-: Why do you love me?
+: I don’t know, and I don’t care.

Love simply is.

Kurang lebih dua tahun lalu, saya menemukan potongan dialog antara Athena dan kekasihnya di salah satu halaman The Witch of Portobello karya Paulo Coelho, kemudian mengutipnya ke dalam satu tulisan lama di salah satu blog lama saya.

Jatuh suka itu mudah. Buat beberapa orang, proses dari jatuh suka ke tahap jatuh cinta juga bukan sesuatu yang perlu waktu lama. Setelah itu, ketika masa-masa manis berakhir –kekasih saya menyebutnya fase dongeng– dimulailah perjalanan cinta yang sesungguhnya. Setiap pasangan pada akhirnya harus berhadapan dengan realita yang tidak selamanya manis. Pada level ini, biasanya mulai muncul masalah-masalah kecil, sedang, sampai masalah besar yang bisa saja tidak termaafkan.

Untuk hampir semua pasangan, fase ini adalah perjuangan terberat. Bagaimana kita memperlakukan pasangan kita, menjaga perasaan dan egonya, dan seberapa mampu kita memberi ruang gerak dan jarak buat orang yang kita kasihi ini, sedikit banyak akan menentukan mulus tidaknya perjalanan itu sendiri.

Ada satu hal yang seringkali terlupakan. Karena hari-hari penuh madu telah berlalu, kadang kita lalai menjaga supaya api yang menjadi sumber energi setiap hubungan ini tidak padam. Hal-hal remeh, kejutan-kejutan menyenangkan, dan berbagai bentuk perhatian lain yang seharusnya sederhana dan tidak sulit dilakukan, dianggap tidak lagi penting. Permintaan sederhana dari pasangan bisa saja memicu pertengkaran karena dianggap mengada-ada dan berlebihan.

Di berbagai tulisan, saya mengumpamakan cinta seperti api. Atau bahkan matahari. Jika kita menyepelekan hal-hal kecil seperti ini, artinya hanya satu: hubungan yang bahkan telah berjalan puluhan tahun pun tinggal menunggu waktu.

Jangan pedulikan apimu, biarkan bara itu menyala seadanya, dan setelah itu…selesai.

Kalian usai.