Masih soal air, saya lagi bikin –pura-puranya– survey kecil-kecilan.
Dari beberapa artikel yang saya tulis sebulan dua bulan belakangan, saya penasaran, apa iya kita semua benar-benar aware dan peduli soal DARI MANA air yang kita konsumsi sehari-hari ini berasal? Saya katakan kita konsumsi, artinya adalah air yang kita gunakan setiap hari untuk minum (dan memasak), bukan air yang kita pakai mandi dan nyiram tanaman.
Faktanya adalah, berdasarkan artikel-artikel yang saya baca dari berbagai sumber dan hasil penelitian yang bisa dipercaya, kebutuhan manusia akan air minum semakin hari semakin bertambah. Sementara di sisi lain, kuantitas DAN kualitas sumber air yang tersedia saat ini berada pada level yang cukup mengkhawatirkan. Berbagai aktivitas manusia, harus kita akui telah mengakibatkan tercemarnya aliran air sungai. Sebagai catatan, air sungai inilah –yang melalui proses pemurnian yang lumayan ribet– akan berakhir di kran rumah kita dan kita gunakan untuk memenuhi kebutuhan minum dan memasak sehari-hari. Limbah pertanian, peternakan, industri, dan yang terbesar konon adalah limbah rumah tangga, you name it. Semua faktor yang saya sebut barusan turut bertanggung jawab atas penurunan mutu dan kuantitas air.
Jika kita urai satu persatu ‘dosa’ kita, barangkali akan seperti ini gambarannya.
Di kawasan hulu sungai, penggunaan pestisida, pupuk anorganik, pembuangan kotoran hewan ternak, berperan besar dalam pencemaran aliran sungai. Di kawasan pemukiman, limbah rumah tangga baik itu berupa sampah organik dan anorganik, sisa-sisa deterjen yang kita pakai sehari-hari, pembuangan tinja langsung ke badan sungai, bahkan penempatan septic tank yang sembarangan (di sini maksudnya adalah tanpa memerhatikan jarak standar antara septic tank dan sumur/sumber air), telah berkontribusi terhadap menurunnya kualitas air sungai dan tanah. Sekali lagi, air sungai dan air tanah hingga saat ini masih dikonsumsi oleh sebagian besar masyarakat untuk memenuhi kebutuhan air setiap hari.
Sedikit gambaran, sekitar sepuluh hingga dua puluh tahun yang lalu, masyarakat di berbagai daerah masih leluasa memanfaatkan sumur sebagai sumber air untuk kebutuhan sehari-hari. Persediaan air cukup berlimpah. Namun belakangan, ketika mulai marak dibangun pabrik-pabrik –terutama di kawasan pinggiran perkotaan– perlahan tapi pasti, sumur dan sumber air di daerah-daerah industri mengalami kekeringan. Bukan hanya karena limbah industri yang menyebabkan pencemaran sehingga air tanah tidak lagi layak dikonsumsi, tapi juga karena sebagian besar pabrik ini juga memanfaatkan air tanah sebagai sumber air untuk melakukan aktivitas produksinya.
Secara pribadi, fakta ini sangat mengerikan buat saya. Air bersih, yang seharusnya merupakan barang bebas yang bisa kita dapatkan gratis dari alam, sekarang telah menjadi barang ekonomi dengan nilai yang cukup tinggi. Barangkali memang akan lebih murah kalau saya berlangganan air PDAM, atau membeli air galon isi ulang yang beberapa katanya sudah melalui proses ionisasi. Tapi masalahnya, untuk hal-hal yang berhubungan dengan kesehatan keluarga, saya gak gampang percaya dan banyakan kuatirnya. Buat saya, yang terpenting bukan hanya bening dan merknya, tapi terutama adalah dari mana air minum yang dikonsumsi anak-anak saya ini berasal. Air sungai, eh maksud saya PDAM, air tanah, atau air dari sumber air pegunungan vulkanik?
Yah, gini nih kalo kebanyakan kuatir dan gak percayaan. Jadi ribet sendiri. Tapi balik ke survey kecil-kecilan yang tadi saya sebutin, saya pengen tau suara dari temen-temen sekalian soal asal muasal air minum kita. Dari mana si air ini datang, dan seberapa penting ini buat kalian?
Do we know? Do we care?



mengerikan.. air bersih yang sebenarnya ga bersih..

