Ini dongeng pengantar tidurmu malam ini, tuan. Cerita perjalanan seorang perempuan. Telah lelah ia berlari mengejar pelangi. Ia berharap pada pagi, malam hingga pagi lagi, juga senja yang sejenak singgah hanya untuk mengantarnya, sekali lagi, mengarungi malam. Masih ditahankannya penat karena perempuan itu percaya, esok atau esoknya lagi akan digenggamnya selarik warna biru, hijau, dan lila, menetes ke telapaknya, kemilau serupa permata, jelmaan titian para bidadari.
Kemudian suatu siang saat matahari begitu garang, nyaris membutakan, ketika ketika kedua kakinya tak kuasa menapak, sekujur tubuhnya basah bermandi peluh, dan disangkanya sedikit lagi ia akan sampai di akhir kehidupan, ia berpapasan dengan seseorang. Seorang lelaki, tuan. Yang konon lahir saat laut pasang dan ombak bergulung-gulung menghantam garis pantai, berwajah rupawan dengan otot dada dan lengan yang liat, yang kulitnya indah berwarna tembaga. Lelaki itu menangkapnya tepat sesaat sebelum si perempuan terpuruk jatuh di bentangan cadas yang panas terpanggang di padang gersang. Lamat-lamat didengarnya lelaki itu mendendangkan sebuah tembang, keindahan yang musykil dan abstrak, sebentuk suara asing yang seolah datang dari negeri yang jauh, dengan bahasa yang belum pernah didengarnya. Lelaki itu memeluk sembari terus membisikkan kidung ajaibnya. Dan perempuan itu jatuh hati begitu saja. Pada rautnya, kulitnya yang sewarna tembaga, barangkali juga lengan-lengannya yang kuat mendekap. Pada aroma tubuhnya.
Lakon selanjutnya, tuan pasti sudah paham. Perempuan itu, yang wajahnya pias oleh duka berabad-abad kembali merona oleh darah kehidupan yang lelaki itu tawarkan. Ia mabuk hanya dengan memandang matanya yang berpendar-pendar mengisyaratkan cinta. Yang perempuan itu lupa, mencintai bisa membuat mata hatinya buta. Lelaki itu seolah menggenapinya, membuat perjalanan terasa sempurna. Terlihat sempurna. Tanpa sedikit pun cela. Sampai suatu malam, berhembus kabar dari penjuru yang entah. Lelaki yang dipujanya, tuan, ternyata tak seelok wajahnya. Ia lahir bukan saat purnama dan laut pasang. Ia jelmaan api, terpercik dari pusat galaksi kemudian mewujud lelatu di pucuk pohon-pohon randu. Racunnya terasa madu, onak duri dibuatnya seindah rangkaian worawari.
Tertebakkah akhir cerita ini, tuan? Suatu pagi saat embun bahkan belum pergi, perempuan itu ditemukan tergeletak tak jauh dari ujung pelangi. Wajahnya lesi. Di jantungnya tertancap sebilah belati. Udara mendadak beku, menguarkan bau mayit dan kembang tujuh rupa yang menggigilkan tulang.
Berkubang darah, tergerus oleh ketololannya sendiri, perempuan itu….mati.
*terima kasih buat ndoro.

April 26th, 2008 at 12:36 am
astagaaaaaa…kok jadinya serem gini sih??
April 26th, 2008 at 1:45 am
mbok, saya minta maaf. saya lupa soal “being prudent” dalam komen mengkomen. tapi kenapa musti jadi private?
anyway, ga ngerti apaan sih ini lakon satu babak..?
April 26th, 2008 at 2:01 am
inalillahi….kapan matine? dikubur ndek endi?
April 26th, 2008 at 3:40 am
racunnya terasa madu, saya pengen sekeali seperti tuan itu
April 26th, 2008 at 4:07 am
hanya semalam bertemu tuan, sudah cukup membuat perempuan itu tergelepar dan mati. sungguh sakti nian tuan itu, siapakah gerangan si tuan itu?
April 26th, 2008 at 7:13 am
“…Racunnya terasa madu, onak duri dibuatnya seindah rangkaian worawari..”
Lha kok ga bisa bedain Racun dan madu, onak atau duri?
