Gue adalah melodi. Seorang pecandu estetika yang seringkali hanyut dalam fantasi idealisme. Seorang pengembara yang menjelajahi bumi dan merangkum maknanya dalam bait-bait lagu.

Dia adalah ritme. Seorang pemimpi yang realistis, namun telah memetik bintang tanpa menyadarinya. Sosok perempuan yang terkadang gelap, namun telah menjadi pelita untuk orang-orang di sekitarnya.

Cara Elia menulis apa yang ia lihat dan rasakan tentang saya dan kebersamaan kami berdua kadang membuat saya menangis.

Saya bukan perempuan yang gampang jatuh cinta. Tapi sekalinya jatuh, keadaan emosi saya bisa dengan sangat parah berubah-ubah. Saya bisa dengan gampang merasa menjadi makhluk paling berbahagia, kemudian pada menit berikutnya mendadak sedih dan mellow gak jelas hanya oleh hal-hal kecil yang juga gak jelas. Masalah-masalah sepele (yang seharusnya gak masuk daftar masalah) dengan sangat mudah membuat saya ngambek seperti bocah belasan taun yang baru pertama kali kenal kata pacaran.

Elia dan saya.

Dia pendiam, saya cenderung berisik kalo ketemu temen yang cocok. Dia pemuja logika, sementara saya punya keahlian khusus mendramatisasi sesuatu dan menjadikannya sangat tidak logis, yang biasanya berakhir dengan ribut-ribut aneh dan gak penting. Saya cemburuan, gak percayaan, gampang ngedrop begitu ketemu masalah. Dia, bertolak belakang dengan saya yang penuh drama, adalah orang yang sangat tenang, percaya diri, dan dengan keren menghadapi dan menyelesaikan semua masalah.

Ada satu hal yang menurut saya paling keren dari Elia: dia gak pernah malu dan berusaha menutup-nutupi kebersamaan kami berdua. Saya, karena memang adalah ratu segala drama, kadang masih merasa risih karena bagaimana pun, perbedaan usia yang tujuh belas taun membuat hubungan kami rentan dan renyah jadi bahan cibiran dan gosip murahan.

Saya jatuh cinta. Apa yang terjadi esok, minggu depan, atau bulan depan, saya berusaha untuk tidak bertanya-tanya lagi. Kami tak punya rencana apa-apa, hanya mencoba patuh pada garis takdir. Hidup telah mengajarkan banyak hal, dan saya telah sampai pada titik di mana saya tak lagi peduli kemana arah hubungan ini, atau kapan kami harus berakhir. Kami jalani apa yang harus kami jalani, sampai waktu memaksa kami berhenti.

Tapi kalau boleh jujur, saya ingin –sangat ingin– waktulah yang berhenti. Sekarang, agar saya tak perlu kehilangan.