Pernah kau rasakan cinta yang begitu dalam, begitu kuat mencengkeram dan menguasai, yang membuatmu bahagia tapi di detik yang sama membuatmu perih seakan sebilah belati ditancapkan seseorang tepat di jantungmu? Pernah?
Aku mencintaimu, Risha. Cinta yang nyaris memuja dan membuatku bersedia melakukan apa saja untuk membuatmu mencintaiku dengan pemujaan yang sama. Barangkali terdengar konyol mirip sinetron-sinetron kejar tayang yang tak pernah kau tonton, tapi inilah yang kurasakan sekarang.
Kau matahariku, embun pagiku, mawar, oksigen, racun, pelangi, badai salju, malaikat, dan iblisku. Kau oase di teriknya siang, kemilau di gemerlap malam.
Risha, aku lelah. Aku bosan menjadi kekasih rahasiamu, aku benci harus terus menerus bersembunyi. Maafkan aku, tapi belakangan, ini semua membuatku merasa terhina, merasa kalah. Aku ingin dengan leluasa pergi berdua denganmu seperti yang dilakukan orang-orang lain. Nonton, makan, jalan-jalan, belanja, atau sekadar mengantarmu ke salon. Aku ingin dengan bangga memamerkanmu kepada dunia. Menggandeng mesra tanganmu, bahkan menciummu di tempat-tempat umum kalau perlu.
Maukah kau menikah denganku?
Perlahan kulipat kembali surat yang ditinggalkan Bre untukku sebelum dia pulang. Satu di antara sekian banyak surat-surat singkat, biasanya hanya berisi ungkapan-ungkapan cinta sederhana, ritual manis yang selalu dilakukannya di setiap akhir pertemuan. Dengan amat hati-hati dan tangan gemetar, kusimpan surat itu di dalam dompet untuk kubaca lagi nanti sebelum kusobek menjadi serpihan-serpihan kecil dan kubuang ke tempat sampah.
Menikah? Dia pasti sudah gila. Dia lupa, suatu saat dulu kami pernah sama-sama berjanji untuk tau diri dan tak meminta lebih dari apa yang bisa kami miliki. Memintaku menjadi istrinya sungguh suatu gurauan bodoh dan sama sekali tak lucu.
Dan sebelum aku sempat berpikir jernih dan mencerna semuanya, suara suamiku terdengar di balik pintu kamar.
“Ma? Buruan dikit, dong. Udah siang, nih.”
“Ya, ya. Dikit lagi beres. Lima menit lagi, ya?”
Sudah seminggu ini ketiga gadis kecilku menginap di rumah mertuaku di Bogor. Pagi ini kami akan menjemput mereka ke sana karena besok lusa mereka mulai masuk sekolah.
Anak-anakku. Kalau bukan karena mereka, pasti sudah sejak lama aku menyerah. Pada saat-saat terburuk, saat aku mulai berpikir untuk pergi meninggalkan semuanya, hanya suara dan tawa merekalah yang membuatku berpikir seribu kali lagi, menimbang-nimbang, untuk akhirnya pasrah. Aku tak bisa pergi. Tak mungkin kubunuh mimpi anak-anakku sendiri, tak akan sanggup kupadamkan keceriaan dan kepolosan di mata mereka. Kalau hidup memang soal pilihan, aku memilih untuk menyimpan sendiri semua masalah agar aku tetap bisa tertawa dan berpura-pura bahagia di depan mereka, malaikat-malaikat kecilku. Untuk anak-anakku, apapun akan kulakukan, bahkan jika harus kukorbankan kebahagiaan dan mimpi-mimpiku.
Dan Bre. Lelaki yang hampir setahun ini kutemui diam-diam, yang dengannya aku merasa kembali utuh sebagai perempuan. Tapi tentu tak bisa begitu saja kutinggalkan suamiku untuk seorang Bre, yang selisih usianya denganku nyaris dua puluh tahun. Aku mencintainya, tapi cinta saja tak cukup, bukan? Dan sekarang, sekarang dia bilang ingin menikahiku. Sinting. Padahal sudah berkali-kali kami bicara tentang ini. Hubungan seperti ini memang tak akan kemana-mana. Pasrah saja lah. Nikmati apa yang bisa kau nikmati, reguk semua kesenangan kalau perlu sampai muntah. Sejauh ini tak pernah ada masalah, kami sama-sama mengerti dan tak pernah menuntut atau menginginkan lebih. Sampai kemarin.
Masih di jalan tol yang tak terlalu ramai saat lamunanku terputus oleh getar handphone di tas tangan di atas pangkuanku. Sms. Pasti dari dia.
From: +6285659324266
Baby, lg dmn? Can I call you? Pls, we hv 2 talk.
