“Gak tahan diem lebih lama. What do you want from me? Aku capek. Maunya apa sih? That night, kamu ngrusak suasana, kamu gak nganggep aku ada and I’m sick of it. Can’t play this game anymore. Not this way.”
Message sent.
Dan beberapa saat kemudian, layar hape saya berkedip. Email balasan yang tak kalah dingin masuk ke inbox saya.
“Aku prefer kita ngobrolin ini langsung pas kita ketemu. Ntar kita kabar2an lagi aja. Aku tidur dulu.”
Shit.

Beberapa hari setelah itu, kami berdua masih sama-sama diam. Saya dengan kesombongan yang dengan luar biasa muncul ke permukaan saat merasa tersakiti, dia dengan egonya. Kami hanya ngobrol lewat email-email pendek yang terasa aneh karena sama sekali gak ada manis-manisnya. We were not being ourselves. Bukan saya dan dia yang biasanya.
Diam. Padahal hampir setiap saat saya melihat namanya muncul di mana-mana. Saya mengamati dengan siapa saja dia bicara dan berinteraksi. Saya yakin dia juga pasti diam-diam mencari tau apa yang saya tulis dan lakukan. Dia pasti tau apa yang saya rasakan karena pada dasarnya saya bukan orang yang pandai menyimpan perasaan. Saya sedang amat sangat marah, saking marahnya saya bahkan sudah sampai di titik ‘udahlah terserah, sana pergi aja, aku udah males mikir.’ Itu dia pasti juga tau.
Padahal yang saya inginkan hanya satu: jangan diam. Let’s talk, let’s fix this. Diam gak menyelesaikan masalah. Dan membiarkan satu masalah nginep sampai berhari-hari, buat saya hanya menambah masalah-masalah baru yang seharusnya gak perlu ada. If we can talk about it now, then why wait?
Saya benci diam dan menunggu. Dunia tanpa kata benar-benar bukan dunia saya, karena saya terbiasa njeplak, apa pun yang saya rasakan, apa yang saya suka atau apa yang saya gak suka, biasanya langsung saya utarakan. Dan ketika sms dan telfon saya nabrak tembok, gak satu pun dia jawab, kemarahan saya naik sampai ke ubun-ubun.
Tadi malam, over coffee, kami berdua akhirnya bicara dari hati ke hati seperti yang dia mau.
“We need to talk. Masalah kita selalu terulang karena bentuk komunikasinya selalu email atau chat. Masalahnya real, tapi penyelesaiannya gak real. I want to see your face when we talk, and you can see mine, too.”
Fine, baby. Fine.
Dan begitulah, semuanya menjadi jelas setelah kami bertemu. Sekarang saya tau kenapa dia lebih suka diam dan menunggu. Dia juga tau kenapa saya benci diam dan menunggu. Saya jadi tau apa yang membuat dia marah sampai berhari-hari, dan semoga dia juga tau apa yang membuat saya membencinya empat hari kemarin. Dan ternyata jawaban dari semua masalah kami hanya satu: karena dia laki-laki dan saya perempuan. Dia Mars, saya Venus. Saya tidak bisa berpikir seperti cara dia berpikir, dia juga tidak bisa melihat satu masalah seperti cara saya melihat masalah yang sama. Solusinya juga cuma satu, basi banget karena semua orang juga tau, tapi ya memang cuma itu keyword-nya: komunikasi.
Have a nice long weekend, everyone.
19 Februari 2010.
Jakarta kuyup diguyur hujan deras sejak sore. Macet di mana-mana, di beberapa titik malah kabarnya sedikit banjir. Mungkin itu juga sebabnya, acara ngumpul-ngumpul warga ngerumpi.com malam itu agak sepi. Gak sepi banget sih, tapi harusnya bisa lebih rame. Beberapa temen yang tadinya udah konfirm mau dateng akhirnya batal hadir karena hujan gede, banjir, kejebak macet, atau susah nyari taksi.
Mungkin salah saya juga sih, suka sok kuat dan sombong gak jelas. Apa-apa dikerjain sendiri, lupa kalo sebenernya banyak temen yang bisa diandalkan dan dengan senang hati bersedia nolongin pas dibutuhin gini. Padahal kalo saya lebih cerdas sedikit, harusnya event ini bisa lebih rame dan saya gak jungkir balik ngamuk-ngamuk stress gak penting gara-gara sampe tanggal 19 pagi saya belum yakin acara ini bisa jalan atau gak. Bahkan rundown acara belum disusun, belum mastiin siapa yang jadi MC, pokoknya ribet lah hari itu.

