Do you believe in God? Stop questioning if you do. Stop asking why.
Semua orang, siapa pun itu, pasti punya masalahnya sendiri. Semua manusia punya ketakutannya masing-masing. Takut mati, takut gagal, takut menghadapi hidup dan segala persoalan kehidupan.
Saya juga. Dan kadang saya benci kalau orang menggambarkan –atau membayangkan– saya sebagai perempuan tangguh. Kata siapa? Kata siapa saya tangguh? Siapa bilang saya kuat? Saya, di luar yang terlihat atau berusaha saya perlihatkan ke permukaan, tetaplah perempuan dan manusia biasa. Ada saat-saat saya jatuh jumpalitan terguling-guling, ada kalanya saya merasa sendirian dan takut pada banyak hal. Dan tanpa saya sadari, kadang ketakutan-ketakutan itu sedemikian hebatnya sampai-sampai saya lupa satu hal: bahwa Tuhan, sang Maha Segala, Dia ada. Dekat, sangat dekat, lebih dekat bahkan dari batang leher saya. Tuhan menjaga supaya jantung saya tetap berdenyut hingga hari itu tiba, saat Dia memanggil saya pulang.

Semua yang saya alami beberapa bulan belakangan ini membawa saya kepada satu pemahaman baru. Hal mendasar yang seharusnya saya mengerti sejak dulu, yaitu bahwa semua ketakutan saya sama sekali tidak beralasan. Malu rasanya kalau saya masih takut pada manusia lain. Malu kalau masih saja mengeluhkan ini itu padahal kalau mau menghitung-hitung, bahkan kalkulator paling canggih pun tidak akan mampu menerjemahkan apa saja yang telah Tuhan berikan kepada saya hingga hari ini.
Dan di satu tempat di Bogor pada suatu sore, sambil menunggu seorang teman datang untuk ketemu saya dan Elia, langit senja begitu indahnya. Hanya dalam hitungan beberapa menit, warnanya yang semula keemasan menjelma ungu. Genit dan cantik.
Menyaksikan Tuhan memoles langit dengan warna-warni indah seperti itu, rasanya tak cukup kalau saya katakan bahwa saya takjub. Saya bersyukur, tidak habis-habisnya mensyukuri hidup yang indah meski terkadang membuat saya takut. Bersyukur untuk langit berwarna jingga menyala namun kemudian berubah ungu sebelum malam benar-benar jatuh, juga untuk lelaki yang sepertinya selalu punya energi untuk memberi saya kekuatan setiap kali saya nyaris menyerah.
Sore itu, saya berhenti mempertanyakan keberadaan-Nya.

