ini memaksa saya membawa si angkot dengan sangat hati-hati. Sempat disenggol motor, dua kali, tapi sudahlah, saya ikhlas saja.

Kurang lebih pukul delapan malam, sesi Obsat dengan tema Tarot, dimulai. Ada mas Incoharper, BudeNovi, dan mbak IndahAriani yang menjadi bintang tamu sekaligus narasumber, yang akan berbagi pengetahuan tentang tarot. Ketiganya adalah orang-orang yang selama ini hanya saya kenal di twitter, dan baru tadi malam, akhirnya kesampaian juga keinginan untuk bertemu dengan mereka. Bukan karena ingin diramal, tapi lebih karena rasa penasaran. Apa iya, tarot bisa membaca kita?

Saya, tentu saja, tidak dalam kapasitas menjelaskan panjang lebar tentang apa itu tarot, sejarahnya, atau bagaimana ia dipercaya orang sebagai lebih sekadar dari satu deck kartu, dengan bentuk dan gambar-gambar aneh. Yang ingin saya ceritakan adalah pengalaman yang saya dapat tadi malam, yang untuk pertama kali bersentuhan dengan kartu yang kadang masih dianggap sebagai klenik ini. Kalau boleh, saya ingin menyebutnya sebagai pengalaman spiritual. Meski mungkin terdengar berlebihan, tapi itulah yang sesungguhnya saya rasakan.

Dari penjelasan singkat ketiga tamu Obsat ini, saya menangkap bahwa tarot memang bukan klenik. Kartu-kartu ini tidak meramal masa depan, tidak meramalkan sesuatu. Ia hanya menyampaikan pesan dari semesta tentang kejadian-kejadian yang kita alami hari ini, melalui energi yang dialirkan oleh tarot reader, pasien, dan sederet kartu yang dikocok, ditata, kemudian dibuka dan dibaca dengan aturan-aturan tertentu. Saya tidak paham cara membaca kartu. Yang saya catat, ada empat jenis kartu: cups, swords, coins, wands. Ke-empat jenis kartu ini mewakili empat unsur –atau elemen– dari manusia: air, angin, tanah, dan api.

Singkatnya, setelah sesi pembuka tentang apa dan kenapa tarot, kami masuk ke saat yang paling ditunggu-tunggu: tarot reading. Saya tidak pernah suka diramal, tidak percaya ramalan, tapi dari awal memang ada keinginan kuat untuk dibaca. Sebatas ingin tahu seberapa canggih kartu-kartu ini bekerja.

Di atas meja, mbak Indah membentangkan setumpuk kartu yang sebelumnya sudah saya kocok. Ini, konon, untuk menyatukan energi saya dengan si kartu. Kemudian dimulailah perjalanan itu…

Awalnya, kami bicara tentang karir dan pekerjaan. Kartu-kartu itu ‘membaca’ bahwa saya sedang berada di titik jenuh, kehilangan semangat berkompetisi, dan merasa stuck dengan apa yang saya lakukan. Sebagian besar memang benar.

Mbak Indah bilang, “Jangan takut. Mbak Venus punya segalanya untuk mendapatkan lebih dari yang sudah mbak capai sekarang. Jangan underestimate kemampuan diri sendiri. Tau ‘The Secret’, kan? Semesta membaca pesan dari pikiran kita. Tuhan, dan semesta, akan memberi apa yang kita butuhkan pada saat kita butuhkan.” Hal-hal semacam itulah.

Berikutnya, kami masuk ke kehidupan pribadi; keluarga, dan lain-lain. Tak perlulah saya ceritakan dengan detail soal itu. Yang jelas, pada satu titik, saya merasa bahwa saya, mbak Indah, dan kartu-kartu itu, berada di satu garis yang sama. Di tempat yang sama, dengan frekuensi energi yang sama. Saya melihat apa yang dia lihat di mata saya. Saya tau, dia merasakan apa yang sedang saya rasakan. Di matanya, saya melihat apa yang kami lihat bersama: potongan-potongan gambar yang sama. Rekaman jelas tentang tempat-tempat, kejadian, wajah-wajah yang acak berseliweran. Saya telanjang di depannya.

Untuk beberapa menit yang mendebarkan, kami bertatapan. Kemudian, tiba-tiba sekali, saya merasakan tangan mbak Indah mencari-cari di bawah meja, lantas menggenggam tangan saya kuat-kuat. Saya merasa kosong dan tidak berpikir tentang apa pun. Emosi saya tersedot habis. Tapi mbak Indah, masih sambil memegang erat-erat tangan saya, mulai terisak. Saya diam. Mbak Indah berkali-kali meminta maaf karena tidak dapat menahan tangis, dan saya hanya bisa mengangguk, tidak sanggup berkata apa-apa. Saya tahu bahwa dia tahu. Kartu-kartu di depan kami membaca saya begitu lengkap. Agak susah dijelaskan, tapi rasanya, seolah-olah buku kehidupan saya dibacakan keras-keras, tanpa satu paragraf pun terlewat. Semua kesedihan, masalah, kelelahan, dibuka begitu saja.

Beberapa kartu terakhir membuat kami berdua nyengir. “Lihat kartu ini, mbak?”, mbak Indah menunjukkan gambar gunungan bertuliskan ‘surprise’ di salah satu tepinya, dan sebuah kartu berisi gambar pregiwa-pregiwati –pasangan dalam kisah wayang– dengan tulisan ‘moving on’. “Akan ada laki-laki yang datang tanpa diduga. Kemungkinan besar, dia berasal dari luar lingkaran pertemanan mbak Venus yang sekarang. Sepertinya lebih muda, dan dia akan membawa mbak ke sebuah pintu yang baru, hidup yang baru. A rebirth. A new you.”

Sesudah sesi yang melelahkan dan menguras emosi ini, kami berpelukan, erat dan lama. Saya masih merasakan sisa tangisnya.

Hampir tengah malam, saya pulang dengan hati ringan. Jalanan Jakarta yang masih sangat ramai, anehnya, tidak lagi terasa mengganggu, atau membuat saya menyumpah-nyumpah seperti biasa.

Saya semakin percaya, bahwa tak ada yang perlu saya takutkan lagi. Saya tau, Tuhan ada di sana, menjaga saya.

Dan kamu, lelaki dari masa depan, saya tidak akan menjelajah sudut-sudut dunia untuk menemukanmu. Kamulah yang –jika saatnya tiba nanti– datang dan mengatakan ‘aku datang untukmu’.