Tanpa saya sebut namamu pun saya yakin kamu pasti tau, kamulah perempuan itu.

Pesanmu saya baca dini hari tadi, saya lupa jam berapa tepatnya. Dan saya kembali kehilangan kata-kata, tak sanggup memberimu penjelasan apa-apa. Maafkan saya.

Bisa saja kita runut lagi dan mencari-cari apa yang salah dengan kita, atau apa yang membuat kita seolah saling menolak satu sama lain meski tau bahwa kita begitu saling merindukan, tapi saya belum yakin apakah ini akan ada gunanya.

Maafkan saya. Saya menjauh, barangkali karena saya terlalu sedih, atau terlalu marah. Tapi pada siapa, dan untuk apa saya marah sebenarnya? Saya terlalu bebal untuk memahami diri sendiri kadang-kadang. Kamu tau itu. Atau mungkin saya hanya marah dan membenci diri sendiri. Entahlah.

Dan seperti kamu juga, saya masih kerap menangis mengingatmu, tapi kamu sungguh tau bahwa saya tak punya cukup keberanian untuk sekadar menyapa dan bertanya apa kabarmu. Sudah terlalu lama, dan kita menjadi terlalu asing satu sama lain. Saya merasa belum siap memulai sesuatu. Saya, barangkali, takut dengan masa lalu.

Maafkan saya, nona. Maafkan saya.