venus to mars


 

May, 2008

menutup hari

Thursday, May 29th, 2008

Saya menutup hari ini dengan indah. Boleh saya bilang bahwa saya sedang berbunga-bunga? Boleh? Yup, saya sedang sangat berbunga-bunga.

Tadi siang saya jalan sendirian. Sendirian? Lagi? Iya, sendirian. Lagi. Manipedi, ke toko buku tanpa membeli satu pun buku, dan berakhir di sebuah kedai kopi. Berbalas pesan-pesan pendek dengan seorang kawan yang terheran-heran waktu saya bilang ‘lagi ngopi sendirian, abis nyalon, dan tebak aku bawa apa? kamus tesaurus dan kumpulan prosa filosofi kopi-nya dewi lestari’. Buku, kamus, pensil, dan buku catatan. Dan janji bahwa suatu saat kami akan bertemu di tempat ini, duduk satu meja tanpa saling bicara, lalu kami akan melewati beberapa jam dalam diam, lebih banyak diam, tenggelam dalam buku-buku yang kami bawa.

Hmm…

Kemudian sebuah balasan email dari seseorang. Kabar baik yang tak benar-benar saya tunggu, bahkan sebenarnya nyaris saya lupakan. Dan perbincangan maya dengan seorang kawan yang juga tengah berbahagia. Perempuan yang saya yakin sama bersyukurnya dengan saya karena semesta begitu berbaik hati mempertemukan jalan hidup kami berdua.

Dan saya baru ingat, dalam perjalanan pulang tadi, saya hanya memutar satu lagu, berulang-ulang. Sekarang sepertinya saya tau kenapa.

I kept the right ones out
And let the wrong ones in
Had an angel of mercy to see me through all my sins
There were times in my life
When I was goin’ insane
Tryin to walk through the pain
When I lost my grip
And I hit the floor
Yeah, I thought I could leave, but couldn’t get out the door
I was so sick and tired of livin’ a lie
I was wishin that I would die

It’s Amazing
With the blink of an eye you finally see the light
It’s Amazing
When the moment arrives that you know you’ll be alright
It’s Amazing
And I’m sayin’ a prayer for the desperate hearts tonight

That one last shot’s a Permanent Vacation
And how high can you fly with broken wings?
Life’s a journey not a destination
And I just can’t tell just what tomorrow brings

You have to learn to crawl
Before you learn to walk
But I just couldn’t listen to all that righteous talk
I was out on the street
Just tryin’ to survive
Scratchin’ to stay alive

Amazing - Aerosmith

*buat kamu: kesabaranmu terjawab sudah, jadi berbahagialah. credit title-nya ntar ada nama dan link ke vtm, kan? haha..

 



pindah hosting

Thursday, May 29th, 2008

venuscolaps.jpg

Ini bener-bener gak penting. Saya cuma mau bilang, akhirnya vtm pindah hosting (lagi). Mudah-mudahan blog ecek-ecek ini gak bolak-balik-bolak down atau limiteksidid lagi. Sucks. Dan gak pindah-pindah hosting lagi, jadi halaman depannya gak harus jadi item kayak gambar di atas itu.

Makasih banyak buat, errrr……he-who-must-not-be-named. Pokoknya makasih. That’s what friends are for? Sepertinya begitu.

*beneran temen saya ini wanti-wanti, gak boleh nyebut namanya di sini. dia bilang ’sudah terlalu banyak aku dikagumi’. astaga!

 



one fine afternoon

Tuesday, May 27th, 2008

Seminggu yang lumayan. Lumayan kacau, maksudnya.

Sedikit kecewa lantaran si nona itu gak jadi nginep di rumah saya akhir minggu ini, dan otomatis juga gagal total rencana jalan-jalan bareng Zam, Balibul, mas Iman, dan beberapa kawan lain hari minggunya, kemaren siang akhirnya saya jalan (lagi). Pengennya ngajakin siapa aja yang bisa diajakin, tapi ternyata tak satupun yang available.

Hedi: aku nang kantor. lha koen gak omong wingi-wingi.

Balibul: lagi di Bogor, mbok.

Eny: arisan keluarga, Naaaa…..

Gage: tapi aku dijemput ya, mbok? *jemput raimu sempal, Ge! tegaan bener, hahahah…

Okay, saya jalan sendiri juga gak masalah. Eh sebenernya sih, siang itu janjian sama seorang temen baru yang sudah dua kali memohon-mohon *halah!* pengen diajakin ngopi bareng, tapi entah kenapa, ini juga cancel. Ada emergency di rumah, kita jalan hari Rabu aja, begitu katanya. Rabu? Siap. Selalu ada waktu buat cangkruk dan ngobrol-ngobrol gak guna.

