copycat?

Jadi situasinya begini…

Tadi pagi, seperti biasa, rutinitas pagi saya salah satunya adalah ngecek email inbox yang biasanya udah ada puluhan setelah ditinggal tidur semalaman. Skip this, skip that, baca cepet-cepet, cek komen yang masuk ke admin blog ini, approve, aprrove, approve. Begitulah kira-kira.

Tapi kemudian saya nemu satu trackback dari blog (situs?) yang saya gak kenal. Tadinya saya pikir agregator punya salah satu temen yang beberapa kali pernah ngambil tulisan-tulisan dengan tag ‘fiksi’ buat dipajang di sana, dengan ijin saya tentu saja. Ternyata bukan. Pas saya buka linknya, ternyata ini situs gak jelas apa dan punya siapa. Dan entah apa maksudnya, setelah saya buka-buka dengan sedikit panik, ternyata sampai page 11, semuanya adalah hasil copypaste dari blog saya ini. SEMUANYA. Dikopas bulat-bulat, mentah-mentah tanpa diedit, sebagian bahkan menyertakan image/ilustrasi gambar yang saya pakai di postingan asli.

Saya gak ngerti, ini salah gak, sih? Masuk kategori cyber crime, hak cipta, yang gitu-gitu kah? Apa gimana? Beneran saya gak ngerti. Beberapa kawan menyarankan untuk ngirim report ke Matt, tapi apa iya harus segitunya?

Yang saya lakukan akhirnya ngepost soal ini di Plurk, dan mengundang reaksi yang kebanyakan marah-marah dan ngomporin. Hasyah. Berikutnya, setelah mikir apakah saya harus ninggalin komen atau gak (karena ini beneran ga ada alamat email yang bisa dihubungi, gak ada ‘about’ atau keterangan apa pun soal kopas-kopasan), saya cuma nulis satu komentar di postingan terakhir yang judulnya ‘dear girlfriend’. Persisnya, ini yang saya tulis.

“let’s get it straight. this is MY writing. from MY blog. and I did dig deeper, found out that almost everything here is nothing but MY writings.

helloooooo???? wanna talk? I’m just one click away. thx.”

Sekarang saya cuma nunggu si yang punya blog gak jelas ini untuk setidaknya menghubungi dan bicara baik-baik soal ini. Bukan gak boleh kopas, kok. Silakan aja, tapi selalu ada cara yang baik, ada etika yang kita semua harus ngertiin dan patuhi bersama. Buat kamu, Imam atau siapapun namamu, saya tunggu. You know where to find me. Thanks.

status: not delivered

I hated you once, maybe just as much as you hated me, maybe less, maybe more, whatever.

The thing is, at some point, I found out that hatred brings me nowhere. It brings us nowhere. And I’m hurting nobody but myself when I hate other people, that’s for sure. Well actually, it’s not just other people. It’s you, dear. It’s you.

luka kita

Malam ini, tanpa sengaja saya membuka google reader yang barangkali sudah jamuran karena berbulan-bulan tidak saya sentuh. Sesuatu membuat saya sejenak menahan napas. Seorang kawan lama yang selalu saya kagumi tulisan-tulisannya, dia menulis lagi setelah beberapa lama menghilang. Dan saya menangis sesenggukan, membayangkan dia menuliskan kata demi kata, barangkali dengan luka yang belum sepenuhnya mengering.

From Drop Box

Membacamu lagi, saya merasakan nyeri yang sangat di ulu hati. Maafkan saya. Maafkan pernah melukaimu, maaf untuk bertaun-taun kenangan dan persahabatan yang koyak begitu saja karena ketololan saya. Berlama-lama membaca blogmu, saya nyaris tak tahan untuk segera menghubungi kamu dan sekali lagi mendengar suaramu. Barangkali tak akan banyak gunanya karena saya tak ingin menjelaskan apa-apa. Sudah cukup kita berdua terluka, dan siang tadi seseorang berkata bahwa masa lalu adalah masa lalu. Yang kita punya adalah hari ini dan esok. Itu, sepertiga lebih banyak, dan tentu saja jauh lebih penting daripada mengingat-ingat yang telah lewat, bukan?

Kamu pasti tau tanpa saya sebut namamu. Maafkan saya, D.