To: +6285659324266
Jgn sekarang. I’ll call u. 15 mnt lg, k? Pls do not reply. He’s around.
Telapak tanganku basah oleh keringat dingin, tegang sekali menyadari bahwa lima belas menit dari sekarang, Bre akan memintaku menjawab pertanyaan ngawurnya yang dia sampaikan lewat surat kemarin. Aku tak tau harus menjawab apa. Dan dia tak akan berhenti bertanya sampai semuanya jelas. Aku kenal sekali wataknya.
Di toilet, saat keluarga besar suamiku sedang berkumpul di teras depan, dengan jantung berdegup tak karuan, aku menelepon Bre.
“Halo. Risha?”
“Bre, suratmu…kamu tau aku gak bisa, Bre.”
“Kenapa? I know you love me. Marry me, baby. Kita akan bahagia.”
“Bre, please….ngertiin dong, Bre..”
“Risha, aku memang masih muda, dan aku tidak sekaya suamimu, si brengsek itu. Tapi aku udah lulus kuliah, udah kerja, dan aku akan bisa menghidupi kamu dan anak-anakmu.”
“Ya Tuhan. You can’t do this to me, Bre..”
“Do what? Aku ingin kita menikah. Aku capek begini terus, baby. Ngerti gak, sih?”
“Bre, listen…”
“No. You listen. I’m asking you to marry me. Dan aku mau kamu menjawabnya sekarang.”
Sampai di sini pertahananku runtuh. Tangis yang kutahan sejak tadi akhirnya luruh menjadi butir-butir air mata dan membuat suaraku pecah.
“Bre, maafkan aku. Kita pernah bicara soal ini, dan kamu tau banget, kita gak mungkin…”
Klik.
Bre sudah menutup teleponnya sebelum kalimatku selesai. Sebelum sempat kukatakan bahwa aku juga mencintai dan ingin bersamanya, dan bahwa aku tak ingin menyakiti anak-anakku dengan memisahkan mereka dari ayahnya. Anak-anakku berhak mendapat kebahagiaan dan masa kecil yang utuh. Perpisahan kedua orang tuanya akan menyisakan luka batin yang akan mereka bawa hingga dewasa.
Seminggu kemudian, di sebuah kamar hotel, aku menunggunya. Menunggu Bre, kekasihku. Dia ingin kami bertemu dan bicara, barangkali untuk yang terakhir kali. Dan aku benar-benar tak mampu menahan kesedihan saat melihatnya melewati pintu kamar, berdiri menjulang di hadapanku dengan raut dan ekspresi terluka yang membuat dadaku nyeri. Lalu begitu saja aku menghambur ke dalam pelukannya, membiarkan diriku sendiri menangis sesenggukan dalam rengkuhannya yang begitu erat seolah tak ingin melepaskanku lagi. Dan aku merasakan Bre menangis, putus asa dan kalah, menyurukkan wajahnya ke rambutku.
“I love you, Baby. I’ve always loved you.”
“I love you, too, Bre. I love you so much it hurts.”
“I can’t lose you now, Risha. Aku gak bisa.”
Dan aku masih terus menangis saat perlahan-lahan dia menggiringku ke tempat tidur, merebahkanku dengan amat lembut seolah-olah khawatir sedikit saja gerakan yang terlalu kasar akan mematahkan tulang-tulangku. Kurasakan lidahnya menjelajahi leherku, dan aku masih terisak.
“Make love to me, Bre. Make love to me……..”
**episode sebelumnya, baca di sini.

March 6th, 2008 at 7:49 pm
Waaa… Selingkuh ini mbok…
Gak baik buwat kesehatan…
March 6th, 2008 at 8:20 pm
Wuah konflik makin rame nih…
hmmm, gimana dari sisi suaminya ya….
jadi tertarik
March 6th, 2008 at 8:23 pm
oohh…yess…saya makin merinding membayangkan cerita ini mo dibawa kemana..
March 6th, 2008 at 8:26 pm
selingkuh estapetan
March 6th, 2008 at 8:29 pm
mantab mbok … semakin mendayu dan emosional …
March 6th, 2008 at 9:21 pm
bener juga kata si tukangkopi.
BRE INI MAUNYA APA SEEHHHH???? KURANG AJAR!!
