Anakmu bukan anakmu.
Anak adalah kehidupan, mereka lahir
melaluimu, tetapi bukan berasal darimu.
Bersamamu, tetapi bukan milikmu…

Pada suatu masa dulu, saya pernah keranjingan mengoleksi buku-buku Khalil Gibran. Tentu saja yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Sepenggal puisi di atas adalah salah satu karya Gibran yang masih melekat di ingatan, masih selalu membuat jantung saya berdegup kencang setiap kali membacanya lagi.

Beberapa hari ini saya menyimpan sedikit kegelisahan setelah anak saya, Kemal, mengabarkan bahwa dia dan seorang teman sekolahnya terpilih mewakili wilayah Bogor untuk ikut seleksi Asia – Pacific Regional Scout Jamboree di Suncheon, kurang lebih lima jam perjalanan dari Incheon International Airport, Korea Selatan. Baru tahap seleksi. Tapi itu pun, meski saya enggan mengakui, kekhawatiran saya sebagai seorang ibu agak sedikit mengalahkan harapan agar anak saya lolos dan berangkat ke sana.

Tapi pada akhirnya memang saya harus ‘mengalah’. Tadi malam, saat mengantre tiket nonton, dia tunjukkan sms dari pembina pramukanya, bahwa dia terpilih menjadi salah satu dari 168 anak yang menjadi duta Indonesia ke event tersebut. Meleleh rasanya hati saya melihat wajahnya yang berbinar sumringah. Tanpa mempedulikan puluhan pasang mata yang memandangi kami, saya peluk kuat-kuat bocah yang badannya sekarang sudah lebih tinggi dari ibunya itu. Saya acak-acak rambutnya, saya ciumi pipinya penuh sayang.

Jagoan kecil saya yang hebat, yang nilai akamedisnya selalu di atas rata-rata, yang begitu bangun tidur langsung meraih gitar kesayangannya, membuat saya berpikir tentang satu hal: dia adalah bukti bahwa tidak semua anak yang orangtuanya berpisah akan menjadi anak yang kacau dan berantakan.

Dan seperti semua ibu di dunia ini yang cenderung menganggap anak-anaknya adalah –dan akan selalu– menjadi bayi kecilnya, barangkali sudah waktunya saya menyadari bahwa dia bukan bayi lagi. Saya harus mengajarinya mengepakkan sayap dengan berani, menyaksikan dia kelak tumbuh sempurna menjadi laki-laki sejati, sekaligus tetap menjaga dan membimbingnya dengan sepenuh doa dan kasih.

Kaulah busur, dan anak-anakmulah anak-anak panah yang meluncur…