Hujan baru saja usai, dan wangi tanah sesudahnya memenuhi paru-paruku, bersaing dengan samar aroma kembang sedap malam yang sudah setengah layu namun belum sempat kuganti di vas kristal tinggi langsing di sudut meja rias, bersebelahan dengan botol-botol parfum yang kukoleksi sejak bertahun-tahun yang lalu.

Menghirup napas dalam-dalam, mengumpulkan sebanyak-banyak oksigen kemudian menghembuskannya perlahan, tiba-tiba saja aku merasakan ngilu yang teramat sangat di ulu hati. Di mana dia saat ini? Di mana Bre, kekasihku? Dan seolah dituntun oleh sesuatu yang tak terlihat, begitu saja tanganku merogoh selembar foto yang tersimpan rapi, tersembunyi di antara tumpukan kertas kerjaku. Fotoku bersama Bre. Rasanya aku bahkan bisa mendengar tawa Bre saat dengan setengah memaksa ia mengabadikan gambar kami berdua dengan kamera ponselnya. Foto dengan kualitas gambar seadanya, tanpa mempedulikan sedikitpun nilai-nilai estetika dan teknik fotografi yang baik, namun juga yang begitu kusukai hingga aku mencetak dan menyimpannya diam-diam hingga kini.

Aku merekam semuanya dengan jelas di simpul-simpul saraf, mengingat bahkan hampir semua isi perbincangan kami, pertengkaran-pertengkaran kecil yang kini terasa lucu, hingga caranya membuatku kembali tersenyum dan akhirnya terkikik sembari mengomel panjang pendek karena celetukan-celetukan bodoh dan selera humornya yang aneh dan tak biasa, setidaknya untukku.

Berapa purnama sudah, Bre? Berapa lama sejak pertemuan terakhir kita di Jogja yang hingga detik ini masih menyisakan luka menganga? Darah mungkin tak lagi mengalir dari lukaku, tapi sesekali, sesekali nyerinya masih terasa. Perihnya masih tertinggal, merayap menebar racun ke setiap sudut ruang hati, lantas meninggalkanku terisak sendirian.

Berapa lama sudah? Sedikitpun tak ada kabar, dan dengan angkuh aku juga sengaja tak pernah berusaha mencari kabar tentangnya. Kami sudah selesai, dia memintaku pergi meski aku tak ingin pergi.

Hujan telah benar-benar berhenti sekarang. Dengan malas, kubuka jendela kamar, mematikan AC dan kembali duduk di depan komputerku,  berusaha menulis dengan otak yang sama sekali buntu. Telah lewat sepuluh menit dan aku belum sanggup menuliskan bahkan satu kalimat pendek untuk mengawali bab baru.

Setengah putus asa dan merasa bahwa malam ini akan berlalu sia-sia tanpa sedikitpun tulisan yang layak disimpan sebagai draft novel, kunyalakan sebatang rokok dan beringsut ke sudut kamar, berharap menemukan sebatang coklat atau makanan di kulkas. Sedikit asupan gula mungkin berguna, pikirku.

Dan tepat ketika kututup pintu lemari es dan dengan hati sedikit ringan mulai mengunyah manis-pahit  Toblerone hitam yang kutemukan di sana, jantungku mendadak seolah berhenti. Lamat-lamat suara gitar, intro sebuah lagu yang aku hapal di luar kepala karena Bre selalu menyanyikan lagu ini setiap ada kesempatan, membekukan seluruh sendi tubuhku dan membuatku lumpuh. Berusaha menguatkan hati, aku menunggu, sebelah tanganku tak lagi menggenggam sebatang coklat yang baru kucicipi ujungnya. Coklat itu terjatuh begitu saja, tergeletak dengan tololnya di dekat kaki kiriku. Sebelah lenganku berusaha meraih punggung kursi, bertumpu di sana sebelum aku benar-benar jatuh lemas.

Betul saja. Ya Tuhan….itu Bre. Hanya Bre yang tau lagu ini karena dia menciptakannya untukku setaun yang lalu.

Just like a falling star, you came into my life
brightening you are, mesmerizing in my eyes
and just like that, I fell inlove with you
I can’t take you out of my mind,
I can’t take you out of my mind..

Can you tell me, “this is true..”
when I fall in love with you
can you tell me, is this true?

Cause I’ve fell in love with you,
since the first day I met you
take my hands, dance with me..

Aku ingat, Bre menggerutu waktu aku tak bisa menahan tawa ketika pertama kali mendengar dia memamerkan lagu ini.

“Ya ya, ketawain aja. I wrote this song for you. Ketawain aja kalo gak kasian. Ini buat kamu, tau”.

“Oh? Kalo gitu kenapa judulnya bukan Lovely You atau Lovely Alrisha? Kenapa Valerie? Emang Valerie siapa?”

“Yah, baby. Namanya juga… Waktu nulis lyricnya, yang kepikir pertama kali memang nama Valerie. Lebih romantis dan enak didengar daripada Lovely Alrisha”, ujar Bre sambil menyandarkan gitarnya di sandaran sofa.

Masih tersenyum-tersenyum, kutuang kopi untuknya.

“Okay, lagunya boleh juga. Beneran itu lagu buat aku? Bukan buat Arimbi?”

Dengan gemas direngkuhnya pinggangku, menjatuhkan tubuhku di sofa, menahan kedua lenganku yang terentang di atas kepalaku dan terburu-buru membukai kancing blouse merahku.

“Stop it. Stop! Bre, udah!”, protesku, berusaha melepaskan diri.

Usaha setengah hati yang sia-sia, karena segera saja tangan Bre dengan kasar mulai merayapi setiap jengkal tubuhku dan nafasnya terasa panas di leher, dada, kemudian perutku. Nafasku memburu.

Lamunanku terhenti tepat ketika lagu itu berakhir, dan setengah berlari sampai-sampai nyaris menabrak meja tamu, aku menghambur ke pintu depan, membukanya serampangan dan dengan hati tak karuan menemukan Bre berdiri di sana. Gitarnya tergeletak di lantai teras.

“Alrisha”

“Baby…”, suaraku basah dan gemetar. Telapak tanganku lembab oleh keringat padahal aku setengah mampus kedinginan.

“Risha, aku akan menikah. Bulan depan”, matanya menatapku kosong.

“Bre…”, aku bertanya lewat mataku yang diam. Bre tak menjawab, tapi aku menangkap kerinduan yang bergeletar memenuhi udara di sekitar kami. Wajah kami begitu dekat.

Lalu tanpa berkata apa-apa lagi, Bre memelukku kuat-kuat, terlalu kuat, dan menyeretku masuk ke dalam rumah, membanting pintu hingga berdebam menutup dengan sebelah kakinya, kemudian menggelandang tubuhku yang lemas oleh kekagetan tak kepalang karena kedatangannya yang tak terduga, menciumiku dengan kebuasan seekor binatang yang kelaparan, ke kamar.

*thanks to Putra Nasution untuk kiriman lagu ‘Lovely Valerie’, dan inspirasi yang menyertainya.