Tapi ternyata saya gak jadi jalan sendiri. Ada Yudis yang bersedia nemenin, dan kita nongkrong berdua dari siang sampe jam 7 malem, diskusi gak penting, ngobrol gak jelas, ngomongin orang, yah gitu deh… Saya juga heran, baru pertama kali ketemu dia tapi kok ya betah berjam-jam di situ ya? Dan kita ngabisin….berapa gelas, Dis? Lima kopi (dan iced lemon tea) plus ngemil, yak? Lumayan kembung, tapi seneng. Lebih seneng lagi karena akhirnya saya bisa ngobrol langsung sama dia (biasanya hanya mengandalkan messenger atau sms), ngomongin kemungkinan-kemungkinan, plot dan ending cerita yang lagi kita tulis berdua. Ajaib, ternyata yang saya bayangin gak jauh beda dengan ending versi dia. Ah, can’t wait. Sepertinya lumayan keren *grins*.

yudis.jpg

Satu lagi, saya sama sekali gak nyangka kalo ternyata dia begitu terobsesi dengan tokoh Bre dalam cerita ini, sampai-sampai….*sensor, maaf* Ya ampun, Diiiisss…saya aja gak segitunya. Waktu nulis episode ‘Kalah’ memang sempet ngetik sambil nangis (serius, nangis!), tapi selesai nulis ya udah, saya gak mikirin sama sekali. Ntar aja saya mikir lagi kalo udah giliran saya nulis episode selanjutnya. Capek, karena ternyata butuh energi luar biasa gede untuk nulis drama seperti itu, nulis berdua pula, berharap hasilnya gak terlalu malu-maluin.

Oiya, benwitlimiteksidid yang kemaren, mudah-mudahan gak kejadian lagi. Dua kali cukuplah, dan sepertinya memang harus segera pindah host server. Beruntung sekali, tanpa diminta, dua orang temen nawarin webhost nyaris tanpa batas yang benwitnya (konon kabarnya sih) bisa dipakai berenang-renang, bisa kayang bahkan koprol tanpa takut jebol. Dan gratis, hohoho…. Hai kalian, makasih banyak ya? Aih senangnya punya kawan-kawan yang baik hati.

Jadi, Poet. Rabu saya tunggu kamu. Gage mau dijemput? Boleh, tapi kamu yang nyetir yak? Come on, I’ll let you drive, hihihi… Dan kamu, Yudis, thanks ketemuannya. Mari kita selesaikan urusan kita. Saya udah bilang soal publisher belum sih, Dis? Ayo, semangat semangat semangat!

*postingan gak fokus dan lari-lari kesana kemari. biarin. saya lagi seneng karena beberapa hal. ah, sudahlah…tolong jangan rusak mood saya lagi kali ini.

 



self-defense mechanism

Saturday, May 24th, 2008

cappuccino.jpg

Mekanisme pertahanan diri. Rationalising, repressing, denying, displacing, sublimating, regressing, et cetera et cetera. Hah, ribet sekali kedengarannya, ya?

Tapi ternyata, berusaha bertahan agar tak benar-benar tumbang memang susah. Karena memang tak pernah mudah dan sederhana jika bicara soal hati dan rasa. Saya harus melewati dua hari yang menyakitkan dalam diam, linglung gak jelas dan merasa kosong. Baru pada hari ketiga saya bisa menangis, sebentar saja, dan itu cukup melegakan karena berarti saya masih normal, kan?

Dan kemarin siang saya jalan. Sendirian, mendengar Audioslave yang saya putar agak terlalu kencang, berusaha menikmati sepuluh kilometer perjalanan dan mengabaikan kemacetan. Saya butuh kopi, dan secangkir cappuccino membuat saya merasa jauh lebih baik. Itu, dan percakapan dengan seorang kawan malam sebelumnya. Seorang kawan yang luar biasa karena ia rela menampung muntahan cerita, tak pernah menghakimi dan mengerti benar kegalauan saya, bersedia mendengar tanpa prasangka, meyakinkan saya bahwa dia menyayangi saya, dan pada akhirnya membuat saya percaya bahwa waktu akan menyembuhkan semua luka.

“Aku tidak membencimu. Tidak pernah. Kamu temanku, and I love you. Prek orang mau bilang apa aja tentang kamu.”

*terima kasih, mas. I know I can always count on you. And I love you, too.

 



kontemplasi hari ini

Thursday, May 22nd, 2008

Tak ada yang gratis di dunia ini, kawan. Jika hari ini kau ambil sesuatu yang bukan milikmu, satu saat, seseorang akan mengambilnya kembali darimu. Begitu seterusnya. Jadi tentu saja saling menyalahkan bukanlah penyelesaian. Hadapi saja monstermu, karena bukankah selalu ada harga yang harus kau bayar untuk sebuah kesalahan?

Whew, hari yang melelahkan.