![]() |
| From Drop Box |
Perempuan yang kabarnya mati sebagai kucing, tergilas roda mobil hitam milik entah siapa pada suatu malam, hingga berceceran darah dan serpihan dagingnya di permukaan aspal yang dingin, ia belum mati.
Tak seorang pun di kota itu percaya tentang si perempuan, kecuali gelandangan tua itu tentu saja. Lelaki malang yang melewatkan hampir seluruh hidupnya berpindah dari satu emperan toko ke emperan toko lain, dari trotoar satu ke trotoar lain, yang tiap subuh menjelang, dengan sabar mengais-ngais tong sampah di depan rumah-rumah dan gedung-gedung megah yang dengan congkaknya bertebaran di empat penjuru kota. Hanya gelandangan tua itu yang percaya bahwa perempuan itu ada.
Sungguh, perempuan yang dikabarkan mati sebagai kucing itu belum mati. Ia hidup di kaki bukit tak jauh dari kota tempat ia terlihat terakhir kali. Dan ia tidak sendirian. Di rumah yang dibangunnya dari tanah lempung dan dia warnai dinding-dindingnya dengan darahnya, tinggal seorang laki-laki. Barangkali suaminya, entahlah. Bisa jadi begitu. Tapi siapa peduli? Perempuan itu bukan siapa-siapa, bahkan tak seorangpun tau namanya atau dari mana sesungguhnya dia datang.
Begitulah. Berbulan-bulan sudah perempuan itu, bersama si lelaki, tinggal dan menetap di sana, di rumah yang temboknya masih memancarkan bau amis darah yang sesekali tercium oleh sebagian penduduk saat angin bertiup terlalu kencang, mengalirkan udara lembab, kering, dan aroma anyir, dari kaki bukit hingga ke lorong-lorong gelap di seantero kota.
Rumahnya tidak terlalu istimewa, tapi rumah itu begitu dicintainya. Dia tanami pekarangannya dengan kembang sepatu, melati, dan kenanga. Dia bersihkan rumput pengganggu seminggu sekali, dan setiap pagi ketika matahari belum terlalu tinggi, disiraminya bunga-bunga kesayangannya dengan darahnya. Tetes demi tetes, setiap pagi. Perempuan itu bahkan menggali parit di sekeliling rumahnya yang sederhana, dan menemukan beberapa kuntum teratai ungu bermekaran di dalam parit itu pada suatu senja.
Perempuan itu bahagia, setidaknya begitulah kelihatannya. Rumah dan pekarangan yang asri, teratai ungu yang sesekali dipetiknya karena dia menyukai warna magenta, lelaki teman hidupnya, apa lagi yang dia cari? Dia bahagia. Hingga suatu pagi perempuan itu mendapati sisi ranjang tempat lelakinya biasa tidur memeluknya, kosong. Sehari, dua hari, seminggu, dua minggu. Perempuan itu kemudian tau, lelakinya tak akan pernah kembali. Dan ia tak pernah bertanya-tanya lagi, tak pernah berusaha mencari kemana lelakinya pergi. Perkara cinta telah lama dilupakannya. Siapa butuh cinta jika aku bisa bahagia tanpanya? Begitu selalu yang dia katakan kepada dirinya sendiri.
Hari-hari berikutnya dia jalani biasa saja. Setiap pagi masih disiraminya kembang sepatu, melati, dan kenanga yang semakin subur dengan darahnya. Seminggu sekali, dengan penuh cinta dia bersihkan pekarangan rumahnya, mencabuti rumput-rumput liar yang masih saja tumbuh dan tumbuh lagi, tak bosan-bosan. Ketika musim penghujan tiba, perempuan itu sibuk memunguti helai-helai hujan yang berjatuhan, memintalnya menjadi selendang warna-warni yang sepintas terlihat seperti pelangi. Barangkali ia memang sedang menciptakan pelangi. Atau sekadar sesuatu yang mirip pelangi.
Hingga suatu hari ketika hujan baru saja reda dan perempuan itu kembali memintal selendang warna-warni yang benangnya dia dapatkan dari helai-helai hujan, menjuntai bertebaran nyaris memenuhi pekarangan rumahnya yang asri, ia melihat sosok seorang lelaki, berdiri menatapnya dari seberang parit yang memisahkan rumah dengan dunia di luarnya. Ragu-ragu, perempuan itu membuka pintu, berjalan melintasi pekarangan yang masih berkilau dipenuhi helai hujan keperakan, menghampiri sosok asing yang baru kali ini dilihatnya.
Laki-laki itu tersenyum, dengan satu langkah lebar dilompatinya parit yang memisahkan mereka, lantas entah bagaimana mulanya, tak lama kemudian mereka sudah bertukar cerita dan tertawa-tawa, sesekali si perempuan terkikik sambil memilin-milin rambutnya. Malam itu mereka bercinta.
Esok paginya, laki-laki itu terbangun, tergeragap mencari perempuan yang dicumbuinya tadi malam. Kemudian, sesuatu membuat si lelaki membawa langkahnya ke pekarangan belakang. Helai-helai hujan sudah lama mencair, membuat tanah pekarangan menjadi lebih becek dan lembab. Dan di sana, perempuan itu berdiri membelakangi si lelaki, bagian depan tubuhnya menghadap ke arah matahari. Selendang warna-warni didekapnya erat dan lama, sebelum perlahan-lahan dilemparkannya ke udara. Selendang itu meliuk-liuk, melayang dengan anggun menjauhi bumi, lalu pada jarak tertentu ia berhenti. Warnanya terlihat lebih cemerlang sekarang. Merah, kuning, hijau, biru, jingga. Dan sebelum lelaki itu sempat memanggil si perempuan yang baru dia sadari kemudian bahwa dia belum tau namanya, tubuh perempuan itu pelan-pelan seperti meleleh, tangannya bukan lagi tangan manusia, sepasang tungkainya yang jenjang bukan lagi tungkai yang melingkari pinggang si lelaki tadi malam, dan rambutnya yang legam panjang membentuk sepasang sayap di punggungnya yang telanjang. Perempuan itu mewujud kupu-kupu, dengan lembut mengepakkan sayapnya semakin lama semakin cepat, kemudian perlahan terbang, menuju pelangi warna-warni yang telah selesai dipintalnya.
