Entah kenapa –barangkali hanya efek hormonal, atau saya aja yang memang lagi kacau– tiba-tiba saya terbayang-bayang wajah ayah saya. Membaca kesedihan dan kerinduan mbak Alissa Wahid kepada almarhum ayahandanya, mau tidak mau saya jadi teringat pada lelaki sepuh yang hampir setaun ini seperti hilang dari hidup saya. Mbak Alissa juga yang mengingatkan supaya saya menelfon bapak saya secepatnya. “You never know how much time you have with him,” katanya mencoba meyakinkan.

Saya memanggilnya bapak. Saya tidak tau pasti berapa usianya sekarang. Kalau beliau betul lahir pada bulan Juli 1946 seperti tertulis di KTP, artinya umur bapak saya sudah 64 taun. Terakhir kali saya bertemu dan sungkem mencium tangan bapak adalah lebaran taun kemarin. Dan yang terekam di ingatan adalah punggung tangannya yang semakin keriput, rambut yang hampir semuanya telah berubah putih.

Bapak.

Begitu banyak yang seharusnya bisa saya ceritakan. Saya tidak bisa bilang bahwa saya menyukai bapak sebagai sebuah pribadi. Hubungan kami berdua tidak pernah dekat, bahkan ada masa-masa saya begitu membencinya karena kesalahan besar yang dia lakukan bertaun-taun yang lalu. Juga ada masa-masa ketika saya tau, dan sadar, bahwa saya telah mengecewakan dan menenggelamkan harapan-harapan besarnya. Tapi sekali waktu, dulu, saya ingat ibu saya pernah menggambarkan beliau dengan kalimat ini; “bagaimana pun juga, bapakmu itu adalah laki-laki yang telah mengukir jiwamu.”

Dan kalimat inilah yang tidak berhenti berputar-putar di kepala saya sekarang. Apa pun yang pernah membuat hubungan saya dan beliau menjadi begitu berjarak, bapak tetaplah bapak saya, ayah yang melantunkan adzan dengan penuh cinta dan doa di telinga saya ketika baru dilahirkan, yang tak pernah lelah mendoakan anak-anaknya setiap malam dalam sujud panjangnya. Saya merinduinya malam ini.

Bapak, saya ingin pulang.