Februari. Bahkan sebelum Valentine’s Day tiba, aroma cinta terasa begitu pekat menggantung di udara. Dan seperti sebuah keharusan, dengan mudahnya kita temukan kotak-kotak kado cantik merah muda, mawar-mawar imitasi, dan ornamen bergambar hati di mana-mana.

Buat sebagian orang, barangkali cinta hanyalah sebuah kata benda yang terlalu biasa saking seringnya kita dengar dan ucapkan. Tapi tidak buat saya. Ia adalah hasil akhir dari suatu proses panjang. Mencintai, artinya seseorang paham dan tau memaknai segala manis getir di setiap putaran kehidupan, belajar dari setiap kesalahan, sesekali menertawai kesialan, dan bersyukur bahkan atas tiap tetes air mata yang kita sembunyikan. Cintalah yang membuat kita hidup. Dan pada tataran tertinggi, buat saya, cinta adalah kehidupan itu sendiri.

Dua buku di atas, When Silly met Venus dan Berbagi Cerita Berbagi Cinta, mungkin bukan karya terbaik saya. Belum. Rasanya masih jauh dari sempurna untuk dengan bangga saya pamerkan kepada semua orang bahwa saya bisa menulis dan punya karya. Mimpi saya belum seutuhnya terwujud. Tapi apa pun, kedua buku ini ada dan lahir karena mimpi tanpa batas, harapan, dan kesungguhan. Sisanya adalah keajaiban.

I’ve done my part. Semesta melakukan tugasnya, dan cinta menggenapinya.