How Do You Heal A Broken Heart?

Bahagia sesungguhnya datang dari hal-hal yang sederhana. Kadang aku melihatnya tergelincir jatuh dari langit. Begitu saja. Sederhana.

Atau ketika kulihat kamu pulas tertidur dikelilingi buku-buku. Yang seperti itu, pun dengan mudahnya membuat aku merasa bahagia.

Bahagia itu, sungguh, mudah dan sederhana. Tapi demikian jugalah luka.

Empat Belas Tahun

Terima kasih, mas. Kamu selalu membuat kami semua bangga. Terima kasih untuk mengerti tanpa banyak bertanya kenapa. Juga terima kasih untuk kesediaan mendengar segala mimpi, dan kegelisahan perempuan yang kamu panggil ibu.

Selamat ulang tahun, mas Kemal. I love you..

Ritual

Puasa, dan –sekarang– lebaran, membuat saya berpikir tentang kebiasaan. Di luar konteks agama dan momen-momen penting yang menyertainya, barangkali kita manusia memang butuh semacam ritual, kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara berkala, sendiri atau bersama manusia-manusia lain. Kita perlu itu, mungkin sebagai pengingat, agar kita sejenak mengambil nafas, memanfaatkan satu dua hari jeda dari segala rutinitas.

Kita merayakan Sabtu dan Minggu sebagai akhir dari lima hari kerja yang melelahkan. Ada kue coklat, dan lilin-lilin dinyalakan pada setiap tanggal kelahiran. Pesta kembang api di penghujung taun masehi. Mengumbar ucapan berbau kasih sayang setaun sekali pada pertengahan bulan Februari. Berteriak ‘Merdeka!’ dan serentak melakukan hening cipta ketika Agustus tanggal tujuh belas tiba.

Bersama anak-anak, rasanya saya tak punya ritual khusus kecuali saling memberi kado dan ciuman di pipi jika salah satu dari kami berulang tahun. Dengan teman-teman main, ada saat-saat kami merasa butuh bertemu dan bertukar cerita. Dan bersama Elia, kami…ehm, saya dan dia punya tempat rahasia. Halaman parkir satu mini market dua puluh empat jam yang kami bayangkan sebagai sebuah pantai imajiner –dengan ombak dan langit imajiner– tempat kami berdua menghabiskan waktu dalam perbincangan manis dan panjang tentang banyak hal: hidup, musik, pekerjaan, buku, dan film bagus.

Lebaran, barangkali selain sebagai momen penyucian dari dosa, juga kita perlukan sebagai salah satu ritual kecil yang kita nikmati bersama-sama sebagai sebuah kelompok besar manusia. Kita butuh lebaran sebagai penanda, bahwa hidup yang telah setaun penuh kita jalani, haruslah senantiasa disyukuri. Karena siapa yang tau apakah pada Ramadan dan Syawal taun depan, kita masih punya kesempatan untuk saling mengucap maaf.

Selamat menikmati ritual indah setaun sekali, kawan. Mohon maaf lahir dan batin.