venus to mars


26th April 2008

lakon satu babak

FILED UNDER belajar menulis, fiksi |

Ini dongeng pengantar tidurmu malam ini, tuan. Cerita perjalanan seorang perempuan. Telah lelah ia berlari mengejar pelangi. Ia berharap pada pagi, malam hingga pagi lagi, juga senja yang sejenak singgah hanya untuk mengantarnya, sekali lagi, mengarungi malam. Masih ditahankannya penat karena perempuan itu percaya, esok atau esoknya lagi akan digenggamnya selarik warna biru, hijau, dan lila, menetes ke telapaknya, kemilau serupa permata, jelmaan titian para bidadari.

Kemudian suatu siang saat matahari begitu garang, nyaris membutakan, ketika ketika kedua kakinya tak kuasa menapak, sekujur tubuhnya basah bermandi peluh, dan disangkanya sedikit lagi ia akan sampai di akhir kehidupan, ia berpapasan dengan seseorang. Seorang lelaki, tuan. Yang konon lahir saat laut pasang dan ombak bergulung-gulung menghantam garis pantai, berwajah rupawan dengan otot dada dan lengan yang liat, yang kulitnya indah berwarna tembaga. Lelaki itu menangkapnya tepat sesaat sebelum si perempuan terpuruk jatuh di bentangan cadas yang panas terpanggang di padang gersang. Lamat-lamat didengarnya lelaki itu mendendangkan sebuah tembang, keindahan yang musykil dan abstrak, sebentuk suara asing yang seolah datang dari negeri yang jauh, dengan bahasa yang belum pernah didengarnya. Lelaki itu memeluk sembari terus membisikkan kidung ajaibnya. Dan perempuan itu jatuh hati begitu saja. Pada rautnya, kulitnya yang sewarna tembaga, barangkali juga lengan-lengannya yang kuat mendekap. Pada aroma tubuhnya.

Lakon selanjutnya, tuan pasti sudah paham. Perempuan itu, yang wajahnya pias oleh duka berabad-abad kembali merona oleh darah kehidupan yang lelaki itu tawarkan. Ia mabuk hanya dengan memandang matanya yang berpendar-pendar mengisyaratkan cinta. Yang perempuan itu lupa, mencintai bisa membuat mata hatinya buta. Lelaki itu seolah menggenapinya, membuat perjalanan terasa sempurna. Terlihat sempurna. Tanpa sedikit pun cela. Sampai suatu malam, berhembus kabar dari penjuru yang entah. Lelaki yang dipujanya, tuan, ternyata tak seelok wajahnya. Ia lahir bukan saat purnama dan laut pasang. Ia jelmaan api, terpercik dari pusat galaksi kemudian mewujud lelatu di pucuk pohon-pohon randu. Racunnya terasa madu, onak duri dibuatnya seindah rangkaian worawari.

Tertebakkah akhir cerita ini, tuan? Suatu pagi saat embun bahkan belum pergi, perempuan itu ditemukan tergeletak tak jauh dari ujung pelangi. Wajahnya lesi. Di jantungnya tertancap sebilah belati. Udara mendadak beku, menguarkan bau mayit dan kembang tujuh rupa yang menggigilkan tulang.

Berkubang darah, tergerus oleh ketololannya sendiri, perempuan itu….mati.

*terima kasih buat ndoro.

 

 

 

29 Responses to “lakon satu babak”

  1. venus Says:

    astagaaaaaa…kok jadinya serem gini sih?? :))

  2. bodhi Says:

    mbok, saya minta maaf. saya lupa soal “being prudent” dalam komen mengkomen. tapi kenapa musti jadi private? :p anyway, ga ngerti apaan sih ini lakon satu babak..?

  3. Epat Says:

    inalillahi….kapan matine? dikubur ndek endi?

  4. annots Says:

    racunnya terasa madu, saya pengen sekeali seperti tuan itu

  5. Totok Sugianto Says:

    hanya semalam bertemu tuan, sudah cukup membuat perempuan itu tergelepar dan mati. sungguh sakti nian tuan itu, siapakah gerangan si tuan itu?

  6. leksa Says:

    “…Racunnya terasa madu, onak duri dibuatnya seindah rangkaian worawari..”

    Lha kok ga bisa bedain Racun dan madu, onak atau duri?

