I’m not giving up on you, sweet thing. I, actually, cannot afford to lose you. Not ever.
Remember that? Well, I take that back now. I have to.
I’m not giving up on you, sweet thing. I, actually, cannot afford to lose you. Not ever.
Remember that? Well, I take that back now. I have to.
je·da n 1 waktu berhenti (mengaso) sebentar; waktu beristirahat di antara dua kegiatan atau dua babak; 2 Ling hentian sebentar dl ujaran (sering terjadi di depan unsur kalimat yg mempunyai isi informasi yg tinggi atau kemungkinan yg rendah);
– larik Sas hentian arus ujaran dl pembacaan sajak yg ditentukan oleh peralihan larik dl sajak; – penggal jeda larik;
ber·je·da v 1 berhenti sebentar; 2 ada jedanya; terputus-putus; ada antaranya
Kita semua butuh jeda. Sejenak berhenti. Berhenti bicara berhenti berpikir berhenti menafsirkan sesuatu yang tak pernah benar-benar kita mengerti. Kamu dan dia, dia dan aku, aku dan kamu. Jeda, barangkali akan membantu supaya kita tak terjebak dalam pusaran raksasa hampa udara yang sanggup meledakkan apapun yang terhisap ke dalamnya. Dengannya, kuharap kita tak tergoda untuk berjalan terlalu perlahan atau bahkan berlari terlalu kencang di perjalanan berikutnya.
Kau tau, rindu yang membuncah atau luka yang kau buat bernanah, tak hanya membekukan waktu dan udara tapi juga kata-kata.
Gak pake rencana-rencanaan, saya ketemuan sama Tika yang siangnya saya marahin gara-gara ceroboh dan ngawur sampe nyaris DINODAI (halah kok dinodai) bapak-bapak yang satu pesawat sama dia dari Jogja.
saya: lain kali ati-ati. ya?? jangan sembarangan gitu, jangan gampang percaya sama orang. untung ga kejadian beneran. ya tik ya??
dia: iya, mbok ![]()
saya: cengengesan tooooooo???? cengengesan tooooooooo…..???? ![]()
dia: lha aku kan ndak tauuuuuuuu……..
Owalah. Ini bocah memang menyebalkan.
Trus sorenya, saya yang sebel gara-gara gak boleh ikut juragan liat pameran audio di Senayan, chat lagi sama dia. Kata si Tika, “aku sumpek, mbok. Bete. Bete. Bete. Bete. Bete. Bete.” Ya udah, saya ajakin nongkrong di Cibubur aja (yang kalo weekend gini macetnya edan). Saya suruh dia naik taksi. Tepatnya SAYA PAKSA DIA dengan iming-iming ‘kita bisa bergosip-gosip panas.’ Dan jadilah saya ketemu sama dia, dan Hedi yang kemudian nyusul ke Starbucks.
Okay, screenshots.
Serius ini, Tik. Lain kali ati-ati. Tapi thanks ketemuannya. Suwun umak sempet oket, bleh.
Cinderella dan sang Pangeran siapa-itu-namanya belum tentu live happily ever after, lho. Tak ada yang tau apa yang terjadi setelah tiga atau lima tahun perkawinan mereka, bukan?
Dalam imajinasi mesum ngawur saya, pada tahun ketiga, Cinderella tak sengaja bertemu seorang brondong manis. Di atas kereta malam Jakarta- Surabaya, atau dalam pesawat dalam perjalanan liburan ke Milan, misalnya. Mereka flirting-flirting kemudian jatuh cinta, dan Cinderella jadi MALES PULANG! Dia berpikir, ah suamiku sang pangeran tampan itu tak ada apa-apanya dibandingkan si bronis ini. Dan dari Milan, Cinderella mengirimkan sebuah pesan singkat. Untuk suaminya, bukan untuk si brondong.
“I’m sorry. Good bye�
Yet another happy ending. Buat Cinderela.
*males mikir, cuma kopas dari blog yang itu.
Q: baju polos atau bercorak?
A: polos
Q: ayam goreng atau bakar?
A: goreng
Q: prada atau bvlgari?
A: bvlgari
Q: siang atau malam?
A: malam
Q: nyeterika atau ke mal?
A: mal
Q: sepakbola atau nyulam?
A: bola
Q: pohon atau hujan?
A: hujan
Q: pancasila atau etika?
A: etika
Q: pantai atau gunung?
A: gunung
Q: otak atau otot?
A: otak
Q: rindu atau benci?
A: rindu
Q: kamus atau novel?
A: novel
Q: make love atau bikin posting?
A: posting
Q: terakhir. venus dalam tiga kata
*glek! mikir. mikiiirrrrr…..
A: smart, open minded, fun to be with.
*Puas, ndorooooo????