Repost. Percakapan saya dengan seorang kawan, setaun yang lalu.

beberapa saat sebelum tengah malam…

saya: pernah gak, tiba-tiba merasa pengen mati aja?
dia: pengen mati? pernah. tapi terlalu pengecut untuk bunuh diri.
saya: capek, merasa kosong, bodoh, dan gak pengen apa-apa lagi.

……………..

saya: ada gak sih, cara bunuh diri yang prosesnya cepet, gak sakit, dan tetep keliatan cantik?
dia: ada, pake suntik aja. kan bisa pasang senyum manis sebelum mati. tapi jangan suntik KB ya..hehe…ono opo kiiiy?
saya: gpp. cuma lagi sedih dan pengen mati. i’ll be fine. thx, wi. g’night.
dia: i know u’ll be fine. syukurlah kita ini pengecut, yang mau gak mau musti berjuang selama masih hidup. karena memang kita tak punya kuasa untuk sebuah akhir. jangan berhenti, bu !

saya tau saya tak boleh berhenti. saya cuma ingin pergi menjilati luka sendiri. sehari, dua hari, tiga hari. mungkin saya akan kembali. siapa tau…

*makasih banyak buat dewi, perempuan di penghujung hari.

dewi1.jpg

dewi2.jpg

Begitulah. Setaun yang lalu saat saya merasa berada di salah satu titik terendah dalam hidup (di antara sekian titik yang lain, sebagian terekam sebagian lagi terabaikan), perbincangan aneh dan horor itu terjadi. Barangkali ini juga yang membuat saya selalu mencintai perempuan ini. Dan perjumpaan dengannya kemarin sore, seperti sudah saya duga, telah menutup dengan indah hari saya yang berantakan. One perfect happy ending.

Makasih banyak, Dew. I love you…