When the World Comes Tumbling Down

You really don’t need to say anything. I completely understand and will always sit here whenever you need to talk. In silence…

Once, there was someone I badly missed. I rode life high and low, bled myself dry, got stoned and sober again, been to hell and back; and still I can’t forget her. Then, and only then, I’ve learned: maybe I’m not supposed to forget her. And guess what? That’s what happened. I didn’t forget her, but now when I think of her, I don’t feel any pain anymore… Stop trying so hard to forget.. Weep now when you have to weep. Just realize that you’ll always have us to have and to hold, until that time comes. The time when you’ll be able to remember him with a smile. And nothing but a smile…

*an email from Fajar Jasmin, back in February 2009. he once said ‘you’re an angel without wings’, ‘one of these days, I’ll see you blooming again. right before my eyes’. and last night, last night he told me ‘love is never far when i have you’. think he just forgot that he’s an angel, too. love you, fa. i always love you..

Taking Chances

you don’t know about my past
and I don’t have a future figured out
and maybe this is going too fast
and maybe it’s not meant to last

but what do you say to taking chances?
what do you say to jumping off the edge?
never knowing if there’s solid ground below
or hand to hold, or hell to pay
what do you say, what do you say?

Sesekali, ketika semua terasa dan tampak salah, yang dibutuhkan hanyalah keberanian. Berani memilih, menerima tantangan, berani mengambil kesempatan yang terhidang di atas altar kehidupan. Risiko, tentu, selalu ada. Dan setiap jiwa harus berbesar hati menerimanya sebagai konsekuensi dari pilihan-pilihan.

Perjudian tidak selalu harus dimenangkan. But I’m taking my chances. Are you taking yours, people?

Kolom Venus di Detikinet.com

Hari ini barangkali adalah salah satu hari terindah. Lebay ya biarin. Sambil nulis postingan ini, sebenarnya saya masih deg-degan setengah gak percaya.

Dua minggu yang lalu, saya diajakin buka puasa bareng temen-temen. Ketua sukunya, seperti biasa, adalah pak Budiono Darsono –biasa kita sebut BDI– yang orang detik. Eh dia yang punya detik, deng. Di tengah-tengah obrolan gayeng, tercetus ide tentang ‘kolom venus’. Paman Tyo, sang begawan kita itu, sudah lebih dulu memulainya dengan Kolom Paman Tyo di detikinet. Entah saya atau BDI yang memulai, tau-tau saya udah bilang “secepatnya saya kirim deh contoh artikelnya.”

Seminggu kemudian, sesuai janji, saya email ke beliau satu tulisan coba-coba, yang kemudian…ditolak mentah-mentah. Padahal tadinya saya yakin tulisan itu bagus. “Gak ada news value, topiknya basi, terlalu maksain isu gender, blablabla.” Sempat minder dan gak yakin akan bisa nulis lagi, tapi BDI ngomelin saya. “Ya harus bisa. Ya harus mau dibandingin sama Paman. Kalo bandingin sama si A dan si B ya ngapain.” Saya mengkeret dan semakin gak pede.

Tapi lantas saya mikir, malu ah kalo gak bisa. Dan jadilah saya ngoceh tentang e-book, majalah online, twitter, dan Kentang Radio. Bayangkan gimana senengnya waktu tadi pagi BDI nge-ping di messenger, minta saya segera mengirim foto dan profile singkat. Artikel kedua yang saya kirim ternyata ‘layak naik’. Belum hilang kaget dan seneng, siangnya saya kembali dibikin pengen salto dan lompat-lompat setelah dikabarin bahwa Kolom Venus akan terbit setiap Jumat.

Ah, ya. Hanya bisa bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan dan semua yang memberi saya kesempatan-kesempatan bagus seperti ini. Langsat, Ngerumpi, detik.com. Terima kasih.