“Setan”, umpatku pelan.
Sudah tiga jam menunggu, tapi laki-laki sialan itu belum menelepon juga. Kemana sih, dia? Perlahan kusingkirkan cangkir berisi kopi dingin yang masih tersisa setengahnya, dan menyulut jatah rokok terakhir malam ini. Aku sebal menunggu. Tiga jam, bayangkan. Dia berjanji langsung mengabariku begitu kereta api yang ditumpanginya sampai di Surabaya. Mestinya sudah dari tadi dia berada di rumah.
Lampu kamar sudah kumatikan, dan seluruh ruangan kini bertabur sinar berwarna kuning pucat dari lampu meja kecil di sebelah tempat tidur yang belum sempat kurapikan. Tepatnya, sengaja tak kurapikan karena aku selalu menyukai aroma keringat lelaki sialan itu yang masih menempel di sprei dan sarung bantal yang kusut masai berantakan, seolah sengaja ia tinggalkan di situ, menjadi semacam jejak atau apalah namanya. Aku menyukainya. Membaui sisa-sisa percintaan kami tadi malam membuatku merasa…..nakal. Merasa bergairah, dan karena sesuatu yang tak terjelaskan, membuatku merasa menang. Menang atas apa, siapa, atau untuk apa, entahlah.
Dan layar monitor yang berkedip-kedip di meja kerja di depanku tiba-tiba saja membuatku muak. Baru juga mau masuk bab dua, tapi semua inspirasi mendadak seperti diterbangkan angin entah kemana. Di kejauhan, teriakan penjaja nasi goreng langgananku terdengar semakin samar-samar. Aduh, jam berapa sih, ini? Kenapa dia belum menelepon juga?
“Setan”, aku memaki lagi. Kali ini hanya dalam hati.
Baru saja merebahkan diri di sisi kanan ranjang, sisinya, sisi di mana lelaki itu tidur dalam dekapanku semalaman dan mencoba membayangkan lagi sosok dan wajah lucunya yang mebuatku mabuk, tiba-tiba telepon genggamku berteriak nyaring mengagetkan dan membuyarkan gambar-gambar yang mulai tersusun di benakku. Dan sebelum dering kedua, aku segera menyambar dan menjawab tergesa.
“Halo. Bre? Udah nyampe? Ini lagi di mana?”
“Hai. Udah di rumah, Baby. Baru juga nyampe.”
“Yaela. Jam segini? Emang keretanya telat, gitu?”
“Gak, sih. Cuma tadi aku langsung ke toko buku, nyari kado. Besok Arimbi ulang taun. Lupa?”
“Oh, okay.”
Dia pasti mendengar nada cemburu dalam ‘oh, okay’-ku tadi. Biarin. Sebel.
“Nah kan…ngambek lagi deh. Udah ah. Cape berantem mulu.”
“Yeeeee….gila ya pake ngambek-ngambekan? Gak lah. Udah makan?”
“Udah tadi di jalan. Kamu udah makan? Gak boleh sakit. Inget yang aku bilang tadi pagi, kan? Jangan sakit. Ya sayang, ya?”
Aku tersenyum. Cara bicaranya yang lembut selalu membuatku meleleh, lupa akan sekian jam kegelisahan yang menyesakkan dan kejengkelanku saat mendengar dia menyebut nama Arimbi.
“Udah, udah makan sedikit. Dipaksain nelen daripada kamu omelin”
“Good. Udah ya? Besok kita ngobrol lagi. And baby….I love you”
“Love you, too. Bye, Bre”.
“Dan yang tadi malam, it was great”
“Haha…sialan. Udah, sana. Bye.”
Aku masih sempat mendengar tawanya di ujung sana sebelum kututup telepon dan bangkit untuk menyalakan lampu kamar. Perlahan kubuka jendela dan membiarkan udara malam yang basah menerobos masuk, memenuhi paru-paruku, menikmati rasa hangat yang membuncah setelah pertemuan kesekian dengannya. Perjumpaan yang hanya satu malam, selalu hanya satu malam yang kami curi dari hidupnya dan dari kehidupanku sendiri. Hah, aku tertawa pahit. Satu malam yang tak cukup panjang untuk menuntaskan rinduku, atau barangkali juga rindunya padaku. Tapi benarkah dia rindu? Benarkah bukan sekadar keinginan menggebu untuk bercumbu dan melumat tubuhku yang membawanya ke sini setiap dua minggu sekali, mencari alasan-alasan berbeda setiap kali kepada Arimbi, kekasihnya?