penting banget!
Sekadar sharing,
Australia adalah negara nomer empat terhijau di dunia tapi skaligus negara yang termasuk terkering.
Untuk kebutuhan air pada musim kemarau terkadang pemerintah melakukan pembatasan pemakaian air (water restriction) yang berbeda-beda tergantung pada persediaan air bersih.
Hah, persediaan air bersih? Yup, kebutuhan air di sini dipenuhi hanya dari tampungan air bersih berupa ‘danau-danau’ buatan, dan dari situ pemerintah menentukan akan seburuk apa krisis air dalam setiap waktu..
Kita, orang Indonesia, harusnya bersyukur belum ada pembatasan seperti itu.
Tapi bersyukur saja tak menyelesaikan masalah ya, Mbok?
maaf komenku kepanjangan…
Mbok, air dan bijak dalam penggunaannya.. memang mesti diajarkan kepada manusianya sejak dini.. agar nggak sembrono dan mengakibatkan apa yang kita alami saat ini.. gak di afrika sini atau di Indonesia..
Kita bisa kok bangkit danmerubah dari kondisi sekarang menjadi kelak lebih baik bila dimuai dari sekarang.. dengan serius tentunya..
kalo aku sbnrnya ga terlalu peduli haha.. kan udh ada yg ngurusin gini2an. aku yg penting main gitar aja
kayanya sih semua tergantung daya tahan tubuh masing2 sih, saya sih pake air PDAM yg terlihat jernih dan bersih (bukan yg kekuningan ato ada tanah2nya lho) trus dimasak sampe mendidih aja udah merasa itu aman diminum.
pikiran juga mempengaruhi biasanya, klo pas minum udah was2 ini bersih nggak ya, bikin sakit nggak ya? biar air pegunungan dgn 7x penyulingan tetep bisa bikin sakit perut juga sepertinya
seriusan? haduh… tapi saya termasuk yg jarang minum air putih..
teh kotak mulu sih, itu lebih ga sehat yul
orang bijak, irit pke air..hehe
salam kenal y..
orang pintar pasti tahu akan pentingnya air..


nice post…
salam deace
Kalo di Jayapura, sumber air bersihnya masih terjamin.

Sumber airnya langsung berasal dari mata air yang terdapat di gunung Cyclop.
Kualitas dan kontinuitasnya juga masih tercukupi
Save our water for a better life
iya ya mb… dari mana ya? jgn hanya percaya pada merk dan kejernihannya ya? duuuuuhhh… jadi mikir nih… posting depan ttg hasil survey kecil2-an ini ya mb.. biar dapat pandangan dikit2..
hal penting ini banyak dilupakan orang mbok. kalo aku krn kerjaan emang edukasi lingkungan banyak juga mencari data ttg ini buat kampanye, yah walau sering gak sempat nulis di blog
faktanya mengerikan memang. kepedulian individu sangat dibutuhkan, termasuk sikap thd air, tidak boros, tidak mencemari…tidak mengomeli air. ini erat hubungan dg sifat air yg hidup (penelitian dr emoto yg pernah juga aku komen before), dalam alquran juga ada. karenanya salah satu upaya mengembalikan sifat air yg tercemar adalah berdoa di dengar air.
aku paling nggak suka istilah ‘ke laut aja’ emang itu sepertinya sepele, tp dg istilah itu mencerminkan betapa kita tidak menghargai laut/air, seolah2 laut adalah tempat pembuangan sampah (beracun pula!)…lebih detail lg sungai, tanah dsb.
kemarin aku ikutan mandi2 di sungai (tempat pariwisata di medan), eh pulang2 malah2 gatal2!
yg paling bergaung tentunya penegakan hukum oleh pemerintah (yg sikonnya membuat frustrasi), optimismeku adalah pada perubahan sikap pribadi warga…
post yg keren! I like this
Itulah mbok, kenapa saya jarang mandi. Hemat air bersih..
padahal *katanya* indonesia negara berkembang..tapi urusan kayak gini aja gak berkembang-kembang solusinya malah nambah masalah..yang berkembang cuma korupsinya aja..(annoyed)
air sangat lah berharga buat manusia.bila tidak ada air dunia ini akan kering dan tak ada siklus atau udara yang dihirup…betapapun karunia Tuhan sangat berharga untuk kita dan syukurilah atas ciptaannya
jadi inget iklan dah
nice,,,,, postt,,,,,,
sgt brmanfaat broo,,,,,,,
knjngi jg blog saya : blog unand
dan website kami :Penelitian LPM Unand
thanks,,,,,
nice poting..kreatif..
Buat saya penting banget… selama ini kami minum dari air sumur di belakang rumah… Meski awalnya agak khawatir dengan kadar Fe karena rumah bekas sawah dan masih ada sawah di belakang rumah. Saya sempet melakukan uji lab, jadi saya ambil sebotol air sumur dan saya bawa ke lab untuk dilihat apakah kandungan fe nya berlebihan akibat pestisida. alhamdulillah hasilnya dalam kadar yang aman untuk dikonsumsi. Segitu ribetnya ya, sayah…. he..he…