rest room

From Drop Box

Mengamati berbagai jenis perempuan yang saya lihat dan temui di toilet mall-mall selalu mengasyikkan. Mbak-mbak yang make upnya terlalu tebal, wangi parfum dari yang lembut sampai yang aromanya bikin eneg karena terlalu banyak disemprotkan (atau malah jadi aneh setelah bercampur dengan bau asli keringat si pemakai), abege-abege belasan taun yang bajunya amat sangat kependekan dengan riasan wajah yang ketuaan untuk bocah seusia mereka.

Tanpa niat aneh-aneh atau sengaja menguping perbincangan mereka, sering kali saya harus menahan senyum atau malah meringis miris mendengar potongan-potongan percakapan di antara mereka, yang dilakukan (biasanya) sambil touch up benerin dandanan atau sekadar cuci tangan setelah selesai memenuhi panggilan alam.

Gosip, pertengkaran, curhatan antar teman, cerita-cerita seram tentang perselingkuhan yang meski tidak eksplisit tapi selalu dengan gampang terbaca lewat bahasa tubuh dan gaya bicara mereka yg kadang cekikikan bisik-bisik gak jelas.

“Eh lo udah pernah dikenalin sama brondongnya si A? Edan yah? Lumayan sih, tapi eh gilaaaaaaa….masih brondong bangeeeeeeeettt……..”

“WHAT??!!! MAKSUD LO APA NGOMONG GITU SAMA GUE?!! GW UDAH JELASIN BLABLABLA….TAIK AH! ANJING! GAK NGERTI GUE, MAU LU APAAN!” (yang ini mbak-mbaknya tereak-tereak di henpon sampe ludahnya muncrat-muncrat)

“Iiiiih lucu tauuuk tasnyaaaa… Tapi mahal bok, kurang ajar. Masa segitu sih?? Bukan kulit padahal.”

Beragam wajah kehidupan perempuan urban. Terpampang samar meski ada yang transparan. Membuat saya tersenyum dan sesekali tertawa miris membayangkan apa rasanya menjadi mereka, perempuan-perempuan yang berseliweran di toilet bersih, kering dan wangi di mall-mall di Jakarta Selatan.

donny and I

From Drop Box

Saya mengenal Donny Dhirgantoro, maksud saya bukunya, lebih kurang dua taun yang lalu. Lupa siapa yang pertama kali merekomendasikan buku ini sebagai a-must-read. Saya belinya juga asal beli, tanpa ekspektasi apa-apa, tidak terlalu berharap bahwa buku bersampul hitam ini akan menjadi salah satu buku favorit yang berkali-kali saya baca lagi dan lagi saking bagusnya. Ah, tapi kalo soal bagus gak bagus mestinya akan sangat subyektif tergantung selera masing-masing orang sih ya? Dan saya bukan ahlinya lah menilai suatu karya seperti ini masuk itungan bagus atau biasa-biasa aja. Yang jelas, seperti kesurupan saya membaca 5 cm sampai halaman terakhir, dan dalam hati saya ngomel, “ini orang….edan bener bisa nulis sekeren ini”.

Kelar membaca 5 cm, novel pertama Donny ini, dengan penuh pemujaan (yang saya tahan-tahan setengah mati supaya gak terlalu kebaca), saya ngirim email ke penulisnya…YANG GAK PERNAH DIA BALES SAMPE SEKARANG. Ya sudahlah, setidaknya saya lega sudah bilang “bukunya bagus banget, sangat inspiring dan menyentuh, terima kasih blahblahblaaaaaah…” meskipun hanya lewat sepucuk surat elektronik YANG GAK BERBALAS SAMPE SEKARANG (masih dendam).

Nasib baik barangkali memang sedang berpihak pada saya. Entah bagaimana awalnya, di cetakan ke 15 bukunya (ya yang judulnya 5 cm itu), salah satu postingan saya yang bercerita (bukan review, cuma cerita) tentang bagaimana buku ini telah mengubah saya, in some ways, mendapat kehormatan untuk menghiasi back cover buku Donny. Dan sore tadi saya akhirnya bisa ketemuan dan ngopi berdua dengan si penulis, ngobrol random tentang banyak hal, dari soal tulis menulis, kegaptekannya, blogging, perjuangannya yang benar-benar dari nol sampai akhirnya novelnya menjadi best seller seperti sekarang. “Gaya banget gue ya, sekarang punya manager. Kadang masih gak percaya, gak nyangka banget…”, begitu dia bilang sambil ketawa-ketawa.

Kamu benar, Don, yang kita butuhkan cuma mimpi dan keberanian, selanjutnya adalah totalitas kita mengejar si mimpi tanpa pernah kehilangan rasa percaya bahwa apapun bisa kita dapatkan asal kita percaya, adalah kuncinya.

Terima kasih untuk sore yang menyenangkan. Maaf kita gak jadi pintong ke Wetiga. Some other time lah saya ajakin kamu ke sana, dikenalin sama temen-temen dan gerombolan saya, dikenalin sama itu perempuan-perempuan yang setengah mampus iri hati dan berniat nyekek saya karena gak mau ngajakin mereka ketemu kamu di citos sekalipun mereka sudah memohon-mohon dengan najisnya. Dikenalin sama si Gita (hai Gita…) yang ngamuk-ngamuk waktu saya bilang “I’m Venus, dear. Of course he wants to meet me.” Haha!

ps: he gave me a new copy of his book, and he wrote “For Venus. Dreams. Faith. Fight. Terima kasih untuk endorsementnya. Signed. Donny D.”