From Drop Box

Karena bukan penggemar kotak kaca berjudul ‘televisi’, dalam sehari bisa dibilang paling banter hanya dua atau tiga jam saya nonton tivi. Itu pun biasanya karena gak sengaja lewat di depan rak tivi dan kebetulan lagi ada friends, atau oprah show, atau ellen degenereous show, dan saya tergoda untuk nonton. Lebih dari itu, saya agak-agak musuhan sama tivi. Kadang malah sampai berhari-hari gak tersentuh tivi. Ndeso yo ben.

Tapi barusan, beberapa puluh menit yang lalu saat sedang asik dengerin James Morrison sambil bebersih rumah (iya, memang gitu kejadian persisnya: dengerin musik sambil bebersih, bukan kebalikannya), si kotak dengan gambar bergerak itu lagi nyiarin Seputar Indonesia. Headline newsnya adalah, antara lain perkembangan kasus Prita Mulyasari yang hari ini memasuki putaran kedua persidangan yang entah kapan selesainya. Berita selanjutnya, nah ini menarik. Tulisan yang tertera besar-besar di bagian bawah layar adalah: Facebook juga?

Ternyata berita tentang seorang guru SMP di Sulawesi, namanya Indra Sutriadi Pipii. Beliau dituntut (dilaporkan) oleh walikotanya sendiri atas tuduhan pencemaran nama baik gara-gara notes di facebook yang menceritakan tentang pertemuan si yang terhormat bapak walikota dengan beberapa CPNS (calon PNS, masa gak tau sih?). Entah apa persisnya isi curhatan pak Indra di notes yang akhirnya berbuntut masalah hukum itu, yang tadi sekilas tertangkap di berita adalah, salah satunya Indra menuturkan bahwa walikota terlambat 2 jam dari waktu pertemuan yang dijanjikan, dan para calon PNS yang hadir di acara tersebut dipungut biaya masing-masing Rp. 250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah). Uang sejumlah itu entah untuk apa pula, di berita tidak terlalu detil dijelaskan (atau saya yang kurang nyimak, entahlah).

Saya gemes, sumpah gemes. Saya bukan siapa-siapa, wartawan gosip juga bukan, tapi ngeliat yang beginian…aduuuh…apa lagi sih ini?!! Mereka pernah denger tentang citizen journalism gak sih? Kalau semua-semua haram, semua-semua gak boleh diangkat ke permukaan atas nama kebebasan bicara dan menyampaikan pendapat, semua-semua harus ditutup-tutupi demi kepentingan segelintir orang di lingkaran kekuasan (dan punya uang), lantas mau kemana kita? Gak boleh nulis, gak boleh curhat, haram mengungkap apa yang kita anggap kebenaran? Meh. Menyebalkan.

Ya sudah, itu aja. Muak, saya.

Ps: entry yang sama saya tulis juga di notes FB saya, semoga saya gak ditangkep dan dijemput jip juga besok pagi. damn.