Si Angkot dan Mr. Transporter

From Drop Box

Kalau biasanya saya harus nyetir sendiri kemana-mana (belum termasuk nyasar dan nelfon sana-sini), beberapa hari terakhir ini ada temen yang sering nyetirin saya. Sebutlah namanya Mr. Transporter. Yang jelas Mr. Transporter ini lebih tau jalan dari saya dan ga suka nyasar. Walaupun kadang-kadang suka nyeletuk-nyeletuk rese…

Pernah satu waktu saya ngobrol sama dia, “Mister, ini jalan apa ya namanya?” Dia bilang, “Ini Tendean. Orang juga suka bilang ini Mampang.”

Oooo… ya yaaa…*padahal bingung*

Besoknya kita lewat jalan yang sama dan nanya lagi, “Mister, kalo ini jalan apa, mister?” Dia jawab lagi, “Ini Tendean. Kan kemarin kita udah lewatin.”

Oh, okay. Saya ngangguk-ngangguk padahal masih bingung.

Seminggu setelah itu, kita mau ke Langsat ngelewatin jalan itu lagi dan saya nanya lagi, “Mister, anu…kalo ini jalan apa namanya?” Dia jawab lagi, “Ini Tendean. Orang suka bilang ini Mampang. Sekali lagi nanya, dapet piring cantik!”

Untungnya saya ga nanya lagi walaupun tetep belum inget Mampang itu yang mana…

Beberapa hari setelah itu, saya agak-agak inget kalo ini Mampang. Daripada saya nanya dan dapet piring cantik, saya bilang aja “Nah kalo dari sini mau ke Langsat belok kiri kan ya? Ya gak sih, Mister?” Dan dia jawab, “Dari sini ke Langsat itu tinggal lurus aja… Ketemu RSPP, belok kanan trus kiri. SEBENERNYA BISA BEDAIN KANAN SAMA KIRI GAK SIH, MBOK?”

Anjrit, ga bisa bedain kanan kiri! Tega banget yak, si mister. 

Yah gak pa-pa deh, lumayan ada yang nganter-nganter, saya gak perlu lagi panik kalo pergi-pergi dan tiba-tiba hilang arah (hayah, apa coba?), bingung gak tau saya lagi ada di koordinat berapa di kota Jakarta yang maha luas ini.

Eh padahal katanya panik saat nyetir itu gak boleh, lhoh. Efeknya bisa macem-macem, bisa aja saking panik dan emosinya, kita jadi ilang fokus trus kenapa-kenapa. Fiuhh…jadi inget pas kecelakaan di tol taun kemaren.

Oiya, satu lagi enaknya kalo disetirin: saya bisa duduk manis sambil makan-makan minum-minum mabok-mabokan (haha…gak dheng..). 

Errr…mister, kapan-kapan beliin saya Hyundai i10 ya? Saya setirin dah, gantian. Siapa tau nyasar jadi kita bisa cela-celaan.

si angkot dan printhilannya

 

 

From Drop Box

Beberapa kali saya diketawain temen-temen kalo mereka kebetulan jalan bareng saya naik si angkot antar kota antar propinsi, mobil kecil yang setia nganterin saya kemana-mana. Ada yang bilang “mbok abis belanja ya? kantong belanjaannya aku pindahin ke bagasi ya?”. Atau, “ya ampun, berantakan amat..”. Atau lagi, “ini apaan sih, mbok? DIINJEK gpp nih?”, pas gak sengaja kabel charger yang emang gak pernah digulung rapi itu keinjek kaki mereka. Anjrit, diinjek.

Lhah, gimana dong? Saya emang bukan orang yang well organized, sih. Segala sendal, kantong belanja gede (yang isinya baju ganti, sabun mandi, sampo, handuk kecil) charger multi fungsi yang bisa buat ngecharge dari hape sampe mp3 player dan laptop, saya masukin gitu aja. Digeletakin dimana-mana. Berantakan juga gak pa-pa, yang penting semua printhilan yang saya butuhin, ada saat diperlukan. Halah.

