aku pergi, bintang
meski pernah kujanjikan kita tak ‘kan saling kehilangan
maaf harus menyerah
pagi ini mataharimu patah
aku pergi, bintang
meski pernah kujanjikan kita tak ‘kan saling kehilangan
maaf harus menyerah
pagi ini mataharimu patah
Saya culik dari rumahnya di Bogor sana, Ghilman nginep di rumah saya empat hari empat malam. Keliatannya sih dia betah. Males-malesan, main PS dan nonton tivi, begadang tiap malem, bangun siang, jalan-jalan dan nonton Alien vs Predator 2 yang ratingnya ‘dewasa’ (tapi kata mereka ‘FILMNYA KEREN BANGET’. d’oh!), main bola di kamar precil-precil. Kemaren siang anak itu dijemput bapak ibu dan kakaknya.
Lumayan ya, Ghil….setidaknya empat hari kamu gak berantem sama mas Adri dan otomatis terbebas dari ancaman DILEMPAR KE TEMBOK, kan?
Makasih, mas Mbilung, anaknya boleh saya bawa.
Kesalahan terbesarmu adalah, kau mengira pengkhianatan adalah semata-mata perkara laki-laki lain yang kau ijinkan memasuki tubuhmu, membuatmu terengah kepayahan menahan teriakan sesaat sebelum orgasme kesekian. Padahal saat kau membiarkan pikiran tentangnya menguasai benak, membuatmu berkhayal tentang pertemuan-pertemuan rahasia, menyita dua puluh empat jam waktumu setiap hari dengan kebodohan memalukan seperti menggumamkan namanya dalam hati di setiap tarikan nafasmu, aku menyebutnya juga pengkhianatan.
Tapi begini. Coba kita lihat dari sudut pandang yang sedikit berbeda. Bagaimana kalau laki-laki kedua itu yang memulainya, menawarkan mimpi, debar-debar, manisnya bahaya dan berjudi dengan kemungkinan-kemungkinan? Atau barangkali mereka hanya menginginkan sedikit petualangan, menikmati momen-momen sederhana, beberapa jam kebersamaan yang bukan sepenuhnya milik mereka tapi menyenangkan karena mereka tau mereka selalu bisa saling menjaga dan membahagiakan, berpura-pura bahwa hidup tak sepahit kau bayangkan dan setiap saat mencari pembenaran, menganggap semua orang layak sesekali mendapat secuil kesenangan? Kau tak pernah tau, bukan?
Sekadar mengingatkanmu, kawan. Perempuan itu tidak berdansa sendirian.