March 6th, 2008 at 9:22 pm
Lho, #1, #2, #4…nomer telu endhi, bleh?
tapi ndang dinovel-kan ae…aku njaluk hard copy sitok
March 6th, 2008 at 9:25 pm
@hedi: #3 yang judulnya ’senja di atas kereta’, ada di http://tukangkopi.wordpress.com
March 6th, 2008 at 10:30 pm
saya masih yakin yudhis ga berani mesum2an
March 6th, 2008 at 11:54 pm
wes mbok hajar ae.. poliandri kan gpp
*halah udah jelas cuma fiksi kok malah simbok…. *
March 7th, 2008 at 1:33 am
Wuuuuaaaahhh…
Berhari-hari lalu setiap buka blog ini, cuma nemu gambar tukang benerin jalan yang gak ganteng itu. Ternyata si empunya blog lagi nyiapin cerita toh. Hehehehehe…
Kuereen mbak. Bikin merinding. Mana lanjutannya?
*gak sabar*
March 7th, 2008 at 1:42 am
tetep merinding habis baca blog sebelah… dan disini juga.. semoga masih ada lanjutannya
March 7th, 2008 at 1:54 am
abis ini lanjut kemana nih.. sayang untuk dilepaskan begitu aja.
sok tau mode : on
itu sebabnya novel jarang sekali bergambar. agar yang membaca bisa mepersepsikan sesuai keinginannya. *halah*
mode : off
tapi lebih enak nonton b*kepp
March 7th, 2008 at 4:07 am
Bahasanya dalam banget…

ngak kuku bok
March 7th, 2008 at 4:29 am
hm.. cinta dan semua orang2 yangterkasih itu ibarat jangkar yang tertancap kuat didasar - menggalang biduk agar tetap stabil mengapung ditengah deraan badai..
Wah kalau soal menjilat2 itu - kok aku jadi ikut “lapar dan haus” yah? (setaaaan!) bikin ngiri orang paling bisa nih - apalagi masih jauh mengapung begini
heheheh!
March 7th, 2008 at 6:11 am
aseeekkkk…tambah aseek….tambah tahan nafas….
terusin ato selesai….biar orang tambah penasaran…
bravo…bravo…telah lahir penulis baru…
March 7th, 2008 at 6:11 am
kalian mah enak, tinggal baca dan merinding2 ga jelas. nah saya ini yg kesian, masa nulisnya sambil nangis, sih? njrit!
luigiiii….hahahah…sinting luh
March 7th, 2008 at 8:29 am
kayak sinetron…
March 7th, 2008 at 8:53 am
mencintai tidak harus memiliki, Bre…*sambil ngebuka ristleting
March 7th, 2008 at 9:10 am
mertuoku gak ning bogor mbokkkkk
ojo gelem dinikah mbok, ntar gak asik lagi ceritanya gak bikin deg2 an lagi
March 7th, 2008 at 9:19 am
mbok kalo ndak pengen anak2mu pisah dari bapaknya, yang cewek dititipken ke antobilang saja, sepertinya dia sanggup merawat sampe akhir hayat hihihi…
ceritnya Jangan TAMAT dulu ya mbok, apik kie “Ayat-ayat Simbok” :lol:
March 7th, 2008 at 9:43 am
walah…perselingkuhan nih. entah kenapa saya nggak setuju dengan yang namanya perselingkuhan…
March 7th, 2008 at 12:26 pm
ga ada org yg setuju dg perselingkuhan, bahkan yg sudah terjebak dalam perselingkuhanpun ga suka juga sebenarnya dg perselingkuhan…
SO… how???
March 7th, 2008 at 12:31 pm
hehe, eniwei… kalo ending nya si Bre dan wanita itu married, kayaknya yaa… terlalu utophia. Tp, kalo akhirnya pada balik ke masing-masing kehidupannya yg sebelumnya, yaa… kesannya juga terlalu menggampangkan dan menyederhanakan permasalahan maupun perasaan…
^_^
March 7th, 2008 at 1:29 pm
@ ngakak baca comment mbak dian….sinting
March 7th, 2008 at 2:26 pm
paragraf terakhir, kebayang jelas bagaimana expresi bre yang kalah dan menangis.
ayo kirim cerita ini mbok ke majalah sambil tunggu lanjutan dari si tukang kopi.
March 7th, 2008 at 2:30 pm
walah…pas lagi asik2 baca kok bersambung…
mbak, order episod trakhir langsung bisa??