Soalnya gini lho. Saya kan pergi dan pulangnya gak pernah jelas jamnya. Kalo berangkat pagi dari rumah, biasanya sore saya udah pulang. Kalo berangkat siangan dikit, bisa-bisa tengah malem saya baru nyampe rumah. Dan kadang perginya gak cuma ke satu tempat, tapi pindah-pindah. Ngopi di sini, trus ke langsat, lanjut nonton di sana, balik lagi ke langsat ketemuan temen-temen di wetiga ( sok sibuk banget yah? ckckckck….)

Ya gitu deh, jadi mau gak mau emang harus bawa baju ganti dan lain-lain itu tadi. 

Lha trus foto yang di atas itu apaan? Anu…itu tiga pasang sendal yang selalu ada di mobil (ditata rapi soalnya mau difoto buat postingan. biasanya sih ditumpuk gitu aja di bawah). Tiga pasang yang dipake gantian sesuai dengan mood dan kebutuhan. Dua pasang yang paling kiri, itu yang paling sering dipake. Yang warna item (paling kanan), jarang banget saya pake, itu sendal cantik 9 cm yang pernah dengan sukses bikin saya nyusruk jatoh memalukan di pinggir jalan pas lagi nyegat taksi, huehehe… 

Hah, susahnya jadi perempuan. Harus rela bersakit-sakit pake sendal hak tinggi yang biarpun cantik di kaki tapi gak enak dipakenya. Pegel, dan ya itu tadi, berisiko nyusruk. Padahal sendal jepit jauuuuh lebih nyaman dipake kemana-mana, apalagi buat nyetir. Gak ribet dan enak aja gitu, gak nyusahin. Gak bikin saya malu jatuh di pinggir jalan dan diketawain orang. Cih!

Eh sebenernya ada foto printhilan satu lagi, tapi malu mau upload. Selain barang-barang yang saya sebutin tadi (yang udah cukup bikin kabin si angkot jauh dari cantik dan rapi), saya juga selalu bawa satu blouse yang digantung pake hanger item jelek, dicantolin di pintu mobil belakang sebelah kanan. Kata mas Mbilung waktu itu, “WOOOOOGHH ADA GORDENNYAAAAA…!”.

Enak aja gorden.

Anyway, ladies… ternyata banyak banget tips berkendara aman dan nyaman (halah, apa sih bahasanya, haha…) di situs http://perfectintimacy.com. I know, I know. Saya juga baru tau. Kemalumon. Hmm….jadi kepikiran, kapan mobil saya dalemnya bisa rapi yah? Mungkin ntar, kapan-kapan kalo tabungan saya udah cukup buat beli si cantik Hyundai i10. D’oh!

Ini Untuk Didi

Saya mendengar kabar ini dari seorang kawan barusan (hai, warm!). Saya gak langganan media indonesia, koran versi onlinenya gak bisa dibuka (thanks to telkomselflash untuk koneksi internet yang ancur dan gak capek2nya bikin saya emosi), jadi saya post aja cepet2 via mobile, langsung kopas dari berita aslinya. Maaf kalo formatnya berantakan. Ntar saya edit kalo sempet.

BOGOR–MI: Ferdiansyah, 14, yang masih duduk di kelas IV SDN 1 Bendungan, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, harus menerima fitnah dan penganiayaan dari warga, bahkan seorang Ketua RT ikut terlibat.

Didi, begitu panggilannya, adalah warga Kampung Jerorante, RT 04/04, Desa Bendungan, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor itu melalui amukan massa, yang salah satunya adalah Ketua Rukun Tetangga (RT) di Kampung Paburan, Desa Sukamahi, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor.

Kisah tragis anak sulung dari tiga bersaudara dari pasangan suami-istri sederhana bernama Mimi, 35, dan Taufik alias Toto, yang bekerja serabutan itu gara-gara tuduhan tidak beralasan, yakni pencurian sebuah handphone (HP) dan Rp1,3 juta milik Encep Zulkifli, 54, Ketua RT.