Kopi itu candu. Setuju.
Saya lupa sejak kapan tepatnya saya mulai jadi pecandu kopi. Bukan penikmat, karena beberapa kali saya merasa mood kacau gak karuan, kepala dan suasana hati rasanya berantakan dan bawaannya jadi gak fokus, dan di saat-saat semua terasa aneh seperti itu, saya langsung tau bahwa tubuh saya sedang sakaw kopi. Saya butuh asupan kafein untuk membuat keadaan emosi saya balik ke level normal.
Dan pekerja freelance seperti saya, setau saya sih, memang jam kerjanya gak pasti. Gak ngikutin jam kerja kantoran dan orang-orang kebanyakan. Di waktu-waktu tertentu saya harus melek dan ngerjain tugas sampe pagi, pada jam-jam di mana orang lain sedang enak-enaknya tidur. Enak sih, gak terikat jam kerja yang 9 to 5, gak harus bangun pagi, gak harus berdandan wangi trus nguber-nguber bis supaya gak telat nyampe kantor.
Tapi gak enaknya, kondisi ini bikin kecanduan saya sama kopi semakin parah. Sehari semalam, artinya dari pagi sampe pagi lagi, saya bisa mengkonsumsi 3 (tiga) sampe 4 (empat) mug kopi. Kadang lebih dari empat, tergantung kebutuhan. Bukan supaya saya gak ngantuk dan bisa begadang, karena ternyata buat saya, ngopi atau gak ngopi sama sekali gak ada hubungannya sama kantuk. Beda urusan banget. Kafein nyaris gak ada pengaruhnya, gak bikin saya lebih kuat melek, misalnya.
Padahal saya tau, dan semua orang saya yakin juga cukup tau, terlalu banyak mengkonsumsi kopi (lebih dari 3 cangkir sehari, demikian yang saya baca) bener-bener bukan kebiasaan yang bagus buat kesehatan. Secara medis, kafein yang terkandung dalam kopi, pada takaran tertentu dapat menimbulkan bermacam-macam gangguan kesehatan, dari jantung berdebar hingga meningkatnya kemungkinan terserang berbagai penyakit yang dari namanya aja udah bikin ngeri.
Ah, kalau ngomongin penyakit emang serem, sih. Tapi kalo disuruh stop minum kopi, rasanya saya juga gak bisa. Gak kebayang harus nulis atau ngerjain ini itu tanpa secangkir kopi di depan saya. Yang bisa saya lakukan untuk mengurangi efek buruk kafein, paling-paling saya berusaha ngurangin jumlah kopi yang saya minum dan memperbanyak konsumsi air putih. Sebanyak-banyaknya. Dua gelas besar setiap bangun tidur, dan bergelas-gelas lagi pada siang dan malam hari. Ada gunanya atau gak, saya gak tau. Mudah-mudahan sih ada, ya? Saya gak pengen sakit apalagi sakit yang aneh-aneh. Amit-amit lah.
Oiya, satu lagi yang bikin saya berusaha banget supaya gak lupa minum air putih banyak-banyak, setidaknya 10 gelas sehari: selain kopi, kadang-kadang saya juga minum bir dan kakak-kakaknya bir.
D’oh!
”If you want to discover new lands, be prepared to lose sight of the shore.”

Tentang seseorang yang tetap berdiri saat mentari bersinar terlalu pijar. Tentang perempuan yang tetap teguh saat dunia menyudutkannya dan memberai-beraikan apa yang selama ini ia bangun. Tentang kekasih yang tak pernah berhenti memelangikan hidup saya.
Pukul sepuluh pagi. Saya membuka mata dan memulai hari tanpa rencana apa-apa. Sambil menikmati setangkap roti dan secangkir kopi hangat, saya menyapa sang pelangi lewat Yahoo Messenger.
”Morning, love.”
”Pagi, sayang…”
Percakapan kami mengalir seperti biasa, seolah tak ada kekalutan yang sedang menyelimuti dirinya. Mungkin ia tahu saya tak terlalu suka drama, atau mungkin ia tak ingin menghujani pagi saya dengan problematika. Apa pun alasannya, saya percaya itu untuk kebaikan kita.
”Aku barusan nangis.”
Akhirnya, ia tak tahan untuk memendam kepedihan yang semakin lama semakin melukainya. Ia menumpahkan kekecewaannya pada beberapa hal dan menyerapahi seseorang yang selama ini telah menghambat dirinya dalam perjalanan menuju kebahagiaan.
Setengah jam berlalu. Tiba giliran saya untuk meneduhkan hatinya yang sedang memanas. Saya tak ingin menceramahi dan tak ingin juga menggurui. Saya tahu setiap perempuan sebenarnya mengerti apa yang harus dilakukan terhadap persoalannya. Kekasih saya hanya ingin melegakan hatinya.
”Sabar ya, sayang. Ini bukan satu masalah. Ini sering terjadi, yang artinya ini adalah suatu pola. It has to stop. Someone has to break the cycle. Kalau dia gak mungkin mengubahnya, berarti kamu yang harus lakuin itu.”
Kekasih saya menangkap maksud kalimat-kalimat saya. Ia hanya membutuhkan waktu untuk menenangkan diri dan melakukan apa yang harus dilakukan. Bukan hal yang mudah, tapi tidak juga mustahil.
Inilah esensi suatu hubungan. Seseorang menopang satu sama lain agar tak jatuh tergeletak. Seseorang memercayai satu sama lain saat tak ada lagi yang bisa diandalkan.
Dalam hubungan kami, saya selalu berusaha membintangi hatinya dan ia memelangikan hidup saya. Suatu saat nanti, kami akan melepaskan pandangan dari pantai ini dan merapat ke daratan yang baru.
Ya, suatu saat nanti.