Tadi malam di UGD rumah sakit deket rumah. Sambil nunggu resep, saya ngobrol sama precil-precil. Tibatiba sebuah mobil warna biru tua berhenti di depan pintu masuk ke ruang UGD. Beberapa orang turun, tergopoh-gopoh menggotong seorang pemuda yang kelihatannya pingsan, kemudian menaikkan tubuh pemuda itu ke brankar. Gak berdarahdarah, cuma ada sedikit luka sobek di dahinya. Ranjang dorong itu kemudian dibawa masuk ke ruang gawat darurat, dan kerumunan pun bubar. Beberapa orang, mestinya teman si pasien, ikut masuk. Beberapa menit kemudian, seorang anak muda keluar dari ruang periksa sambil mengusap matanya. Duduk di sebelah saya dan mulai menangis sesenggukan. Beberapa orang kemudian masuk bergantian ke ruang dokter dengan wajah tegang dan bertanya-tanya. Seseorang lantas sibuk dengan telepon genggamnya, mungkin menghubungi keluarga atau teman mereka.

Tak lama, pemuda yang tadinya saya kira pingsan, dibawa keluar di atas brankar yang sama, dengan tubuh ditutup kain putih bersih dari kepala ke ujung kaki.

Dan tangis pun pecah. Pemuda-pemuda tanggung itu, beberapa di antaranya berdandan funky dengan topi, celana selutut atau jins sobek, anting2 di telinga, piercing di hidung, tak kuasa menahan tangis. Lagi, seseorang harus pergi. Di usia yang begitu muda, taksiran saya paling dua puluhan umurnya, mungkin bahkan belum dua puluh.

Karena gak tahan, saya tanya petugas keamanan yang dari tadi mondarmandir di situ.

“Kecelakaan ya, pak? Naik motor?”

“Iya, bu. Naik motor, nabrak truk yang lagi berhenti di pinggir jalan.”

Saat jenazah lewat di depan saya, saya cuma terdiam, menyebut sang Khalik dalam hati, menangisi pemuda yang tak saya kenal, yang harus pergi di usia semuda itu. Dan teman-temannya masih bergerombol, sebagian terisak sebagian lagi diam tanpa suara.

Seberapa dekat kita dengan kematian?

*maafkan tanda baca dan typo. posting ini pake henpon di kamar mandi mumpung msh terbayang dengan jelas yang terekam tadi malam.