Seperti yang saya ceritakan di tulisan sebelumnya, Jumat tanggal 27 Agustus 2010 akhirnya saya jadi juga berangkat ke Padang, Sumatera Barat, mewakili dagdigdug (baca: langsat) dalam rangkaian roadshow Pesta Blogger 2010 ke sepuluh kota di Indonesia. Tugas utama saya: mengajar. Bahasa kerennya, menjadi tutor untuk kelas Blogshop dan Social Media.

Jumat pagi sebelum subuh saya berangkat ke bandara, karena pesawat dijadwalkan take off pada pukul 6.30 WIB. Ada beberapa orang dalam rombongan, di antaranya Rara, chair person PB2010, mbak Indah Juli (steering committee), mas Iman Brotoseno, dan Nia, rekan dari Maverick selaku EO dari Pesta Blogger. Di Padang, sudah menunggu teman-teman dari US Embassy Jakarta sejak sehari sebelumnya.

Pukul 8.10 tepat, pesawat mendarat dengan mulus di bandara Minangkabau. Tak banyak waktu istirahat karena kami semua harus langsung ke hotel, kemudian segera meluncur ke beberapa media seperti koran, radio, dan stasiun televisi lokal. Media visit yang melelahkan mengingat saya belum tidur semalaman, dan harus tetap rapi-wangi-selalu-tersenyum dari pagi sampai malam. Seharusnya begitu. Tapi di kunjungan keempat, saya menyerah dan kembali ke kamar hotel untuk beristirahat.

Sabtu, 28 Agustus 2010. Inilah hari itu. Hari yang membuat saya agak deg-degan karena harus bicara di depan 45 (empat puluh lima) orang yang ingin belajar tentang blog dan social media. Syukurlah semua berjalan lancar. And to my surprise, proses mengajarnya tidak terlalu sulit. Beberapa orang sudah atau sudah pernah ngeblog, beberapa sudah punya twitter account dan lumayan aktif memanfaatkan jejaring sosial seperti twitter dan facebook. Beberapa sama sekali belum kenal blog dan hanya punya facebook account, seperti sudah saya duga.

Dan ngocehlah saya selama kurang lebih satu jam, memperkenalkan apa itu blog, bagaimana cara membuat blog, dan mengajak mereka langsung praktek saat itu juga. Dibantu 5 (lima) orang teman dari komunitas blogger Padang, Palanta, yang sebenarnya sedang mati suri, plus koneksi internet yang bagus, kelas hari itu sangat menyenangkan. Tidak seseram yang saya bayangkan, ternyata.

Di acara itu juga, mas Iman Brotoseno bicara tentang hal yang sama, dan secara khusus sedikit menyentuh ranah yang lebih jauh: soal etika. Acara ditutup pukul tiga sore, setelah sebelumnya, Max (ketua Palanta) memperkenalkan komunitas Palanta kepada semua yang hadir, menobatkan Bernardus sebagai ketua untuk periode sekarang, sekaligus mengajak mereka untuk bergabung dan menghidupkan kembali komunitas ini.

Sebelum acara benar-benar ditutup, saya sempat mewanti-wanti Bernard (yang ternyata sudah saya kenal bertahun-tahun yang lalu lewat blognya), “kerjakan PR-mu ya. Bikin milis, bikin offline activities. Banyak sekali yang bisa kalian lakukan kalau kalian mau. Aku pengen lihat Palanta jadi komunitas yang solid seperti teman-temanya di kota-kota lain.”

Alhamdulillah dia nurut. Mungkin karena saya galak, entahlah. Tadi pagi dia mengirim pesan bahwa milis Palanta sudah mulai berjalan. Dan saya katakan, “selamat. PR nomer satu sudah kamu kerjakan.”