Bre. Bre. Aku membisikkan namanya berkali-kali dan merasakan sensasi aneh yang seolah menguar dari pori-poriku tiap kali aku mengingatnya.
Bre.
Ah, aku butuh kopi. Dan rokok, walaupun aku benci merokok setelah menggosok gigi sebelum tidur.
Yak. Cangkir kopi kedua malam ini. Atau ketiga, ya? Aku lupa. Hmmm……kopi dan rokok. Perfect. Kemudian kunyalakan CD player di sudut kamar, mengatur volumenya supaya tak terlalu merusak keheningan malam. Splender. I Think God Can Explain.
There’s a lot of things I understand
And there’s a lot of things that I dont want to know
But you’re the only face I recognize
It’s so damn sweet of you to look me in the eyes
It’s all right, I’m ok
I think God can explain
I believe….
Damn! Lagu favorit kami berdua, lagu yang membuatku menahan napas tiap kali mendengarnya diputar.
Tuhan, bisikku.
Tuhan, kalau Kau memang ada di atas sana atau seperti mereka katakan Kau ada dan mengalir di tiap tetes darahku, jelaskan padaku, apa rencana-Mu? Apa yang membuatMu memutuskan untuk membuat kami bertemu dan tak sengaja berkenalan di sebuah pusat perbelanjaan pada suatu senja yang merah di Jakarta? Kenapa Kau biarkan kami jatuh dalam sesuatu yang tadinya kami sangka hanya cinta sesaat tapi kemudian kami sama-sama terlambat menyadari bahwa kami telah terjebak dalam hubungan aneh, cinta yang aneh, yang serupa pusaran air raksasa yang menyedot kami dengan deras dan tiba-tiba ke pusatnya tanpa kami bisa melawan? Apa mauMu, Tuhan? Kalau memang harus menjadi perempuan pendosa, kenapa harus kepada Bre aku jatuh cinta? Demi surga dan neraka, tak Kau lihatkah, bahkan kami pun jengah dan membenci perbedaan yang terbentang tanpa ampun di antara kami? Tak mungkin Kau lupa bahwa aku perempuan empat puluh dua taun dengan suami dan kehidupan yang mapan dan dia baru akan memasuki usia ke dua puluh tiga beberapa bulan lagi, bukan?
Kuhirup tegukan kopi terakhir tepat saat kudengar suara musik lembut, sms alert dari telepon genggam di depanku.
“Baru nyampe bandara. Ada makanan di rumah?”
Suamiku.
**yudhis, ayo buruan lanjutin, ga pake lama! hyahaha…emang enaakkk????


ya ampuuun kok berenti disaat2 seru siiihhh
Ih sms itu ngganggu bgt yak!
gak berenti, jeng. ntar ada temen yang ngelanjutin cerita ini. tunggu aja
karaktere simbok banget deh
@epat: masa sih? ini pure ngayal sinting, lho
baru mau 23 tahun mbok?!?
gak sesuai perjanjian ni!!! mampus gw!! 
OK mbok, bisa dilanjutin…
setuju ama epat mbok.. karakternya mbok banget… pasti ini dari kisah nyata….
heheheheheheh
anyway, tag story ya mbok? ntar di gabungin yaaaaa.. biar pada bisa baca utuh di getooo..
@tukangkopi: matek! gyahahah…ayoooo hajar ajaaa….
@datum: kisah nyata? gak lah….
oiya, harusnya tagnya story yak? tenkyu2 !!
baca sambil nyeruput kopi instan
baca komen sambil minum diet coke. puwasssss bisa ngerjain si yudhis
Arimbi itu siyapa mbok???
