Jogja bukan lagi Jogja seperti yang saya ingat puluhan tahun yang lalu. Perjalanan singkat ke kota ini kemarin mengingatkan saya bahwa masa lalu memang seharusnya menjadi milik masa lalu. Bahwa kenangan, sejuta kenangan yang tercecer di sana tidak lagi berarti apa-apa selain sepenggal kisah atau potongan-potongan gambar yang meski lekat terekam namun hanya akan tinggal sebagai sejarah.
Jogja kini, adalah malam yang riuh oleh tawa dan pelukan hangat sahabat-sahabat baru saya di sana. Adalah gerimis di stasiun Tugu, kopi jos, dan perbincangan panjang yang memaksa kantuk menyerah kalah.
Jogja adalah denting-denting nada yang mengalun pelan pada suatu dini hari yang dingin, adalah suara lembut seseorang menyanyikan lagu manis yang dia ciptakan beberapa hari sebelum kami memulai perjalanan ini.

ada banyak pelangi telah kita warnai
waktu terus berjalan
kusadari kau yang kuinginkan
aku cinta kepadamu
sepenuh hatiku
lebih dari sekedar kata-kata
kuingin kau memahami…
Jakarta-Jogja-Jakarta. Tiga hari yang membuat saya enggan pulang. Tiga hari yang akan selalu membuat saya mengingat Jogja dan lelaki terindah dalam hidup saya kini.
Dan di ketinggian 9000 kaki, terjebak di tengah bentangan awan yang menakutkan, tangan kita erat bergenggaman. Tiga kata sakti itu, seperti kamu, masih saja memabukkan.
Tiga kata. I love you.
Gue adalah melodi. Seorang pecandu estetika yang seringkali hanyut dalam fantasi idealisme. Seorang pengembara yang menjelajahi bumi dan merangkum maknanya dalam bait-bait lagu.
Dia adalah ritme. Seorang pemimpi yang realistis, namun telah memetik bintang tanpa menyadarinya. Sosok perempuan yang terkadang gelap, namun telah menjadi pelita untuk orang-orang di sekitarnya.

Cara Elia menulis apa yang ia lihat dan rasakan tentang saya dan kebersamaan kami berdua kadang membuat saya menangis.
Saya bukan perempuan yang gampang jatuh cinta. Tapi sekalinya jatuh, keadaan emosi saya bisa dengan sangat parah berubah-ubah. Saya bisa dengan gampang merasa menjadi makhluk paling berbahagia, kemudian pada menit berikutnya mendadak sedih dan mellow gak jelas hanya oleh hal-hal kecil yang juga gak jelas. Masalah-masalah sepele (yang seharusnya gak masuk daftar masalah) dengan sangat mudah membuat saya ngambek seperti bocah belasan taun yang baru pertama kali kenal kata pacaran.
Elia dan saya.
Dia pendiam, saya cenderung berisik kalo ketemu temen yang cocok. Dia pemuja logika, sementara saya punya keahlian khusus mendramatisasi sesuatu dan menjadikannya sangat tidak logis, yang biasanya berakhir dengan ribut-ribut aneh dan gak penting. Saya cemburuan, gak percayaan, gampang ngedrop begitu ketemu masalah. Dia, bertolak belakang dengan saya yang penuh drama, adalah orang yang sangat tenang, percaya diri, dan dengan keren menghadapi dan menyelesaikan semua masalah.
Ada satu hal yang menurut saya paling keren dari Elia: dia gak pernah malu dan berusaha menutup-nutupi kebersamaan kami berdua. Saya, karena memang adalah ratu segala drama, kadang masih merasa risih karena bagaimana pun, perbedaan usia yang tujuh belas taun membuat hubungan kami rentan dan renyah jadi bahan cibiran dan gosip murahan.
Saya jatuh cinta. Apa yang terjadi esok, minggu depan, atau bulan depan, saya berusaha untuk tidak bertanya-tanya lagi. Kami tak punya rencana apa-apa, hanya mencoba patuh pada garis takdir. Hidup telah mengajarkan banyak hal, dan saya telah sampai pada titik di mana saya tak lagi peduli kemana arah hubungan ini, atau kapan kami harus berakhir. Kami jalani apa yang harus kami jalani, sampai waktu memaksa kami berhenti.
Tapi kalau boleh jujur, saya ingin –sangat ingin– waktulah yang berhenti. Sekarang, agar saya tak perlu kehilangan.

Yang diperlukan hanya ini: matikan lampu dan berbagai peralatan elektronik yang tidak sedang dipakai, atau yang dalam keadaan stand-by pada Sabtu 27, Maret 2010, pukul 20.30 – 21.30 (waktu setempat).
Jika 10 % saja dari penduduk Jakarta berpartisipasi dalam EARTH HOUR, maka kita telah bersama-sama menghemat 300MWh konsumsi listrik yang setara dengan 267,3 ton CO2, hemat lebih dari 267 pohon, menghemat persediaan O2 untuk lebih dari 535 orang (secara matematis, 1 pohon mampu memberikan O2 bagi 2 orang dalam 20 tahun masa hidupnya).
Apabila target 5000 kota di seluruh dunia tercapai di event lingkungan hidup terbesar tahun ini tercapai, dan aksi kecil yang mudah dan sederhana ini terus kita lakukan setiap hari sepanjang taun, bayangkan apa yang telah kita semua sumbangkan untuk menyelamatkan planet yang kita tinggali ini dari efek gas rumah kaca dan percepatan pemanasan global.
Jangan bilang global warming is nonsense. Kita telah menjadi saksi dari perubahan iklim yang ekstrim, kenaikan dramatis temperatur rata-rata Bumi sehingga menyebabkan naiknya permukaan air laut, musim kemarau panjang, badai, dan begitu banyak kejadian alam yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tidak seseram beberapa taun belakangan ini.
Satu jam saja. Bukan sesuatu yang sulit.
Mari lakukan sesuatu. Selamatkan bumi kita, karena kita bisa.
*tautan: http://earthhour.wwf.or.id/