March 7th, 2008 at 5:04 pm
mantaps Bu…, lanjut terusss, jangan keburu-buru ditamatin jah. Temanya asyik; daun muda vs daun layu

mohon izin utk terus membacanya
March 7th, 2008 at 5:17 pm
**lanjut terus nulisnya mbok, aku suka bacanya**
March 7th, 2008 at 6:38 pm
Teruskan nulisnya…makin deg2an nih……
March 8th, 2008 at 2:28 am
saya ikutan ngakak sama mbak yati
March 8th, 2008 at 2:35 am
Saya cuma bisa ngebayangin Bre Dengan suara yang tergetar, berkata…
“… but he’s the sort who can’t know anyone intimately,
least of all a woman.
he doesn’t know what a woman is.
he wants you for a possession,
something to look at
like a painting or an ivory box.
something to own and to display.
he doesn’t want you to be real,
or to think or to live.
he doesn’t love you,
but I love you.
i want you to have your own thoughts and ideas and feelings,
even when i hold you in my arms.
it’s our last chance… it’s our last chance…”
*sumpah, ini nyontek liriknya dream theater
*
March 8th, 2008 at 5:09 am
hmmm….nyoba nelpon ke nomer itu ah, sapa tau yang ngangkat Risha, bukan si Bre, hahahahahahaha……….. *gulinggulingngglundung*
March 8th, 2008 at 9:55 am
Yang membuat saya penasaran:
1. Apa salah sang suami sampai istrinya begitu? Apakah hanya soal kurang perhatian dan kepuasan selangkangan?
2. Saat penis Bre bergerak keluar masuk, apakah tokoh aku tidak ingat pada suami dan (terutama) pada 2 anak yang keluar dari lubang yang sama? *eh, caesar ya* Saya pikir gangguan psikologis macam itu akan mempersulit orgasme.
3. Sekedar memperjelas penokohan, v nya tokoh aku, itu hairy atau shaved?
Hehe. Semoga bisa terungkap dalam kisah berikutnya.
March 8th, 2008 at 10:19 am
@ Guh: koreksi dikit, anaknya tiga, bukan dua.
hairy atau shaved? tanya sama Bre aja, ya?
March 8th, 2008 at 12:20 pm
siyall.. selalu habis disaat2 yang seru . .
siyall… mo nelpon nomernya kok ngga cukup pulsanya
siyall.. penasaran kayak guh blom terjawab
March 8th, 2008 at 12:48 pm
Kyaaaaaaaaaaaaaaaaa…………….
*segera meluncur ke Tukang Kopi
March 8th, 2008 at 9:30 pm
SIMBOK KEJEM, GA ASIK!!! mutusin kok pas bagian yang menegangkan..hahaha..btw, sometimes a little sane is needed when we turn to get crazy..semoga kalian berdua bertemu dengan kesadaran itu ya Bre, Risha..
March 8th, 2008 at 9:32 pm
KOmenku kok ga masuk yah?tes komen..
March 9th, 2008 at 9:26 pm
siyal ni cerita.
March 10th, 2008 at 8:37 am
ah hahaha… Guh ngamuk… :lol:
itu kan kalo lagi pacaran, kalo udah nikah jgnkan cium, terjatuh aja sapaan mesranya “matamu taruh dimana”. hihihi… :mrgreen:
March 10th, 2008 at 8:39 am
ah hahaha… Guh ngamuk… :lol:
itu kan kalo lagi pacaran, kalo udah nikah jgnkan cium, terjatuh aja sapaan mesranya “matamu taruh dimana�. hihihi… :mrgreen:
March 10th, 2008 at 9:26 am
@CY: Guh gak ngamuk. He loves me. Tanya aja sama dia kalo ga percaya
March 10th, 2008 at 2:56 pm
huaaaaaaaaaaaaa…gak kuku…
sambung lagi kan????
March 13th, 2008 at 11:23 am
[...] imajinasi itu sebegitu liarnya menari-nari dalam kepala saya tetap saja saya belum bisa menulis. Cerita itu belum bisa berlanjut mbok. Maafken [...]
March 13th, 2008 at 5:33 pm
makin mantabbbb mbok!!! seruuuuu…
March 14th, 2008 at 12:59 am
deg deg syer bacanya
berharap yudis mo ngebalas
seru baca dari sisi cwe dan cwo
March 14th, 2008 at 8:21 am
saiaa nyambung disini kalo ga bagus maaph ya mbok,, hehehehe namanya juga iseng,, :mrgreen:
March 14th, 2008 at 10:31 am
Ternyata terus berlanjut ya .. selingkuhannya?? .. ttdj ya mbak.
March 15th, 2008 at 4:45 pm
lagi2 gagal orgasme
March 17th, 2008 at 4:26 pm
ManTABH!!!
April 2nd, 2008 at 9:37 pm
[...] ::bacaaan sebelumnya: #1, #2, #3, #4 [...]
April 29th, 2008 at 12:42 pm
Kelanjutannya gmana mb?
Salam kenal ya… tulisan-tulisannya kereeeeeeen
May 27th, 2008 at 12:06 am
[...] maaf* Ya ampun, Diiiisss…saya aja gak segitunya. Waktu nulis episode ‘Kalah’ memang sempet ngetik sambil nangis (serius, nangis!), tapi selesai nulis ya udah, saya gak mikirin [...]