Tak ada yang benar-benar tau apa yang akan terjadi esok atau lusa. Saya percaya, bahkan ketika langit terasa runtuh menimpa kepala, selalu ada sesuatu yang bisa kita jadikan pegangan, sesuatu yang membuat kita tetap bertahan. Dan sekali lagi saya harus bersyukur dikelilingi begitu banyak kawan yang selalu ada saat kita membutuhkan pertolongan. Tanpa mereka, barangkali saya akan perlu waktu jauh lebih lama untuk sembuh. Entahlah. Rasanya memang seperti itu.

From Drop Box

Seperti kata Gage, “itulah yg terjadi ke orang-orang kayak kita gini, yang terlalu sombong dan terlalu pede, yang selalu ngerasa kuat, satu saat bakal ngerasain yang namanya jatoh, ambruk berdarah-darah.” Bener banget. Dan dia, sekali lagi menjadi orang pertama yang membaca bahwa sesuatu sedang terjadi hanya dari sepotong kalimat yang saya tulis di salah satu tempat bermain saya. Tanpa menunggu terlalu lama, dia (dua kali) menelepon saya tengah malam hanya untuk memastikan bahwa saya baik-baik saja, meski saya nyaris tak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaannya.

“Lu ga pa-pa kan, mbok? Ada apa?”

“Udah makan, lu? Anak-anak lu udah makan belom?”

Dan saya dengan tololnya menangis, terbata-bata berusaha mengatakan sesuatu, namun bahkan saya lupa apa yang saya katakan malam itu. Hal-hal manis dan sederhana seperti ini…bagaimana mungkin saya tidak jatuh sayang kepadanya?

Beberapa kawan lain yang cukup dekat mengirim pesan yang kurang lebih sama,

“Aku gak tau ada apa, but I’m around if you need me. Kamu baik-baik ya?”

“Mbok, lagi sedih bener ya? Kita anuan aja yuk mbok.”

“Life sucks, but we’re bitches are stronger. Stay strong like you’ve always been.”

Atau dua kali telepon dari Goenrock yang membuat saya hampir mati ketawa karena……..ah sudahlah, panjang ceritanya (ahahaha! hai Goooeeeeeen……….)

Begitulah, hidup ternyata memang lucu. Terima kasih buat kalian semua. Saya masih di sini. Saya masih akan berada di sini.