@adit: pacar resmi si Bre
lanjutan kmrn mbok?
luv it
hahaha.. nice story then
sesuai dengan pengalaman hidup bgt
jangan lupa saling kirim trackback
biar pembaca ga kebingungan
@ G & edy: tenkyu!
eh, harus trackback2an ya? walah…..
kirain beneran lho.. sampe kaget saya.. gimana kalo suami si mbok baca postingan ini coba? hehehe.. ternyata ngayal.. eh apa bener ini ngayal mbok?
ditunggu kelanjutannya
pengalaman pribadi atau cuman cerita?
ahh.. sayah rindu sama yang bikin sayah meleleh ituh..
lalapane kriyus-kriyus mbok, kata iwan fals…obat awet muda
@jimmy, arul, kenny, tika: lhah, emang keliatannya beneran? astagaaaa….. yasudalah, terserah
bre??????? bre yg mana nih??? bukan bre redana kan???? bisa patah hati aku???
Mbok…bre itu nama panjangnya apa ??? brewokan ???hihihihi..
Mbak Venusss!!!!!!!!!!!
Kangen banget aku… sejak kapan nulis novel? Kapan terbit? Kolaborasi yuk!!!! ;P
@mayssari: halah, mana berani aku sama kamu, may? ini juga cm iseng bermasturbasi berdua sama si tukangkopi. kita nulis buat seneng2 aja kok
wah…ini bisa diangkat jadi sinetron nih mbok..
atau film layar lebar sekalian..
keinginan terpendam inih, bener2 ini… doyan brondong yah mbok?!?! wanna join da club???
saya kawatir Yudhis ga akan ngelanjutin dalam 3-5 hari ini ..
dia lgi sibuk ngurusi pesta wisuda,
dan mencari PW, Mbok ..
PW = Pendamping Wisudawan
..
kasian yg joomlblo .. raja minyak kok jomblo …
*siul2
Buset, baca ceritanya bikin nahan napas untuk beberapa saat, ckckckckckckck….-kagum-
@ dewi: enak aja! brondong??? GA MAU!!! emang elu???
*sungkem ke cowonya dewi, hyakhakhak…
@leksa: yudhis janjinya paling telat malem ini udah kelar episode selanjutnya
saya pernah kenal wanita dengan nama Arimbi, dulu di sby seorang pelacur yang baik, menjadi sahabat saya, tanpa nafsu dan sex. Miss U Arimbi, u teach me about life.
btw, Mbak ceritanya asyik banget … mengalir, pesan yg disampaikan apa ya ? hehehe, tp perlukah ada cerita dgn pesan ya ?
@leksa
kurang ajar kau Leksa!! tapi bener juga, gw gak punya PW
Wahh..merusak suasana..anuu..itu penggambaran membaui sisa-sisa percintaan semalamnya, sekali lagi.GUWAH BANGET!!Hahahaha..
lantas suamimu itu kau buatkan makanan nda mbok? he3
lanjoot mbok?
@tukangkopi: PW? mau saya carikan apa yudh, ato malah saya dampingin? wuakakakakakakakaka
sialan bikin penasaran tau gak! emang ya jagonya venus gicuuu…
kau layak menerbitkan buku, novel kali. ayo kemon…aku tunggu!
*penasaran nungguin lanjutannya*

simbok menyiapkan novel !! habis itu difilmkan !!! semoga selaris “ayat-ayat cinta”
Kereeeen !
Ayo lanjut mbok…
She is back!!!!
simbok, coba kau kirimkan cerita ini ke redaksi majalah Femina. pasti langsung dimuat. kujamin!
Walah….
segera meloncat ke om yudhis..
ga bisa berkata-kata dech…
ceritanya keren banget…jadi ingettt!!! ups!!!
oiyahhh mampir dulu ke Tukangkopi abis ini ahhhhh
terbitin…jadi bukuuuu…hihihihi…..asyemmm ik…mbikin nahan nafas
@komikus keren: iya tuh, dari kemaren gw udah nyaranin gitu. ini kan fiksi…!
oh iya, mbok…gw belajar jadi editor nih…
kalo cerita ini sambungan dari no title kemaren, agak2 janggal dengan lokasi cerita. kemaren di hotel ketemunya, kali ini di rumah. apa ketemunya emang dua kali? tempat tidur yg belum dirapikan di kamar ini adalah bekas pertemuan yang beda ma di no title?