Runutan kejadian berawal pada Sabtu (3/10). Saat itu, Didi bersama empat temannya bermain di Kampung Pabuaran, tak jauh dari rumah Encep. Tidak ada masalah pada hari itu. Namun, keesokan harinya, yakni Minggu (4/10), Encep mengaku kehilangan HP Nokia 3315 dan uang miliknya yang besarannya mencapai Rp1,3 juta. Entah apa alasannya, Encep kemudian menuduh Didi cs sebagai pelakunya. Pada Senin (5/10), sekitar pukul 10:00 WIB, Encep mengutus anaknya yang bernama Fahmi menjemput Didi yang saat itu tengah bersama empat kawannya di kawasan Gadog, Kecamatan Ciawi.

Didi cs dibawa ke Kampung Pabuaran, RT 10/3, Desa Sukamahi, Kecamatan Megamendung, dan kemudian diberondong pertanyaan yang setengah interogasi oleh Idris, salah seorang warga. Bukan hanya diberondong pertanyaan, Didi yang bertubuh kecil itu juga mulai mendapatkan pukulan dan tendangan. Karena siksaan itu, Didi akhirnya terpaksa mengaku telah mengambil HP dan uang milik Encep. Nasib baik bagi keempat temannya. Mereka langsung dilepas begitu saja. Sementara, Didi ditahan dengan kondisi lemah.

Menjelang petang atau sekitar pukul 16:00, warga Kampung Paburan pun menjemput sang ibu, Mimi. Mimi diminta untuk mempertanggungjawabkan perbuatan anaknya. Senasib dengan Didi, Mimi pun diberondong tekanan, meski tidak berupa fisik. Kemudian warga meminta Mimi pulang tanpa Didi yang mereka tahan sebagai jaminan.

Sepeninggal ibunya, Didi tidak lantas terbebas dari siksaan. Hingga Selasa (6/10) dini hari atau sekitar pukul 01:00, warga terus menganiaya Didi dengan melancarkan bogem mentah secara terus menerus, baik ke arah muka maupun bagian perut. Didi akhirnya bisa pulang tiga jam kemudian atau sekitar pukul 04:00. Saat itu, bagian muka Didi sudah jauh dari wajah aslinya alias sudah bonyok. Mirisnya, Didi pulang dengan kaki kanan pincang. Katanya, itu akibat tendangan beruntun yang diterimanya. Sesampainya di rumah, dia langsung merebahkan tubuhnya dan tertidur pulas.

Derita Didi rupanya tidak sampai di situ. Didi kembali kedatangan tamu yang tidak diundang yakni Idris dan Encep. Saat itu, sekitar pukul 08:00, Didi masih lelap. Entah apa yang ada dipikiran kedua orang tersebut, mereka langsung menyeret tubuh Didi keluar dari kamarnya. Menurut pengakuan Mimi, saat itu kedua orang tersebut datang dan mengatakan akan membawa Didi untuk dilakukan pengobatan. Mimi mengaku sangsi dengan niat kedua orang tersebut, karena melihat cara membawa anaknya yang diseret. “Masa mau diobati caranya begitu. Apalagi, saat itu, Didi meronta. Tapi, mereka bukannya berhenti malah menggotong anak saya seperti kambing,” kata Mimi. Firasat sang bunda ternyata tidak meleset. Bukannya diobati, Didi kembali mendapatkan siksaan. Bahkan, penyiksaan dilakukan dengan mengikat Didi. Merasa nasib anaknya terancam, Mimi yang didampingi suaminya, Taufik, mendatangi rumah Idris. Saat itu, waktu berselang tiga jam, setelah Idris dan Encep menjemput Didi. Benar saja, saat keduanya tiba, Didi sudah dalam keadaan tergolek lemas dan tidur di lantai.

*kabar terakhir, didi akhirnya meninggal dunia. Silakan cari sendiri beritanya di media indonesia halaman 5 yg terbit hari ini. Masyarakat macam apa sih, ini? Sakit jiwa. Eh bukan, ini beyond sakit jiwa. Ah gak taulah. Saya gak sanggup nulis atau komentar lebih panjang, cuma pengen bilang, fuck those animals! Ya ya, maafkan bahasa saya..