venus to mars


13th June 2008

#9: Bre. Yogya. Luka

FILED UNDER 18 taun ke atas, fiksi |

Itu mereka. Bukan. Tak mungkin. Hadi tak akan pernah melakukan ini. Tidak dengan perempuan itu. Jangan bodoh. Itu jelas-jelas mereka. Baiklah. Kenapa tidak kita buktikan saja, kalau begitu? Tidak. Gila, kamu. Jangan. Kamu tak ingin menyakiti dirimu sendiri. Kau tak akan tersakiti. Tak satupun bisa melukaimu sekarang, Risha. Tak seorangpun bisa. Ayo, berhentilah. Hadapi mereka, yakinlah tak akan terjadi apa-apa.
Suara-suara di kepalaku terus saja berdengung, menebak-nebak, saling memengaruhi, semua merasa paling benar. Tanpa berpikir lebih lama, aku meminta Pak Imam sopir kami berhenti beberapa meter di depan mereka, memintanya menunggu beberapa menit sebelum mengantarku pulang.

Entah kekuatan apa yang membuatku begitu tenang, nyaris mati rasa, ketika dengan langkah ringan aku menghampiri mereka, suamiku dan perempuan yang dengan mesra sedang memeluk pinggangnya. Aku melihat Hadi, suamiku, ayah anak-anakku, mengatakan sesuatu yang dijawab oleh perempuan itu dengan tersipu-sipu, rona merah di wajahnya yang putih.

“Papa? Hai, Andin. Apa kabar?”

Mereka membeku di tempat mereka berdiri, tak sempat lagi berkelit atau berpura-pura tak ada yang terjadi. Dan aku merasa kosong, tidak sedih, tidak marah, tidak juga perasaan lain. Kosong. Seharusnya bisa lebih dramatis kejadiannya, batinku, tertawa dalam hati. Mestinya aku meraung-raung histeris, memaki mereka berdua dengan kata-kata kotor dan menjadikan kami bertiga tontonan gratis bagi para pejalan kaki di sekitar situ. Tapi tidak, aku memang tak bisa merasakan apa-apa lagi.

“Ma, akan kujelaskan…”

Dengan mataku, aku mengisyaratkan bahwa Hadi tak perlu bicara apa-apa. Tidak sekarang.

It’s okay. Aku mengerti. Kita akan bicara nanti. Andin, aku pergi dulu, ya?”

Tersenyum, kulambaikan tangan kepada mereka berdua yang masih terpaku seolah-olah baru saja berpapasan dengan hantu.

Di rumah.

“Baby, tawaran berliburnya masih berlaku?”, tanyaku tanpa basa basi.

Bre di ujung telepon, tertawa renyah.

“Masih. Kenapa, sayang?”

“Ikut. Aku ikut.”

****************

Sheraton Mustika Hotel, Yogyakarta, tiga hari kemudian.

Bre membukakan pintu untukku, tersenyum lebar menyambutku yang tak sabar menghambur memeluknya, dan aku terpejam merasakan bibirnya di bibirku, menciumku penuh-penuh sampai nyaris tersedak kehabisan napas.

“Aku senang kamu mau datang, Risha”, bisiknya setelah satu ciuman panjang yang menerbangkanku ke awang-awang. Aku tertawa, membiarkan Bre tetap memelukku, tangannya membelai punggungku.

“Kupikir kamu marah kemarin waktu aku bilang aku tidak bisa pergi.”

“Aku marah, tapi sudahlah. You’re here, aku tidak ingin bertengkar lagi.”

“Aku juga. Dan kita akan…jalan-jalan?”

“Yup. Jalan-jalan, belanja, bersenang-senang, and we’ll make love. We’ll make love like never before,” katanya.

“Oh, shut up.”

Bre terbahak. Aku selalu suka mendengar caranya tertawa.

***************

Langit pukul lima sore masih menyisakan semburat keemasan yang menyilaukan, menembus kaca jendela kemudian memantul lembut, mengirimkan perasaan teduh dan hangat ke seluruh ruangan. Lama sekali sampai akhirnya Bre bersuara.

“Apa yang membawamu ke sini, Risha?”

Perlu beberapa saat sebelum aku berhasil mengumpulkan keberanian, menceritakan apa yang kulihat terjadi dan begitu nyata di depan mataku kemarin, di sebuah ruas jalan yang panas dan bising di Jakarta.

