Susah sekali mencari bunga liar di tempat ini
Ini terbaik yang bisa kudapat
Walau bukan edelweis si bunga tangguh seperti dirimu
Selamat ulang tahun
Semoga surat ini bisa nyampe tepat waktu
Kembang sepatu yang dikirim seseorang bertaun-taun yang lalu. Udah dua kali saya repost, dan tiap kali membacanya, saya masih selalu takjub dengan semua yang terjadi hingga hari ini.
I thank God, and I thank you all, dear friends. I’m turning 41, am starting a brand new life and I’m happy.
Udah lama banget blog ini kehilangan fungsinya sebagai online journal. Kadang pengen juga nulis semaunya, numpahin apa aja yang lagi menuh-menuhin kepala, tapi pernah ada yang bilang, pinter-pinterlah jaga kelakuan karena ini ranah publik.
Oiya, saya juga tau kalo soal itu mah. Masalahnya, gak gampang menjaga behaviour dan tetap tenang kalo saya lagi marah banget dan kepala rasanya nyaris meledak saking sebelnya. Lha dikira saya malaikat, apa? Gak lah. Segala label yang dilekatkan orang dengan semena-mena tentang perempuan tangguh misalnya, sumpah bukan saya yang mau.
Halah. Perempuan tangguh my ass. Saya juga manusia biasa. Boleh dong saya tereakin sopir angkot yang motong jalan seenaknya dan nyaris bikin saya celaka. Boleh dong saya tersinggung dan sakit hati kalo ngerasa gak dianggep terutama oleh orang-orang terdekat saya.
Okay. Cukup intronya. Sekarang kita mulai. Saya pengen ngomong sesuatu tentang sebuah kata sederhana. Teman. Apa definisi kata teman buat kalian, sih?
Buat saya, seperti saya tulis di tempat lain tadi malam, teman adalah…‘kalo kamu lagi down, mereka ada. Kamu lagi sendirian dan butuh seseorang untuk berbagi gelisahmu, mereka ada. Kamu stres, mereka memberimu pelukan. Kamu nangis, mereka sediakan pundak mereka untukmu’. Yup, saya tau, mungkin gak tepat seperti itu juga sih, tapi kalimat yang jauh dari indah inilah yang saya pikir lumayan nyambung dan mewakili perasaan dan sakit hati saya kemarin.
Ya maaf, kalo cuma temen online yang baru kenal dan intensitas pertemanannya hanya sebatas saling say hi di blog dan di ruang-ruang maya yang lain, saya gak akan menyebut mereka temen saya. Oh, soal temen online, ada satu cerita. Saya pernah kecelakaan, nabrak mobil orang dari belakang pas saya lagi bego dan telat nginjek rem di tol. Gak lama setelah itu, beberapa temen blogger bahkan yang di luar Jawa dan sama sekali belum pernah ketemu, nelpon dan mastiin bahwa saya gak pa-pa. Nah ini beda lagi kasusnya. Saya bisa bedain, meskipun hanya temen online, saya tau mereka gak basa basi dan sok perhatian, karena selain saya kenal mereka cukup lama lewat blog masing-masing, mereka dan saya sebenernya ada di lingkaran pertemanan yang sama. Artinya, beberapa temen mereka adalah temen saya, online dan offline. Ngerti gak, sampe sini?
Trus ini poinnya apa ya?
Saya mau bilang, ati-ati. Be extra careful, people. Jangan jadi orang bodoh yang rela kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga hanya demi orang-orang yang kalian sebut teman tadi. Teman-teman gak jelas seperti itu akan selalu ada, datang dan pergi. Yang tetap tinggal menemani apapun keadaanmu, bahkan sering kali tanpa pamrih bersedia melakukan nyaris apa pun untuk kalian (catat ini: NYARIS APA PUN), siapa pun pasti setuju, itulah teman sebenar-benarnya teman yang kalian butuhkan.
Iya, saya marah dan merasa disepelekan. Jeleknya (eh atau malah bagus buat kesehatan jiwa saya, ya?), ada kondisi tertentu yang membuat saya mendadak punya kemampuan luar biasa untuk switch off dan membuat diri saya sendiri mati rasa. Pride and dignity, kadang saya tempatkan di atas segalanya.
Gak percaya? Try me, dan kalian akan tau bahwa saya juga bisa dengan entengnya bilang “tell them they can go fuck themselves. I dont fuckin care.”