*terinspirasi dari tulisan Ning, kawan baik yang pernah begitu dekat tapi cukup lama menghilang.



keren…. itu banyak metafora nya yah…
tapi intinya mah keren, terharu bacanya… antara sedih gimana gituh…
Wooogh, pagi2 saya sudah disuguhi cerita dari Simbok dan bermain imajinasi
Keren, syerem tapi cantik
*membayangken transformasi perempuan berubah wujud menjadi kupu2 dengan particle fx yang ciamik*
Nyoh, sedekah komen … *nerusin ngeplurk*
Merinding bacanya
Wanita gudang misteri
Siapa butuh pernikahan, kalau dengan melajangpun saya bisa bahagia?
*teringet sama seseorang yang pernah bilang gitu*
Jadi pengen merajut selendang warna warni mbok…
Beli benang ah..
sundul komen biar simbok nggak jadi tidur (lmao)
aku jg serem bacanya jeee
Mbok talent menulisnya kuat banget = salut
Duh, level penulisannya simbok jauh di atas saya.. *berdecak kagum*
mantabs, barusan dari link yang simbok kasih seperti membaca ‘perfume’ begitu suram. di sini, serem juga tapi kok indah ya, hehehe…semacam manis begitu. -halah, sok tau-
wah..simbok nggilanii..
kok ceritanya wedi je….
thriller ki…..
ada bakat ya mbok? ato ini yg bikin simbok kumat di plurk belakangan ini? gyahahha.. *ngeloyor*
huaaa… keren… btw, wanita kupu2 juga ga butuh cinta?!
hmmm … dari kucing jadi manusia terus jadi kupu2 ?? kok mbingungi se mbok …
terus, darahnya gak abis2 ya buat nyiramin tamannya
Wow, keren. Gak pernah kepikiran kalo ceritax berlanjut seperti ini. Terus sambunganx mana Bun?*menunggu mode on*
Moodx dah balik ya?gimana yg dicari dah ketemu?
Salam kenal
Cerita awalnya yg mana?
Mbok, bacanya serem… untung pagi-pagi ga malam-malam. hehehehehe… tapi bagus sih. Kalau komik jadul ini sudah masuk di bagian komik misteri itu loh mbok. Soale pake cinta dan ganti rupa XD
aq juga bingung ini
*ketiduran*
wow… aku bacnya gak berhenti loh.. keren ni simbok…
Tulisan nya keren
saya seperti kenal dengan wanita itu
*SKSD*
u rock dude! (rock)
kucingnya kegiles… tegone
‘speechless’
Wanita yang mati berubah jadi kucing…
kayak cerita cat woman ya…
this what i like from you ! (rock)
masih inget kan waktu gw bilang … bahkan dalam marah-lu aja, tulisanmu menjadi keren *lebay membahana*
salut mbok …. ajarin dong
hehehehehe
Mbokkk…. pantes gue pikir awalnya dari mana nih crita kek pernah baca dimana gitu, rupanya terinspirasi dari perempuannya si Ning yahhh…
Wah, ini keren banget mbok. Bahasanya itu lohhh, tingkat tinggi cong (bukan bencong… hehehe).
Gue gak gitu paham maknanya, karena sepertinya perempuan ini ber-reinkarnasi berkali-kali… tapi penggambarannya dan bahasanya mbokkk, bikin gue tercekat… Ahhh, keren!!! Loe harus jadiin ini buku mbok.
OOT: tuh prempuan butuh donor darah gak… tuh, tiap hari nyiramin bunga pake darah apa gak abis darahnya?
kalo butuh, bilang2 gue yahhh, hahahahahha… *dikemplang*
jadi, si perempuan bermetamorfosa (lagi) karena selendang akhirnya selesai dipintal atau karena (akhirnya) sudah bercinta dengan seseorang?
i really need to know, coz memintal bukan sesuatu yg saya sukai dan jika memang (hanya) dibutuhkan laki2 untuk bisa bermatamorfosa (??) hhihihihihi u really think so? duuhhh duhhh
Agak ngeri bacanya. ==a
udah lama ndak liat pelangi
the man, that’s part of the story that can’t escape my mind …
will he keep his memories with the woman? wondering aloud about her name or whether he can keep her if he hold her sooner …
or will he just walk away and continue his life as if nothing happened …
pas baca, kok kaya pernah baca di manaaa gitu…eh bener….tulisan di morningdew… ternyata inspirasinya dari situ… aku suka kaliatnya…memintal pelangi warna-warni…sounds mysterious but however it’s sweet…
ya ampun.
bloody story..
[...] baru saja bertemu perempuan pelangi… Perempuan dengan sejuta warna warni pelangi dalam [...]
I wish to show my appreciation to you for rescuing me from this dilemma. Because of surfing throughout the the net and obtaining recommendations which are not beneficial, I thought my life was gone. Existing minus the strategies to the issues you have fixed as a result of your entire guide is a serious case, as well as ones which may have negatively damaged my career if I had not noticed the blog. Your competence and kindness in maneuvering all the things was precious. I am not sure what I would’ve done if I had not discovered such a step like this. It’s possible to at this time look forward to my future. Thanks a lot so much for your professional and effective help. I will not think twice to endorse the website to anybody who needs and wants care on this area.