  7. aprikot manis sekali Says:

    clbk kro ndoro to mbok? akhirnyaaa…:P

  8. kenny Says:

    intinya ketipu ama si tuan ya :D

  9. iman brotoseno Says:

    Jadi ingat penggalan puisi Kahlil Gibran, ( walau tidak komplit dan pas …)
    ‘Jika cinta memanggilmu, pasrahlah walau pedang disela sela sayapnya menusukmu …”

    * Mencintai dan dicintai memang harus siap untuk berdarah. Dan Mati

  10. ebeSS Says:

    kalau sampai waktuku . . .
    ku mau tak seorangpun kan merayu . . .
    tidak juga kau . . . . . . huahahahahaha . . . eh . . :P
    tulang2 berserakan . . antara krawang bekasi . . . chairil anwar
    hanya patungmu menghiasi boulevard kota malang
    sedari aku kecil . . . . dan tulisan diajeng membawa lelap
    aroma geguritan atmosphere masa ituh . . .

  11. venus Says:

    this is supposed to be romantic. kenapa endingnya serem??? :))

  12. mayssari Says:

    “this is supposed to be romantic. kenapa endingnya serem???”

    Tapi ini emang beneran romntic kok. Mana seremnya? :P
    udah mulai bagusmbak… ayo..ayooo terus dikumpulin dan diterbitkan…. :D

  13. goop Says:

    karena saat mati-nya menyisakan senyum :)
    menjadi romantic, eh?

  14. datum Says:

    “Wajahnya lesi.”
    lesi itu apaan ya mbok?
    btw, untuk cerita yang seram, endingnya terlalu pemaaf mbok :) bukankah ada yang lebih menyakitkan dari hanya mati? so this is romatic indeed :p

  15. aprikot lagi Says:

    aku jdi teringat, lelaki yang wajahnya kubingkai dan tersimpan dalam sudut hati yang paling dalam, ia juga tidak lahir di saat purnama ataupun ketika bintang bertebaran melukis angkasa, ia hanya lelaki yang membawa matahari dan bunga liar ke dalam kehidupanku. setelah badai dahsyat menghantamnya. mencoba membagi sedikit sinar agar hidup tak hanya menjadi lakon satu babak saja.

    wuaaaaaaaaaaaaaaa

  16. cangkir penyair Says:

    tersanjung … :D

  17. yati Says:

    saya ga mau mati seperti perempuan itu :|

  18. itikkecil Says:

    tolol banget……
    *ditabok simbok*

  19. Hedi Says:

    ya sudah, tinggal dikubur saja tho :D

  20. Okta Sihotang Says:

    trus..wanitanya mati mbak ??
    kasian sekali dia.. :(

  21. Nona Nieke,, Says:

    ummmbbb,
    aku gak ngerti beberapa kata:
    - selarik
    - lila
    - musykil
    - pias
    - lelatu
    - onak
    - worawari
    - lesi
    - menguarkan
    - mayit..

    Wah wahhh, banyak juga ya mbok??
    Ternyata Nieke memang gak jago sastra nihhh,
    huffff, harap maklum ya, Mbok -____-!

  22. kw Says:

    tragic romantic. kok cepet banget endingnya….
    @nona nieke :
    - selarik : sebaris
    - lila : ungu muda
    - musykil : mustahil
    - pias : pucat banget
    - lelatu : api
    - onak : rintangan
    - worawari : nama lain kembang sepatu
    - lesi : pucat
    - menguarkan : menebarkan
    - mayit.. : mayat, jenazah

  23. Adhini Amaliafitri Says:

    Yang perempuan itu lupa, mencintai bisa membuat mata hatinya buta. Bener mbok, setuju! cinta memiliki potensi untuk membutakan mata hati. fiuhhh.. :(

    *anyway, baca lakon satu babak kaya dengerin dongeng mbah uti waktu aku masih TK, great!!! :)*

  24. kombor Says:

    Tragis, bukan romantis. Endingnya itu loh…

  25. tukangkopi Says:

    saya kira itu bukanlah suatu kebodohan nyonya
    apa memang kita tau apa yang akan berlaku
    sesaat setelah detik ini melaju
    tidak..kita tidak tau
    karena kita tidak berhak mendahului
    pemilik nafas ini yang jauh lebih meng-hak-i
    jika cinta sesama anak manusia telah terbunuh oleh sebilah belati,
    bentang sayap! terbanglah lebih tinggi dekat ke kasih Ilahi

  26. eve Says:

    Damn it, Mbok! This is so beautiful!!!
    It cant be a fiction! It’s me. She’s me!

  27. Silly (masih mencari2 silly apa, :-) ) Says:

    Mbokkkk…. ini kayak nyambung dech dengan punya ndoro…

    Jangan2 situ ama NDOROKAKUNG ada apa2nya lagi… bales2an posting gini, hehehhehe… :-)

    **Curiga mode ON**

  28. unai Says:

    Mbok..hebat bahasamu mbok.plok plok plok, salut deh, ayooo bikin buku

  29. balibul Says:

    ono sing kurang iku, endi tukang nasi goreng’e ? gak metu maneh tah?

Leave a Reply