foto diambil dari fb-nya Eka. thx, Ka!
But the show must go on. And it went on. Dan seru banget! Saya utang banyak banget sama temen-temen yang akhirnya bantuin (sambil ngomel-ngomelin saya sih bantuinnya), jadi makasih banyak ya…
Kopdar kali ini saya bilang seru banget karena ini bukan cuma ngumpul-ngumpul cekikikan makan-makan minum-minum, tapi kita punya tamu istimewa. Namanya mas Aidil Akbar, mas-mas keren dan ganteng, financial advisor paling top yang udah nerbitin beberapa buku dan punya show di O channel juga. Dan guanteng puooollll….catet itu ya? Guanteng ampun-ampunan. Dan malam itu, mas Aidil berbagi sedikit ilmunya buat para ngerumpiers. Temanya agak-agak horor. Financial checkup: seberapa sehatkah keuanganmu? Matek.
Serem eh, seriusan. Dari mas Aidil kita jadi tau bahwa antara lain, ternyata 9 dari 10 asuransi yang kita beli, salah. Dari sekian pilihan investasi yang kita pilih, salah juga. Dan thanks to him, hari Senin berikutnya saya langsung tutup unitlink asuransi yang saya beli hampir dua taun yang lalu. Biarin deh premi yang jumlahnya lumayan dan udah telanjur saya bayarkan jadi ilang. Itung-itung buang sial, daripada saya kehilangan lebih banyak mending di-cut sekarang. Lha ternyata salah invest, salah ambil asuransi. Haduh…
Makasih mas Aidil Akbar, makasih Silly, Chichi, Fany, Yudis, Mbakdos, mbak Susi dan temen-temen Langsat, mas Kentang dari kentangradio, Elia twintahku yang lucu mwah mwah, dan semua-muanya…
Thank you. Let’s do it again someday.
Hayo ngaku! Siapa yang masih suka download lagu gratisan di situs-situs filesharing di internet? *ngacung tinggi-tinggi*

Iya, ini pengakuan. Dan saya yakin banget, saya gak sendirian. Hampir semua orang pasti pernah, bahkan mungkin sering, atau malah SELALU nyari lagu yang biasanya berformat .mp3 ini di portal-portal yang memang disediain buat berbagi lagu dan musik digital. Harates alias gratis.
Gak bisa sepenuhnya disalahin sih. Semua orang kalo disuruh milih “bayar atau gratis” ya pasti milih yang gratis lah, ya gak sih? Harga CD musik original masih lumayan mahal, dan hari gini mengunduh lagu dari internet begitu gampangnya, terlalu gampang bahkan anak kecil pun pasti bisa.
Dari ratusan atau ribuan koleksi lagu yang kita simpen di komputer, hape, atau mp3 player, pasti sebagian besar kita dapet lagu-lagu itu dari download gratisan. Yang dari album asli pasti cuma beberapa atau malah gak ada. Ngaku deh jangan bo’ong! *ngacung lagi*
Tapi tau gak, sebenernya kalo mau jujur sama diri sendiri, kita ngerti banget kalo download gratisan itu sama dengan:
- mencuri
- gak keren
- nambah dosa
- gak asik, gak friend

Kalo gak mau dibilang mendukung pembajakan, mulai sekarang biasain beli lagu yang halal-halal aja, misalnya di langitmusik.com. Gak mahal, kok. Di langitmusik, kita bisa milih dan beli lagu yang full track seharga Rp.5.000 (lima ribu rupiah saja). Kalo mau nyewa (iya loh, lucu ya bisa nyewa lagu), harganya malah lebih murah lagi, cuma Rp. 3.000 (tiga ribuan) yang bisa kita dengerin selama 30 hari. Halalan thoyiban, keren, gak nyolong, gak ngerugiin para musisi yang udah capek-capek bikin lagu.
Trus bayarnya gimana?
Karena ini produk Telkomsel, sampe sekarang yang bisa belanja di sana emang cuma pengguna Telkomsel. Bayarnya bisa potong pulsa atau T-cash. Gitu kabar yang saya denger sih. Kalo mau tau lebih banyak, baca FAQ-nya aja ya?
Selamat berbelanja.