“Suamiku. Suamiku dan Andin. Mereka terlibat sesuatu, mungkin sudah sejak lama. Kamu ingat Andin, Bre? Kamu sempat berdansa dengannya malam itu di pesta ulang tahun suamiku, malam pertama kali aku mengenalmu”

“Andin? Andin yang itu? Oh, my God! Baby…” Bre memelukku lebih erat.

I know. Aku juga kaget. Tapi yang lebih mengejutkan, aku tidak merasakan apa-apa, bahkan sedikit cemburu pun tidak. Menurut kamu, ini normal, Bre?” aku menelan ludah dengan susah payah, berusaha menghalau kegelisahan dan rasa tidak nyaman, bercerita tentang pengkhianatan yang dilakukan Hadi, suamiku.

“Kamu cemburu, baby. Pasti. Kamu hanya takut mengakui bahwa suamimu tidur dengan perempuan lain.”

“Hmm. Mungkin. Tapi bukankah aku juga tidur dengan lelaki lain? Sepertinya cemburu sangat tidak masuk akal, ya? Konyol sekali,” aku tertawa getir, memainkan anak-anak rambut yang terjuntai di dahinya dengan penuh sayang.

Kerinduanku nyaris tak tertahan, tapi aku belum ingin bercinta sekarang. Itu bisa menunggu. Saat ini, aku hanya ingin berada dalam pelukannya, merasakan kulit kami bersentuhan, mendengar jantungnya yang berdegup kencang.

“Kemana kita setelah ini, Bre?” tanyaku, letih.

“Kamu tau kemana. Aku ingin kita menikah, Risha. Aku mencintaimu.”

“Kita sudah pernah membicarakan ini sebelumnya. Tidak, Bre”.

Bre menghela napas, melepas lengannya yang melingkari tubuhku, menatapku tak mengerti.

“Kenapa? Apa yang harus kulakukan supaya kamu percaya niat baikku?”

“Aku percaya, Bre. Aku sepenuhnya percaya. Tapi kenapa kita harus menikah?”

“Risha, apa sih, yang tidak kamu mengerti? I love you. Coba katakan, apa yang menahanmu sekarang setelah kamu tahu tentang Andin?”

“No, baby. Please. Kamu tau aku tak akan membiarkanmu mengambil keputusan yang akan sama-sama kita sesali satu hari nanti.”

“Menyesal? Apa maksudmu? Aku laki-laki, Risha. Aku cukup dewasa untuk tahu apa yang kuinginkan. Seluruh dunia boleh menertawai dan menganggapku gila, jatuh cinta kepadamu, tapi tak ada yang lebih kuinginkan selain memilikimu. Izinkan aku menjadi pemenang kali ini, baby.”

“Dan Arimbi. Bagaimana dengan dia?”

“Sudah berakhir. Dia menemukan foto-foto kita, call register dan sms-sms di hapeku. Dia tahu semuanya. Please, Risha. We’ve gone this far. Apa lagi yang kita tunggu?”

Lembut kusentuh pipinya, menatapnya penuh cinta, kemudian berkata dengan sangat hati-hati, berusaha sebisa mungkin menghentikan niat sintingnya tanpa harus melukai egonya.

“Bre, dengar. Kita tidak akan menikah. Aku empat puluh tiga tahun sebentar lagi. Tidak, Bre. Aku mencintaimu, tapi jawabanku tetap tidak. Kamu akan menemukan perempuan yang lebih pantas untukmu. Percayalah. Sssshh…dengar dulu,” aku mencegahnya menyela kalimatku.

“Kamu masih sangat, sangat muda. Berhentilah berpikir bahwa aku cinta sejatimu. Jalanmu masih sangat panjang. Kamu bisa dapatkan gadis mana saja yang kamu mau, Bre. Akan tiba saatnya kamu menemukan belahan jiwamu yang sesungguhnya.”

Sontak rautnya berubah. Dengan gerakan kasar dan tiba-tiba, dia bangkit dari tempat tidur dan terburu-buru menyalakan sebatang rokok kemudian berdiri membelakangiku. Sakit sekali melihatnya seperti itu. Rasanya seperti membelah jantungku sendiri, membiarkannya berdarah dan perlahan-lahan mati.