oh iya, untunglah ini tak mirip PRIME
xixixi… atau pedhopil? hahaha
welahh..akhir cerita ngagetin pollll!!!! ternyata masih brondong..weleh..lanjutannya d tempatnya sapa nih???
aku ketokke gak melok mbok, awakku pileren =(
@yati: beda lagi, nyah. kan mereka sering ketemu, dan pindah2. kali ini si bre dateng ke rmh si perempuan pas suami perempuan itu pergi ke luar kota. tenkyu ya
asli keren mbok…lanjutin..lanjutin, dan kalo dah terbit bukunya aku dibagi yak..muah
Ceritanya… Gaya menulisnya… Mengingatkan aku sama seseorang,mbok…
lega… ternyata cuma fiksi.

ayo, buruan jadiin novel!
*ngarep*
tp ok banget kok, mbok…
aku dapet yg gratisannya, ya…
kapan diterbitin nih, asyik lho ceritanya, seruu !
Kyaaaaaa… Mantabh mbok XD XD
Ayo, lanjutin yud~
wah… imajinasi hebat mbok!
ada kopi, rokok, sex, desahan manja!
jadi ini toh komposisinya!
menjura! dahsyat… “hidup” dan tak membosankan. nulis terus aja mbo, tapi jangan di publish di blog langsung kirim ke media/ penerbit aja haha…..
mau fiksi mau nggak, nggak peduli.sumpah ini keren banget. hidup banget, ga bosenin, wah bangga banget tuh yang dikerjain simbok, terus mbok ..
[...] sebaiknya baca ini juga biar [...]
makasih makasih makasih! tapi tau gak sih? kalian semua sedang bersenang2 di atas penderitaanku. ini lagi mumet mo nulis apa lagiiiii…
puwas ya??? puwas liat saya nervous gini???
ooo dadi iki tulisan wong mumet plus nervous tho? pantes pesi…endi onok bakul nasgor dodolan bengak bengok
emang begitulah cinta deritanya tiada akhir :mrgreen:
*pengikut patkay*
lanjut…lanjutin!
nuggu nih teu
lucu deh curhatnya kayak ceritaan novel.. (apa emang ceritaan?) hehehe..
salam kenal ;P
Wohohoho… dua maestro bertarung, Venus vs Coffee maker asiiik..
*gelar tiker*
TUHAN : Lha.., ente berdua yg ngelanjutin momen itu sampe ke backstreet kok Aku yang ditanya apa rencanaKu, piye tho?? selesein sendiri sanah…
*Tuhan mode off* :mrgreen:
mbok .. digawe novel ae mbok.. keren, ringan menarik
hihihi ayo lanjud mbok..
*nyimak*
Weallah baru tahu kalau postingan di tukang kopi adalah umpan dari sini. Terusin lagi, mbok
wah bisa begitu yah…
huhuhuhu
manteblah…….
dua jagoan bergabung membuat cerita yang nyambung
keren ih,
*backsound dr cerita diatas*
krik..krik..krik.. ( suara kodok eh salah , suara jangkrik )
dug..dug jreng… tung tung des, klontang dhuar, deg deg thak…
whuaaaaa *suara khas penyanyi aliran underground*
>> kaborrrrr
sementara itu seorang ependi datang. Dengan suara yang seolah-olah syahdu, namun memekakkan telinga, dia menawarkan barang dagangannya. ada tissue basah, permen basah, rokok basah, arem-arem basah, akua basah, mison basah, yang jelas semua yang basah-basah. Kenapa dia menjajakan barang yang basah? karena kata basah berakhiran ah. dan ah itu lebih nikmat daripada an…. mungkin itu juga kenapa ada orang bernama diah dan dian.
/* nggak nyambung ya? kabooorrr…..
keren mbok!! ikutan dooong,, boleh kah??
keren..
cerita yang wajib di ikuti
*usia 18 mendatar boleh ikut baca ndak?*
[...] #2Â Â Perempuan Kedua [...]
yah.. gagal orgasme…
Lam kenal mb, Ceritanya kereeen… lanjuut lanjuuut
[...] #1: cerita kemarin #2: perempuan kedua #3: senja di atas kereta #4: kalah #5: selamat ulang tahun, arimbi. aku pergi #6: selamat ulang [...]