Bicara tentang lagu cinta, saya yakin semua orang pasti suka mendengar lagu-lagu cinta. Tapi lagu yang satu ini membuat saya memutar ulang rekaman perjalanan saya beberapa bulan terakhir bersama Elia. Menerka-nerka apa sebenarnya yang menyebabkan kekasih saya ini seringkali menutup diri, kadang agak terlalu rapat, bahkan dari saya. Atau apa yang membuatnya bersikap defensif dan pahit ketika kami berdua –tiap beberapa hari sekali– ribut dan masuk ke perdebatan-perdebatan aneh tentang berbagai hal: hidup, komitmen, ketuhanan, bahkan soal struktur kalimat dalam tiap percakapan.

Lagu yang saya ceritakan di atas, judulnya ‘No More’. Lagu ketiga yang akan menjadi salah satu lagu di mini album Sonicflux yang –mudah-mudahan– akan dirilis dua atau tiga bulan dari sekarang. Elia dan temen-temen band-nya membawakan lagu ini Jumat malam kemarin di Kopi Merah, satu kedai kopi di Cipete, untuk program Save a Teen, charity program dari Putra Sampoerna Foundation.

No More from venus venus on Vimeo.

Sekian lama mengenal Elia, mendengar dia bercerita tentang masa kecil dan hidupnya, kemudian mendengar ‘No More’ dan membiarkan lagu ini berulang kali berputar-putar memenuhi kepala, rasa-rasanya saya mulai mengerti kenapa kami selalu kepentok dengan masalah yang hampir selalu sama. Saya suka cinta yang manis, dia mengajari saya bagaimana mengasihi secara dewasa. Saya menginginkan hubungan kami selalu lucu, dia lebih suka menjaga komitmen dan menunjukkan tanggungjawabnya atas komitmen itu dengan tindakan yang lebih nyata.

Tough love. Saya menyebutnya demikian, karena ada saat-saat dia menunjukkan rasa sayangnya dengan cara yang aneh dan kaku; harga mati yang tak bisa ditawar dan membuat saya kelelahan menyejajarkan langkah.

it was the sun

that touched your face

i’m here no more

don’t seek me, please

i hate to see you cry


life’s getting tough

night’s getting colder

it’s getting harder

loving a heart that belongs to someone else

no more…

Sekarang saya mengerti.