Beberapa menit berlalu. Dia diam, aku juga tak tahu harus bicara apa lagi. Menit-menit yang terasa pahit, keheningan yang mengintimidasi hingga akhirnya Bre mematikan rokok yang baru setengah batang dihisapnya, dan dengan ekspresi tak tertebak, kudengar lagi suaranya, nyaris berbisik.

“Pergilah, Risha. Aku tidak menginginkan kamu lagi. Tidak kalau aku hanya menjadi boneka mainanmu seperti ini. Pergilah. Aku tak ingin melihatmu di sini.”

“Mainan?! Mainan, kamu bilang??! How dare you! You know I love you, tapi menikah denganmu… Ini gila, Bre. Aku tidak bisa,” aku meledak, kesabaranku habis sudah.

Dia menatapku dingin. Hanya beberapa detik sebelum kemudian memalingkan muka, menghindari menatap mataku yang mulai basah.

“Pergilah. Jangan katakan apa-apa lagi. Please just leave.”

“Bre….”

“GO AWAY!” raungnya kasar, membelah udara dengan kebencian dan luka yang tak mampu dia sembunyikan.

Dan aku pergi. Aku pergi. Kujejalkan beberapa potong baju sekenanya ke dalam travel bag, dan tanpa berkata apa-apa lagi, sambil menyeka sudut mata dengan punggung tanganku yang sedingin es, aku meninggalkan Bre di sana, di sebuah kamar hotel yang mestinya kami tempati dua malam lagi.

note:
#1: cerita kemarin
#2: perempuan kedua
#3: senja di atas kereta
#4: kalah
#5: selamat ulang tahun, arimbi. aku pergi
#6: selamat ulang tahun, arimbi (flashback)
#7: batas
#8: batas?

 

 

 

20 Responses to “#9: Bre. Yogya. Luka”

  1. venus Says:

    @yudis: I’ve done my homework. now go! mampus!! :))

  2. tukangkopi Says:

    Saya terlarut…

  3. goop Says:

    selalu suka dengan konflik yang terbangun, benar-benar deh :P
    pengkhianatan, dibalas dengan pengkhianatan
    *nunggu yudhis beraksi*
    btw, udah kebayang belum endingnya yak?

  4. funkshit Says:

    cowok emang ngga pernah mau kalah sama cewe klo soal selingkuh

  5. nonadita Says:

    Brondong e..
    kok marahnya serem amat??

    Risha lalu berkata, “baiklah Bre. Aku pergi. Tapi aku tidak akan keluar dari Yogya. Bila kau mencariku, aku ada di Juminten malam ini”. –> mencari brondong lain

  6. cK Says:

    okay, it’s getting hot in here… :D

    *bakar arang*

  7. latree Says:

    1-1?

  8. funkshit Says:

    @nonadita
    jadi siapapun wanita yang dateng ke juminten malam ini adalah risha yang sedang mencari brondong .. kemungkinan si memed inih

  9. tukangkopi Says:

    brengsek banget si Bre ini…!! ngusir2 cewe seenaknya…
    *geram*

  10. Matahari padam, Yogya, setelah kamu pergi « brewing… Says:

    [...] ::cerita yang berkaitan [...]

  11. Epat Says:

    semangkin seru n panas ……
    kekekeke

  12. bangsari Says:

    weh, koyo crito sinetron. mundak pangkat mbok?

  13. Nazieb Says:

    Ah iya nih…
    Semakin lama yang ada kok konflik doank… Adegan syur-nya kurang..
    :D :P

  14. edy Says:

    @Nazieb
    HUSS! kamu blom cukup umur! :P

  15. merahitam Says:

    ….Dan aku merasa kosong, tidak sedih, tidak marah, tidak juga perasaan lain. Kosong. …

    Huaaa…I know that feeling…I know…

    *mendadak sedih*

  16. meiy Says:

    asyiik…jadi juga nih novelnya :)

  17. eve Says:

    damn it. mbok!
    Selalu sedalem itu pengaruhnya cerita2mu padaku.

  18. Bekti Says:

    kalo yang belum terbiasa dengan kehidupan cinta yang kayak gitu ya pasti …………………….?

  19. noq2 Says:

    Satu kata….. memukau.??!! Salam kenal mbak, saya orang baru jadi mohon bimbingannya biar bisa canggih kayak mbak Venus. Kalo ceritanya ada yang udah jadi novel, aku mau dong, di mana belinya !!!

  20. ade Says:

    sanhgat berkelas

Leave a Reply