Tadinya saya gak pengen nulis tentang Valentine’s Day. Tapi sesuatu membuat saya –meski terdengar lebay– meleleh dan kehabisan kata-kata.

Cuaca yang lagi gak karuan dan kondisi badan yang lagi ngedrop membuat saya nyerah, melewatkan malam minggu di rumah dan gak jadi pergi ke pesta ulangtaun temen abege saya, si Benazio (dia yang abege, bukan saya). Trus pas lagi di dapur bikin kopi, tiba-tiba precil saya yang masih klas 4 SD nyodorin sesuatu.

“Ibu, ini buat ibu.”

Beberapa detik saya bengong, gak ngeh, cuma ngeliatin bungkusan rapi mirip kado bergambar strawberry di tangan anak saya.

“Eh? Ini apa, sayang?”

“Kado Valentine.”

“Buat ibu? Beneran? Dari kamu sama mas Kemal, ya?”

“Gak. Aku beli sendiri kok. Kita buka di kamar, yuk..”

Hanya karena gak mau dia liat saya nangis, saya tahan-tahan air mata sebisanya dan nurut aja waktu dia tarik tangan saya ke kamar, dan saya biarkan dia membuka bungkusan kado sambil mendengar dia ngoceh tentang sekotak cokelat berbentuk hati yang dia beli seharga lima belas ribu rupiah di ibu guru sekolahnya.

Barangkali inilah Valentine’s Day termanis dalam hidup saya. Dengan kepolosan kanak-kanaknya, lelaki kecil ini mengajari saya satu hal: cinta ternyata begitu sederhana. Sebentuk cokelat lima belas ribuan pun sanggup membuat saya merasa menjadi perempuan paling sempurna.

Happy Valentine’s Day, people. Katakan cinta kepada orang-orang yang kalian sayangi. Sekarang. Say it while you can, while you’ve still got time. Gak perlu sesuatu yang ribet atau hadiah-hadiah mahal untuk membuat mereka bahagia, kok. Just a simple ‘I love you’ will do.