Untuk pecandu kopi seperti saya, yang dalam sehari bisa menghabiskan tiga sampai empat mug kopi dari berbagai jenis –dari yang instan, kopi hitam tanpa gula, kopi sachet dengan krim–, teh memang seperti pacar ketiga saja. Pilihan pertama selalu kopi. Pilihan kedua, kopi. Saya bahkan hanya minum teh kalau terpaksa, misalnya karena sudah terlalu banyak asupan kafein, atau pada saat demam.

Tapi teh yang satu ini mau gak mau membuat saya gemes. Judulnya aja unik: Teh Pokil. Nama yang aneh, setidaknya buat saya yang bukan orang Solo. Tapi menurut Pak Blontank, temen ‘baru’ saya (pakai tanda petik karena sebenarnya saya tau beliau sejak lama tapi baru kenal dan ketemu sekarang-sekarang ini setelah kita temenan di twitter), untuk warga Solo, teh pokil bukanlah barang baru.

Pokil, artinya kurang lebih akal-akalan. Teh Pokil, barangkali kalau disederhanakan adalah cara ‘curang’ meramu teh, yaitu dengan mencampur beberapa jenis teh dari berbagai merk yang akan menghasilkan rasa teh yang khas dan berbeda. Masih menurut Pak Blontank, campuran yang paling nendang adalah oplosan dari merk teh produksi Slawi, Pekalongan, Pagilaran, dan Wonosobo.

Sepertinya gampang dan semua orang pasti bisa bikin teh pokil sendiri, ya? Tapi saya pikir, perlu tangan dingin, feel, dan pemahaman tertentu sehingga satu ‘teh curang’ hasil oplosan seseorang sanggup membuat orang lain ketagihan, seperti yang terjadi pada banyak temen saya. Seorang kawan bahkan menjuluki teh pokil ramuan Pak Blontank dengan teh jahanam.

Dan berkat Twitter yang ribut, lucu, dan berisik, semakin hari semakin banyak yang tau dan mulai kecanduan Teh Pokil. Keren banget. Satu lagi bukti nyata kekuatan viral effect dari social media seperti Twitter. Dan sekarang, sejak ribut-ribut di Twitter itu, pesanan mulai berdatangan, permintaan kiriman teh aneh ini terus mengalir tanpa bisa dicegah. Kabar terakhir yang saya dengar, teh oplosan Pak Blontank akan segera (atau sudah?) menjadi salah satu minuman andalan di Kopi Tiam Oey milik Pak Bondan Winarno selain –tentu saja– di angkringan Wetiga, Jalan Langsat.

Monggo lho, dicoba.