Saya kadang berpikir, kenapa ngopi bisa sangat membudaya dalam gaya hidup masyarakat modern. Kita tak selalu ingin hura-hura, nonton, main biliar, tapi hampir semua orang akan bilang “ya” jika mendengar kata kopi.

Itu pula yang saya dan kekasih lakukan malam minggu kemarin: ngupi-ngupi.

Bakoel Koffee Cikini menjadi pilihan kami. Suasananya homey, membuat tempat ini pas untuk menjauh dari hingar-bingar ibu kota. Kami duduk bersisian di atas kursi kayu yang nyaman. Pencahayaan ruangan berasal dari beberapa lampu sorot berwarna kuning, seperti yang kerap dijumpai di galeri-galeri seni.

Di meja, kopi espresso dan caramel menemani percakapan kami yang mengalir deras tentang berbagai hal yang terjadi seminggu terakhir. Sesekali saya melihat cahaya rembulan yang keperakan melalui ventilasi, lalu kembali menatap wajah kekasih yang tak kalah bercahaya.

Kopi sekali lagi membuktikan kesetiaannya menemani hidup kami yang tentu tak hanya cinta-cintaan. Dia ada saat kami bertemu pertama kali di Regal Pondok Indah Mall hampir setahun silam. Dia pun ada tatkala kami bertengkar di Anomali Setiabudi One beberapa minggu yang lalu. Dan semalam, dia masih ada saat kami bersantai di Bakoel Koffee.

Kita pindah tempat, yuk.”

Terdengar suara pintu berderit karena bergesekan dengan lantai ketika kami keluar dari tempat itu dan berjalan menuju parkiran mobil. Di langit, mega-mega berarak di sekitar rembulan yang masih bercahaya keperakan.

Begitulah hidup terus bergulir, seperti cinta kami yang terus bergerak maju. Dan, kami masih selalu bilang “ya” tatkala mendengar kata kopi. So, have you had coffee today?