April 26th, 2008 at 7:55 am
clbk kro ndoro to mbok? akhirnyaaa…
April 26th, 2008 at 8:03 am
intinya ketipu ama si tuan ya
April 26th, 2008 at 8:14 am
Jadi ingat penggalan puisi Kahlil Gibran, ( walau tidak komplit dan pas …)
‘Jika cinta memanggilmu, pasrahlah walau pedang disela sela sayapnya menusukmu …”
* Mencintai dan dicintai memang harus siap untuk berdarah. Dan Mati
April 26th, 2008 at 8:51 am
kalau sampai waktuku . . .
ku mau tak seorangpun kan merayu . . .
tidak juga kau . . . . . . huahahahahaha . . . eh . .
tulang2 berserakan . . antara krawang bekasi . . . chairil anwar
hanya patungmu menghiasi boulevard kota malang
sedari aku kecil . . . . dan tulisan diajeng membawa lelap
aroma geguritan atmosphere masa ituh . . .
April 26th, 2008 at 9:28 am
this is supposed to be romantic. kenapa endingnya serem???
April 26th, 2008 at 9:44 am
“this is supposed to be romantic. kenapa endingnya serem???”
Tapi ini emang beneran romntic kok. Mana seremnya?

udah mulai bagusmbak… ayo..ayooo terus dikumpulin dan diterbitkan….
April 26th, 2008 at 10:24 am
karena saat mati-nya menyisakan senyum
menjadi romantic, eh?
April 26th, 2008 at 11:48 am
“Wajahnya lesi.”
bukankah ada yang lebih menyakitkan dari hanya mati? so this is romatic indeed 
lesi itu apaan ya mbok?
btw, untuk cerita yang seram, endingnya terlalu pemaaf mbok
April 26th, 2008 at 12:44 pm
aku jdi teringat, lelaki yang wajahnya kubingkai dan tersimpan dalam sudut hati yang paling dalam, ia juga tidak lahir di saat purnama ataupun ketika bintang bertebaran melukis angkasa, ia hanya lelaki yang membawa matahari dan bunga liar ke dalam kehidupanku. setelah badai dahsyat menghantamnya. mencoba membagi sedikit sinar agar hidup tak hanya menjadi lakon satu babak saja.
wuaaaaaaaaaaaaaaa
April 26th, 2008 at 2:08 pm
tersanjung …
April 26th, 2008 at 4:25 pm
saya ga mau mati seperti perempuan itu
April 26th, 2008 at 6:26 pm
tolol banget……
*ditabok simbok*
April 26th, 2008 at 6:45 pm
ya sudah, tinggal dikubur saja tho
April 26th, 2008 at 9:56 pm
trus..wanitanya mati mbak ??
kasian sekali dia..
April 26th, 2008 at 10:02 pm
ummmbbb,
aku gak ngerti beberapa kata:
- selarik
- lila
- musykil
- pias
- lelatu
- onak
- worawari
- lesi
- menguarkan
- mayit..
Wah wahhh, banyak juga ya mbok??
Ternyata Nieke memang gak jago sastra nihhh,
huffff, harap maklum ya, Mbok -____-!
April 27th, 2008 at 9:23 am
tragic romantic. kok cepet banget endingnya….
@nona nieke :
- selarik : sebaris
- lila : ungu muda
- musykil : mustahil
- pias : pucat banget
- lelatu : api
- onak : rintangan
- worawari : nama lain kembang sepatu
- lesi : pucat
- menguarkan : menebarkan
- mayit.. : mayat, jenazah
April 27th, 2008 at 1:31 pm
Yang perempuan itu lupa, mencintai bisa membuat mata hatinya buta. Bener mbok, setuju! cinta memiliki potensi untuk membutakan mata hati. fiuhhh..
*anyway, baca lakon satu babak kaya dengerin dongeng mbah uti waktu aku masih TK, great!!!
*
April 27th, 2008 at 2:57 pm
Tragis, bukan romantis. Endingnya itu loh…
April 27th, 2008 at 7:43 pm
saya kira itu bukanlah suatu kebodohan nyonya
apa memang kita tau apa yang akan berlaku
sesaat setelah detik ini melaju
tidak..kita tidak tau
karena kita tidak berhak mendahului
pemilik nafas ini yang jauh lebih meng-hak-i
jika cinta sesama anak manusia telah terbunuh oleh sebilah belati,
bentang sayap! terbanglah lebih tinggi dekat ke kasih Ilahi
April 28th, 2008 at 9:33 am
Damn it, Mbok! This is so beautiful!!!
It cant be a fiction! It’s me. She’s me!
April 28th, 2008 at 10:20 am
Mbokkkk…. ini kayak nyambung dech dengan punya ndoro…
Jangan2 situ ama NDOROKAKUNG ada apa2nya lagi… bales2an posting gini, hehehhehe…
**Curiga mode ON**
April 28th, 2008 at 1:00 pm
Mbok..hebat bahasamu mbok.plok plok plok, salut deh, ayooo bikin buku
April 28th, 2008 at 1:26 pm
ono sing kurang iku, endi tukang nasi goreng’e ? gak metu maneh tah?