Dear Yudis,

Saya kangen nulis. Kangen mengkhayal gila-gilaan, membebaskan imajinasi saya terbang dengan liar, menerobos aturan dan teori mengarang yang baik dan benar, menabrak bahkan batas toleransi kesopanan. Saya rindu menumpahkan sepenuh emosi, mengetikkan ratusan, ribuan kata kemudian menikmati sensasi menyenangkan ketika tiba saatnya menekan tombol publish, dan menunggumu memaki-maki lantaran cerita mengalir semakin tak terkendali, tak tertebak, dan menertawaimu yang kalang kabut memikirkan bagaimana kamu harus melanjutkan cerita ini. Kepuasan tak terhingga, kerinduan luar biasa yang tak semua orang bisa memahaminya. 

Bodoh sekali rasanya saat tak bisa berbuat apa-apa. Begitu banyak waktu terbuang sia-sia, padahal meraih mimpi seharusnya tinggal selangkah lagi. Saya kangen menulis malam-malam, melanjutkan kisah tentang Bre, Arimbi, dan Alrisha.

Ke warnet aja, mbok.

Oh, udah saya coba kemarin, tapi ternyata saya gak bisa.

Kenapa?

Atmosfernya beda. Di rumah, saya bisa ngetik sambil pethingkrangan semau saya, ditemani secangkir kopi sambil sesekali mengintip berita atau acara musik di televisi lalu kembali tenggelam dalam dunia kata-kata, mencoba menjadi Alrisha yang saya kagumi sekalipun tak benar-benar saya mengerti. Menyatukan ruh saya dan Alrisha, merasakan kebahagiaan dan rasa takutnya. Cintanya.

Hmm…

Yudis, maafin saya. Saya gak berani janji kapan saya bisa ngelanjutin tulisanmu. Barangkali kamu akan harus menunggu. Halah.