Berapa banyak teman yang kamu miliki? Puluhan, ratusan? Dan dari sekian puluh atau sekian ratus itu, berapa banyak dari mereka yang bisa kau sebut sahabat? Sahabat saja, bukan sahabat dekat, karena asumsi saya, kalau tidak cukup dekat tak mungkin kita sebut mereka sahabat.

Saya punya beberapa teman yang cukup dekat. Tapi sahabat, saya gak berani bilang si ini atau si itu adalah sahabat saya. Karena dari pengalaman, dalam rentang waktu tertentu bisa saja seseorang menjadi begitu dekatnya dengan saya, tapi tak lama kemudian, sedikit demi sedikit jarak di antara kami (saya dan teman-teman dekat itu) melebar entah kenapa. Kadang saya yang menjauh, kadang mereka yang rasanya menjauh, tapi seringkali kedekatan kami menjadi berkurang tanpa sebab apa-apa. Terjadi begitu saja. Kami menjadi berjarak secepat kami menjadi teman dekat, dulunya. Kemudian datang orang-orang baru, teman-teman baru, dan cerita pun berulang.

Bicara tentang kawan, saya tersentuh membaca tulisan mbakdos tentang Gage. Saya, bisa dibilang cukup dekat dengan dia (dengan Gage, bukan dengan mbakdos). Beberapa bulan terakhir bahkan blog saya di sana sini penuh dengan nama dan foto-fotonya, juga tentang pertemuan-pertemuan kami.

Sebenarnya belum cukup lama juga saya kenal dia. Seingat saya, saya ketemu Gage pertama kali malam taun baru kemaren waktu saya dan beberapa teman lain nginep di rumah Mbilung di Bogor, melewati malam pergantian taun, begadang rame-rame, ngobrol sampai jam tiga dini hari, menghabiskan berbungkus-bungkus rokok, bergelas-gelas kopi dan beberapa kaleng bir (saya gak minum bir, tapinya).

Yang paling membekas dan masih saya ingat dari momen taun baru itu adalah sms ‘lancang’nya tengah malam buta, “btw, umur kamu berapa?”. Astaga, Gage!

Barangkali kengawurannya itulah yang justru membuat kami dekat, online dan offline. Dia teman begadang, teman ngobrol sampai pagi di messenger, sekaligus teman jalan yang enak. Beda usia kami yang belasan taun sama sekali tidak membuatnya sungkan untuk ber-elu gue dengan saya. Online dan offline. Catat itu, haha! Dia gak pernah berusaha bersikap sopan atau yang gimana-gimana, dan sangat apa adanya.

Kalau dibilang dia salah satu sahabat saya, hmmm…sepertinya iya. Dengannya, meski tak pernah sangat detail, saya bisa bercerita tentang kekesalan dan kemarahan saya, bisa cengengesan cerita ini itu, dan dengan entengnya bisa saling mengumpat saat candaan kami mulai kelewatan. Lebih menyenangkan lagi, dia mengerti. Gage bersedia mendengar tanpa memotong keluhan atau tangisan saya, tanpa berusaha masuk lebih jauh ke permasalahan sebenarnya, tidak menghakimi, tak pernah mengorek-ngorek, riwil bertanya macam-macam. Dia hanya mendengar, mencoba menenangkan dan menyediakan bahunya untuk saya bersandar.

Tak banyak yang seperti dia. Dengannya, saya bisa dengan nyaman janjian kapan saja, rame-rame atau berdua. Mungkin karena seringnya nama Gage muncul di sini, dan cara saya memuja-mujanya juga agak berlebihan (halah), beberapa orang mencurigai kedekatan kami. Ada yang menyebut dia “your chocolate”, barangkali karena saya pernah jalan berdua sama Gage ke resto serba coklat di Bogor waktu itu. Seorang kawan lagi bahkan (entah serius entah bercanda) pernah tanya, “kamu tidur sama dia, ya?”. Oh my.

Begitulah. Sebagai teman dekat, Gage memang luar biasa. Meskipun kadang bikin saya gemes dengan kegemarannya memuja diri sendiri, menyebut dirinya sendiri Gage Gurita, lelaki gurih tiada tara, Gagegoda, lelaki yang meletup-letup, bergetar-getar, dan kebiasan najisnya nyeletuk dengan bangga “AING TEEEEAAAAAAAA….” ketika saya megatakan sesuatu atau berterima kasih untuk sesuatu, saya menyayangi dia.

Oh, satu hal lagi. Sampai sekarang, tiap kali mood saya ngedrop dan dia tau saya lagi kacau dan pengen nangis, kami selalu bertukar kalimat yang sepertinya menjadi milik kami berdua. “Liat bulan yuk, Ge..” atau “liat bulan yuk, mbok..” Itu caranya menghibur, membuat saya tersenyum lagi, dan meyakinkan saya bahwa dia selalu ada saat saya membutuhkannya.

Ge, terima kasih telah menjadi teman yang baik, ganteng, seksi, dan wangi. Tetaplah seperti itu, ya? Tetaplah narsis dan apa adanya, tetaplah menjadi lelaki yang bergetar-getar walau pun seringkali kamu memang menjengkelkan.

Liat bulan lagi yuk, Ge…