Ke rumah, dari mana semuanya berasal. Belasan jam perjalanan meninggalkan arah matahari terbenam, seperti kanak-kanak yang dengan sepenuh suka cita memunguti remah-remah roti tawar yang ia tabur di sepanjang setapak, untuk diikutinya kelak ketika saatnya tiba untuk menuntaskan kerinduan akan titik awal keberangkatan. Negeri kelahiran, bumi yang merekam sejarah panjang tawa, tangis, kebodohan demi kebodohan.

Ibu, seperti janjiku, aku pulang.

*postingan sentimental menunggu lebaran. maaf lahir batin, kawan.