Garis Darah

Bahwa darah lebih kental daripada air, siapa pun pasti tau. Dan tentang pertalian darah sebuah keluarga yang terpecah itulah yang akan saya bagi melalui tulisan ini.

Hidup memang tak selalu ramah. Tidak semua orang cukup beruntung memiliki keluarga yang utuh, yang happily ever after. Apa pun bisa terjadi dalam perjalanan hidup –dan perkawinan– seseorang. Sialnya, seringkali manusia memang tidak bisa menghindar dari sesuatu yang bernama takdir. Jodoh, rejeki, dan kematian, ketiganya sungguh bukan kuasa kita.

Itu juga yang membuat Elia, lelaki terindah saya ini, kehilangan Ratna. Dan takdir jugalah yang akhirnya membuat mereka kembali saling menemukan. Barangkali bukan tanpa maksud apa-apa jika Tuhan melakukan ini: memisahkan dan mempertemukan mereka lagi.

Lima belas tahun yang lalu adalah saat terakhir kali mereka bertemu. Yang terekam di benak keduanya barangkali hanya potongan-potongan kabur dari kenangan masa kecil, wajah-wajah bocah tujuh dan sembilan tahun dengan segala kelucuan dan kepolosan mereka. Dan kemarin, setelah beberapa hari saya dan Ratna mati-matian merahasiakan rencana kedatangannya ke Jakarta, saya menyaksikan momen indah perjumpaan kembali dua ‘bocah’ yang selama belasan tahun terpisah. Pada awalnya, Elia sama sekali tidak mengenali saudara sepupunya yang kini telah tumbuh menjadi perempuan muda yang cantik. Dia menjabat tangan Ratna dengan sopan, tanpa sedikit pun menyadari bahwa perempuan yang berdiri di depannya adalah bocah yang sama yang dia kenal lima belas tahun yang lalu.

Entah apa yang ada di benak mereka ketika sesaat kemudian Ratna dengan ringan membuka percakapan. “Mas Bintang, masih inget aku, nggak?” Sayalah yang justru setengah mati menahan diri supaya tidak menjadi terlalu emosional dan menitikkan air mata.

Teh Pokil 2.0

Untuk pecandu kopi seperti saya, yang dalam sehari bisa menghabiskan tiga sampai empat mug kopi dari berbagai jenis –dari yang instan, kopi hitam tanpa gula, kopi sachet dengan krim–, teh memang seperti pacar ketiga saja. Pilihan pertama selalu kopi. Pilihan kedua, kopi. Saya bahkan hanya minum teh kalau terpaksa, misalnya karena sudah terlalu banyak asupan kafein, atau pada saat demam.

Tapi teh yang satu ini mau gak mau membuat saya gemes. Judulnya aja unik: Teh Pokil. Nama yang aneh, setidaknya buat saya yang bukan orang Solo. Tapi menurut Pak Blontank, temen ‘baru’ saya (pakai tanda petik karena sebenarnya saya tau beliau sejak lama tapi baru kenal dan ketemu sekarang-sekarang ini setelah kita temenan di twitter), untuk warga Solo, teh pokil bukanlah barang baru.

Pokil, artinya kurang lebih akal-akalan. Teh Pokil, barangkali kalau disederhanakan adalah cara ‘curang’ meramu teh, yaitu dengan mencampur beberapa jenis teh dari berbagai merk yang akan menghasilkan rasa teh yang khas dan berbeda. Masih menurut Pak Blontank, campuran yang paling nendang adalah oplosan dari merk teh produksi Slawi, Pekalongan, Pagilaran, dan Wonosobo.

Sepertinya gampang dan semua orang pasti bisa bikin teh pokil sendiri, ya? Tapi saya pikir, perlu tangan dingin, feel, dan pemahaman tertentu sehingga satu ‘teh curang’ hasil oplosan seseorang sanggup membuat orang lain ketagihan, seperti yang terjadi pada banyak temen saya. Seorang kawan bahkan menjuluki teh pokil ramuan Pak Blontank dengan teh jahanam.

Dan berkat Twitter yang ribut, lucu, dan berisik, semakin hari semakin banyak yang tau dan mulai kecanduan Teh Pokil. Keren banget. Satu lagi bukti nyata kekuatan viral effect dari social media seperti Twitter. Dan sekarang, sejak ribut-ribut di Twitter itu, pesanan mulai berdatangan, permintaan kiriman teh aneh ini terus mengalir tanpa bisa dicegah. Kabar terakhir yang saya dengar, teh oplosan Pak Blontank akan segera (atau sudah?) menjadi salah satu minuman andalan di Kopi Tiam Oey milik Pak Bondan Winarno selain –tentu saja– di angkringan Wetiga, Jalan Langsat.

Monggo lho, dicoba.

Belajar ReksaDana

Seharusnya postingan ini masuk ke dalam tag atau kategori sotoy, karena kalo ngomongin segala sesuatu yang ada hubungannya dengan uang, ilmu ekonomi, perbankan, investasi dan segala jenis investasi, saya bener-bener nol besar alias gak ngerti apa-apa. Saya taunya cuma prinsip dasar: pengeluaran harus lebih kecil daripada pemasukan. Kalo gak, ya tekor.

Tapi baiklah, sambil belajar dan sebagai pengingat bahwa bagaimana pun juga keadaan keuangan kita harus selalu dalam keadaan sehat wal afiat, saya pengen share sedikit saja –sangat sangat sangat sedikit– tentang reksa dana, topik yang akhir-akhir ini sepertinya menarik minat banyak orang termasuk saya. Saya sendiri belum mulai berinvestasi di reksa dana karena belum bener-bener ngerti dan takut salah langkah *halah*.

Setau saya sih, reksa dana yang dalam bahasa Inggris disebut dengan mutual funds, atau mas Aidil Akbar sering menyebutnya keranjang investasi, adalah bentuk investasi yang dilakukan secara kolektif, dengan cara mengumpulkan/menyetor sejumlah uang tertentu kepada pihak penjual (pengelola?) dana tersebut. Dana yang terkumpul ini kemudian akan diinvestasikan ke berbagai produk atau instrumen investasi oleh seorang Manajer Investasi. Kemana? Ada beberapa pilihan. Bisa ke saham, deposito, atau obligasi (surat hutang). Soal berapa persen akan disalurkan kemana, manajer investasilah yang nanti akan menentukan.

Pertanyaan yang biasanya muncul, amankah dana yang kita titipkan tadi? Saya yakin sih aman, karena manajer investasi adalah orang-orang yang memang sudah berpengalaman di bidangnya. Pertanyaan berikutnya mungkin soal likuiditas atau kemudahan pencairan dana. Dari beberapa artikel yang saya baca dengan susah payah (karena kedodolan saya), reksadana cukup menyenangkan, karena –tidak seperti deposito– investor leluasa untuk menyetor dan mencairkan dana simpanannya kapan saja.

Yang saya masih lumayan bingung, bagaimana cara memilih perusahaan dan atau manajer investasi yang paling bisa dipercaya, supaya saya bisa segera praktek dan membuktikan bahwa reksadana memang salah satu cara investasi yang aman dan nyaman.

Mari kita ngobrol langsung dengan pakarnya di acara Kopdar Ngobrolin Duit AFC tanggal 26 Mei 2010. Be there!