JFW hari kedua

Gak bisa cerita terlalu banyak soal Jakarta Fashion Week. Hujan yang mengguyur Jakarta seminggu terakhir, selain bikin macet dan jadinya males kemana-mana, juga bikin saya tumbang kena flu parah. Makin gak kemana-manalah saya.

Cuma sempet dateng di hari kedua hajatan gede ini, Minggu 15 November 2009, berbekal kamera seadanya dan hanya nonton fashion show dari APPMI (menampilkan rancangan Rebecca Ing, Hengky Kawilarang, Rudy Liem, dan Oka Diputra) lanjut show tunggal Lenny Agustin dengan Lennor yang menampilkan tema ‘Playful Life’, berikut beberapa foto yang tertangkap kamera (dan lumayan bisa diliat tanpa merusak mata karena blur gak karuan). Sebagian udah saya jadiin kolase untuk menghemat tempat. Halah.

 

From Drop Box

Model-modelnya kurus-kurus dan tinggi-tinggi banget. Yaiyalah mboook…

From Drop Box

Nah ini bikin saya ngikik-ngikik gak sopan. Cowo didandanin kayak boneka gini, aduuuhh….

From Drop Box
From Drop Box

Dua foto di atas adalah karya desainer Hengki Kawilarang. Judulnya Unlimited Paradise. Cantik. Keren. Modelnya kurus-kurus dan tinggi-tinggi *tadi udah ya?*

From Drop Box

Yang selalu jadi perhatian saya dan bikin saya geleng-geleng gak habis pikir adalah: sepatu. Gimana caranya mbak-mbak itu berlenggak-lenggok di runway dengan alas kaki setinggi dan selancip itu tanpa nyusruk jatuh ke kursi penonton ya? Liat deh sepatu-sepatunya. Keliatan banget kalo gak enak dipake. Saya gak akan tahan jinjit-jinjit pake yang beginian lebih dari sepuluh menit. Berani taruhan.

Ngerumpi[dot]com, teori Maslow, dan New Wave Marketing

From Drop Box

 

Bicara tentang New Wave Marketing dan hubungannya dengan kebutuhan dasar manusia yang digambarkan dalam piramida Maslow (Maslow’s hierarchy of needs) seperti dimuat di artikel Kehidupan Sosial Bagi Seluruh Masyarakat New Wave, saya ingin menggarisbawahi satu hal: Maslow is right.

It’s true, bahwa setiap individu pada dasarnya punya kebutuhan untuk diakui keberadaannya, dihargai, dan diterima dengan baik oleh lingkungannya. Buat sebagian golongan, saya rasa tidak berlebihan kalau saya katakan bahwa kebutuhan sosial, needs untuk diakui dan diterima ini tingkatannya hanya sedikit saja di bawah kebutuhan dasar yang bersifat fisik seperti makan, minum, dan tidur yang berkualitas. Oh well, setidaknya itu berlaku buat saya dan sebagian kecil teman di lingkaran saya. 

Contoh paling real? Gampang. Kebetulan beberapa bulan terakhir ini saya (bersama salah seorang kawan) dipercaya untuk mengelola sebuah situs berbasis web 2.0, ngerumpi.com (http://ngerumpi.com), satu situs yang sesuai tuntutan jaman memang harus user generated content, di mana semua user/member bisa menulis artikel dan mengomentari artikel-artikel yang ditulis oleh user lain kemudian bersama-sama mendiskusikannya.

Pada minggu-minggu pertama, sesuai konsep dan cita-cita awal dari ngerumpi.com, situs yang semula ditujukan bagi pembaca dan pemerhati masalah-masalah yang berkaitan dengan kehidupan dan dunia seputar perempuan ini hanya diramaikan dan diisi oleh teman-teman terdekat kami berdua. Namun setelah sekian bulan berjalan, tercatat jumlah user di ngerumpi sudah melampaui angka 1.300 orang. Dan kami semua, seribu tiga ratus lebih member ini menjelma menjadi seperti sebuah keluarga besar, dengan beragam latar belakang pendidikan dan usia. Komunitas era 2.0 yang melewati batas dan sekat-sekat tradisional bahwa seseorang hanya akan merasa nyaman dan diterima sekaligus terpenuhi kebutuhannya akan aktualisasi diri, self esteem, rasa dihargai dan menghargai, jika dan hanya jika berada di tengah kelompok yang ‘sejenis’.

Kami di ngerumpi.com telah membuktikannya. Barangkali tidak berlebihan kalau saya katakan, ngerumpi berhasil menjadi konektor sosial (online maupun offline) yang merangkul sekian banyak orang dari berbagai kalangan dan status sosial menjadi satu komunitas yang solid. Dan seperti dijelaskan di artikel New Wave Marketing bahwa online social media semakin menguatkan teori Maslow akan kebutuhan manusia berinteraksi dan diterima di lingkungan sosialnya…ya, saya mengamini sepenuhnya. 

note: artikel ini untuk Bloggers @ MarkPlus Conference 2010

 

cinta adalah…

 

Cinta adalah sekeping senja yang basah, jalanan yang padat dan memaksaku berkali-kali memaki hujan yang tumpah.

Tapi bagaimana bisa kita menyalahkan hujan? Aku menyukai dingin yang menyertai tiap helainya, dan pipiku memerah ketika tanpa sengaja tangan kita bersentuhan.

Hujan. Kita menepi, menemukan sebuah sudut dengan kursi empuk yang nyaman dan menularkan kehangatan. Lampu-lampu gantung dengan sinarnya yang temaram. Aroma kopi, sekaleng bir yang kamu nikmati berlama-lama di tengah obrolan panjang, dim sum, dan senyummu yang teduh dan memabukkan.